BAGIKAN

Sebagai mahasiswa semester sepuh (tua) seringkali saya mendapat gangguan-gangguan yang menyebalkan dari makhluk halus kawan-kawan yang telah lulus, maupun adek-adek tingkat. Entah yang berada dalam suatu organisasi ekstra, maupun intra kampus.

Setiap kita sedang berkumpul atau ngupi pistipis, yang paling menyebalkan adalah ketika topik perbincangan tiba-tiba mengarah kepada sakaratul maut skripsi. Padahal tujuan awal kita berkumpul adalah untuk refreshing, menyegarkan pikiran. Biasanya berdiskusi tentang isu-isu hangat yang sedang ramai dibicarakan alias ghibah berfaedah, semisal membicarakan berita bambang tamvan yang sedang menghadapi cobaan sariawan di bulan puasa. Ketika asyik-asyiknya, tiba-tiba ada hidayah yang muncul entah darimana membuat obrolan beralih kepada skripsi, ramashoookk. Obrolan ini tentunya akan menghujani ejekan-ejekan kepada kita para pejuang skripsi, haaassshhh.

Mereka melontarkan ejekan-ejekan mengenai objek penelitian apa yang akan saya ambil, sejauh mana saya mengerjakannya, kapan saya menyelesaikan tugas akhir, bahkan mengomentari pilihan hidup saya alih-alih memberi semangat. Di benak yang paling dalam, saya mengatakan “Kowe rangerti persoalanku hasuh!”. Tapi kita memilih diam dan legowo, sebagai bentuk bahwa pasukan semester tua merupakan manusia yang paling kuat dan sabar menghadapi cobaan di dunia, dong. Ya, diam merupakan keputusan bijak sebagai matu, alias mahasiswa tua, yang menunjukkan bahwa lulus terlambat bukan berarti menjadi bodoh dalam segala persoalan.

Terus-terusan diam bukan menjadi satu-satunya solusi ternyata. Nah, saya dan admin twitter @siksakampus sempat bercuit masalah ini. Namun hanya poin-poinnya saja. Berikut, saya akan menjabarkan jurus jitu bagaimana cara untuk menghindari obrolan-obrolan skripsi yang menyebalkan.

  1. Pasang Poker Face

Ketika menghadapi obrolan menyebalkan soal skripsi, hal pertama yang bisa kita lakukan adalah memasang poker face alias wajah swantai saja. Ini merupakan jurus pertama yang membuktikan bahwa kita, para mahasiswa tua adalah manusia yang paling sabar di dunia. Sesungguhnya tuhan bersama orang-orang yang sabar (Qs Al-baqarah : 153).

Selain sebagai cerminan orang yang sabar, memasang poker face juga untuk menjaga tali silaturahmi. Coba kalau semisal kita memasang wajah marah mungkin mereka akan berprasangka “Tidak bisa diajak bercanda, hih”. Dan pastinya akan berdampak buruk bagi pertemanan kita dong, jadi gapernah diajakin ngupi-ngupi lagi deh, dan kita jadi kesepian. Udah jomblo, gak ada yang ngajakin ngupi pulak, hufth.

  1. Tetap Hargai Mereka

Menghargai mereka adalah jurus nomor dua, bukan lantas mereka dikasih daftar harga alias bandrol lho yaa, haaaassshhh. Menghargai mereka adalah wujud nyata menerapkan kebebasan berpendapat dan berekspresi dari lingkup sederhana, lingkar pertemanan. Biarkan mereka bicara dulu, lalu cari waktu tepat untuk menanggapinya dengan baik dan santun. Jangan seperti mereka yang suka tiba-tiba membubarkan kegiatan diskusi dan main hakim sendiri tanpa tau isi diskusinya seperti apa. Semisal pemutaran film Sexy Killers karya Watchdog yang lagi hangat-hangatnya diperbincangkan. Di Desa Mekarsari, Kecamatan Patrol, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, sempat dihentikan paksa oleh Panitia Pengawas Pemilihan Umum dan polisi karena dituduh menyebarkan kebencian. Karena bisanya memang menuduh, tidak mau ikut nonton sampai habis dan ngikutin diskusi. Padahal kan filmnya di youtube juga jadi trending topic. Postitif thinking aja, mungkin mereka yang bubarin iri karena tidak diundang, hehe.

  1. Mendiskusikan Buku yang Terakhir Kita Baca

Hennahhh ini adalah jurus ampuh untuk mengalihkan perhatian. Kita coba untuk membuka diskusi kecil tentang buku yang terakhir kita baca. Selain untuk mengalihkan perhatian, membuka diskusi kecil tentang buku bacaan juga sebagai bukti bahwa kita para mahasiswa tua tidak lantas menjadi tua dan usang, melainkan tambah tua semakin luas wawasan kita dong. Berdasarkan survei yang dilakukan organisasi Persatuan Bangsa Bangsa lebih tepatnya UNESCO, menunjukan bahwa minat membaca masyarakat Indonesia lebih rendah diantara penduduk negara-negara ASEAN lainnya. Hal ini salah satunya dapat dilihat dari sedikitnya pengunjung perpustakaan nasional, toko buku, dan taman baca yang ada. Jadi positif thinking aja teman-temanmu adalah lawan diskusi yang minat bacanya sedikit. jadi kita bisa terlihat seperti perpus berjalan dong, hiyaaa.

  1. Pinjam Duit

Ini adalah jurus terakhir ketika kawan-kawanmu masih kekeuh membahas persoalan skripsi. Pinjam duit ke mereka, pasti auto mingkem.

Nah, itu adalah beberapa cara untuk menghindari obrolan sakaratul maut skripsi yang menyebalkan, yang telah kita diskusikan dari cuitan di twitter. Semoga berguna untuk kalian yang sedang berjuang mendapatkan gelar sarjana tapi males dijadikan topik perbincangan. Kita berjuang bareng yaa, bhaaaakkk~