BAGIKAN

Kali pertama mengenal aplikasi WhatsApp setelah mempunyai perangkat Android. Lantaran hape tulalit saya dulu tidak mampu dipasangi aplikasi berbasis chat tersebut. Sebuah kemajuan yang terlambat bagi saya untuk bisa disebut kekinian di tengah tuntutan semangat zaman yang ‘revolutif’. Alasannya demi memegang teguh prinsip kegunaan handphone terbatas pada short message service (SMS) dan telfon. Pada waktu itu saya menuduh perangkat Android sebagai jalan mempermudah mengakses film esek-esek setelah warnet. Lebih banyak merugikanya daripada menguntungkan bukan?

Saya mempunyai beberapa bukti ingatan atas kerusakan yang ditimbulkan aplikasi WhatsApp. Kami yang sering melakukan tatap muka menjadi berkurang. Perasaan kasih sayang terbatas pada emot-emot cium atau hati. Bahkan pada masa awal mempunyai WhatsApp, saya dan teman-teman sibuk mengirim screenshot foto perempuan ‘cantik’ dari Instagram. Parahnya, kami saling mengirim potongan video mesum atau gambar horor. Tiada tujuan lain agar kami masuk dalam golongan orang-orang ‘kekinian’ yang ‘jahil’.

Golongan ini selanjutnya menjadi pelaku aktif dalam fenomena klik, like dan share. Mereka melumat segala informasi yang tersebar di media sosial. Dengan fitur broadcast dan grup, distribusi informasi semakin tak terbendung. Anehnya hal ini tidak dianggap sebagai musibah atas banjirnya informasi. Sebaliknya, mereka melakukan euforia dengan menjadi pelaku aktif dan militan dalam membagikan segala informasi yang tersebar di media sosial. Terlepas dari benar atau tidaknya suatu informasi itu.

Belakangan ini setelah saya bertemu dengan beberapa teman baru dan membaca etika menggunakan media sosial menurut Nukman Luthfie seolah mendapat pencerahan. Pesan Nukman kepada warganet ketika menggunakan media sosial, harus ingat bahwa dirinya sedang berada di ruang publik. Apa yang dibicarakan di media sosial akan mendapat respon dari warganet yang lain. Jika memberikan informasi yang salah terhadap warganet bukankah dia menabung kejahatan? Katanya takut dosa?

Berbeda dengan warganet yang tergolong baru. Mereka sedang keranjingan dengan hebatnya teknologi. Gumun dengan satu klik sudah bisa sampai di negara lain. Golongan ini saya identifikasi sebagai para penghuni grup WhatsApp di desa. Mulai dari kelompok pemuda, tua, sampai grup keluarga. Dari semua grup yang berbeda-beda itu ada satu hal yang sama: para penyebar berita hoax dan kebencian. Buat warganet yang belum tercerahkan, saya akan berbagi tiga tips mencerahkan buat kalian:

1. Kekuasaan

Bagi warganet yang menjadi admin grup disusupi penyebar hoax dan kebencian atau SARA, kamu bisa mengingatkan esensi terbentuknya grup tersebut. Kecuali grup yang kalian ikuti memang mempunyai visi dan misi sebagai penyebar hoax dan kebencian. Jika tidak bisa berhenti dan tetap membagikan informasi hoax dan kebencian, kamu sebagai admin bisa mengeluarkan mereka. Gampang kan?

Jika bukan admin melainkan sebagai anggota yang dianggap berpengaruh lantaran kharisma, misalnya, dalam grup itu gunakanlah. Ajak anggota grup untuk lebih skeptis atas suatu informasi. Saya masih percaya, bahwa orang berpengaruh mempunyai daya tawar untuk mempengaruhi. Lah, berpengaruh pasti sebagai sebab panjangnya jam terbang memengaruhi orang to? hemmm~

2. Diskusi

Lain cerita jika kamu sebagai kaum intelek. Ajaklah anggota grup untuk menggunakan gawainya mencari sumber informasi yang sedang beredar di media sosial. Jika bentuknya artikel kalian bisa mengajak anggota untuk mengkopi sebagian atau seluruh artikel lalu ditempel pada address bar. Bisa juga menggunakan plagiarism chekcer mengingat banyaknya website penyedia jasa cek konten. Biar para anggota terbuka mata dan hati segenap jiwa raga atas kebenaran suatu informasi.

Sedangkan informasi yang berbentuk foto kalian bisa mengajak para anggota mengecek kebenaran foto itu di internet. Ingat, internet menyediakan segala informasi yang kamu butuhkan. Begitupun dengan informasi yang berbentuk video. Romantis bukan?

Lakukan diskusi dengan penyebar berita hoax dan kebencian dalam grup. Minta mereka membeberkan sumber informasi yang dimiliki. Tujuan utama agar grup yang kalian ikuti menjadi lebih berguna karena segalanya bisa dipertanggungjawabkan dengan data maupun fakta.

Setelah tahap diskusi kalian lakukan, para anggota grup akan tahu kualitas kalian sebagai kaum intelek. Kalian bisa memprediksikan sendiri, informasi mana yang berkualitas dan tidak. Tahu siapa saja anggota grup yang suka menyebarkan informasi hoax dan kebencian. Jika hal ini berhasil, kalian bisa melakukan agenda pada jenjang berikutnya: kopi darat (kopdar). Menjadi penting kopdar dilakukan. Selain mempererat hubungan silaturahim antar grup, kalian bisa merencanakan agenda-agenda revolusioner. Mengingat sedikitnya aplikasi chat yang sudah tidak aman dari pihak ketiga atas informasi pribadi yang kita miliki. Jika beruntung, kalian para jomblo bisa dapat pasangan melalui kopdar sesama grup WhatsApp. Varoqa nget!

3. Doa

Ini bukan doa akbar yang diselenggarakan para politisi untuk melebarkan sayap pengikut. Melainkan doa agar para penyebar hoax dan kebencian segera mendapat petunjuk agar taubat. Tentu dengan catatan bahwa dua usaha di atas sudah dilakukan. Hal ini untuk meredam emosi kalian sebagai pembimbing kaum-kaum bigot bebal lagi barbar penyebar hoax dan kebencian. Tidak disarankan bagi kalian keluar grup dengan pertimbangan rasa kasihan terhadap kaum-kaum lain. Guna meminimalisir jumlah bigot-bigot baru dalam grup WhatsApp.

Sebelum memulai tiga tips mencerahkan ini, alangkah baiknya kalian awali dengan niat jihad memerangi penyebar hoax dan kebencian. Dengan begitu, hidup kita kan damai kek di pantay. Betewe terkait doa yang saya maksud, menengok kamus Indonesia, adalah permohonan kepada tuhan. Tentang tafsir tuhan beragam. Seperti teman saya yang mengganggap uang adalah tuhan.

Selamat menikmati dag-dig-dug janji politik setelah menyaksikan pilgub serentak di tanah air.