BAGIKAN

Pada suatu hari, saya kelaparan di kost dan hampir mati. Uang bulanan saya hanya tinggal 10.000 (Rupiah bukan dolar) setelah dibuat ngewarnet. Teman saya datang seperti malaikat, dengan senyum di wajahnya, ia  mengajak saya mencari makan (bukan mencari secara harafiah).

Mulailah perjalanan cukup panjang, melewati Jawa, Karimata dan mendaki Semeru dengan aspal berlubang-lubang. Tapi itu semua nama jalan ya, bukan nama Pulau atau Gunung.Sampai di tempat makan saya disambut dengan semerbak bau tidak mengenakan. Ternyata di samping warung ada kandang ayam.

Teman saya memesan, “Biasa, Bu!”Ha? Biasa? Emang ada yang spesial pake telur gitu? Kami harus menunggu lumayan lama, bau semerbak itu muncul lagi tapi penciuman saya tidak peduli karena lapar. Hingga nasi bungkus seharga 5000 akhirnya kami bawa pulang ke kost.

Sampai kamar, saya memulai ritual makan. Membuka bungkus makanan, nyalain kipas, buka laptop, buka Youtube, lihat channelmukbang, biar tambah nikmat, hehehe. Saat dibuka, bungkusan makanan tadi keluar gumpalan kuning tebal disertai sayur, terong dan sambal. Saya curiga jangan-jangan gumpalan ini daging makanan sisa, karena harganya sangat murah. Coba saya tekan-tekan, kok melawan, kenyal. Coba saya gigit, terasa seperti telur. Makin penasaran, saya teriak-teriak dari kamar dan tanya teman saya ini apa? Dan dia bilang itu karpet telur tepung. Oalah telur tepung ternyata.

Kejutan tidak sampai disitu, saya muluk nasi dan saya cocol dengan sambal. Saya kaget lagi dan teriak-teriak dari kamar, tanya teman saya apa nasinya ini belum dimasak? Teman saya bilang emang itu ciri khasnya. Oalah gitu toh.Saya pun lanjut makan, porsinya banyak. Mengenyangkan.

Itulah perkenalan pertama saya dengan tempat makan khas telur tepung. Tempat makan ini pun jadi langganan. Dua hari sekali saya pergi ke sana. Bagi mahasiswa makan apa pun yang penting banyak dan murah pasti lahap-lahap saja. Jangan lupa halal itu yang paling penting, saya masih takut dosa.

Sejak jadi mahasiswa baru sampai semester tiga saya jadi pelanggan setia. Bahkan pernah sehari makan tiga kali di tempat yang sama. Seiring waktu saya mulai tahu maksud dari kata “biasa” yang disebutkan teman saya dulu. Ternyata biasa itu untuk takaran beras nasi yang mau dibeli. Selain biasa di situ juga ada porsi jumbo dengan nambah 1.000 dan porsi super jumbo dengan nambah 2.000. Di sana juga disediakan pernak-pernik pelengkap makanan seperti gorengan, tempe, tahu dan bakwan. Oh ya, saya sampai lupa beritahu kalo nama warungnya adalah WARUNG PAK EDI.Usut demi usut ternyata Pak Edi sudah masyur seantero jagat makanan permahasiswaan di Jember.

Petaka terjadi pada pertengahan semester tiga, November 2018. Secara mengejutkan Pak Edi tutup tanpa keterangan lebih lanjut. Seperti halnya perpisahan dengan teman dekat, dilema dan kesedihan bagi saya dan teman-teman. Sumber karbo gizi kami menghilang. Sampai-sampai seminggu sekali saya menghampiri kedainya, membawa secercah harap atau petunjuk pertemuan dengan telur tepung. Tapi tidak ada tanda-tanda. Sampai akhirnya setelah satu bulan saya menyerah dan mulai mempersiapkan obat-obatan (bukan narkotika) penahan lapar demi menyambung hidup sampai lulus 3,5 tahun di kampus tercinta.

Suatu hari di situasi yang sama seperti dulu, kelaparan hampir mati, malaikat yang sama membelikan saya nasi bungkus. Saat buka bungkusan, isinya nasi, telur karpet tepung goreng, sayur, dan sambal. Saya bahagia dan langsung tanya ke teman saya, apa pak Edi buka lagi, “Enggak itu Pak Edi II,” jawabnya.

Keesokan harinya saya minta tolong antar teman saya untuk beli makan di kedai Pak Edi II. Perjalanannya sama, melewati Jawa, Karimata, tapi tanpa harus ke Semeru. Yang jual seorang ibu-ibu. Lapak di pinggir jalan, jualannya sama seperti Pak Edi. Belakangan saya tahu, namanya Bu Lemes. Entah kenapa dipanggil Bu Lemes.

Saya pun memutuskan beli satu di bungkus. Harganya sama, 5000. Beda dengan Pak Edi, nasi Bu Lemes, seperti namanya: lemes. Nasinya lembut dan punel. Telur tepungnya secara fisik sama seperti telur karpet tepung Pak Edi. Tapi kurang ada sensasi kremes atau krispi dari tepugnya. Betul-betul lemes. Saya menamainya telur tepung versi 2.0. Selebihnya sambal dan sayur, sebelas dua belas dengan pak Edi.

Teman saya kembali menemukan tempat makan baru.Dengan menu yang sama, hanya beda di bagian sayur. Pak Edi biasa menggunakan daun singkong sedangkaan versi III menggunakan nangka atau kacang panjang. Tempatnya dekat pertigaan Jalan Semeru. Ia berada di antara Pak Edi dan Bu Lemes. Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Jember biasa menyebutnya Pak Edo, tapi teman-teman saya bilang itu Pak Edi III. Inilah telur tepung versi 3.0.

Dari ketiga versi ghaib warung Pak Edi di atas, masih ada warung ghaib lainnya yang berlabel Warung Pak Edi IV. Warung yang satu ini tidak terlalu jauh sama Pak Edi II atau Bu Lemes, yakni behadap-hadapan dan hanya dipisah Jalan Karimata.

Dari ketiga versi di atas, saya katakan Pak Edi IV ini adalah versi paling manusiawi. Telur tepungnya yang paling berasa telurnya.  Tapi kalian siap-siap kecewa karenadari segi porsi kalah sama versi Pak Edi yang lain. Meski kalian tetap membayar dengan harga yang sama.

Di warung-warung ghoibpak Edi juga dilengkapi pernak-pernik pelengkap makanan yang sama, dari tempe, tahu isi, atau dadar jagung. Plusnya pak Edi IV telurnya juga disajikan sebagai pelengkap karena kita bisa ngambil sesuka kita (walaupun nggak bakal) layaknya gorengan.

Dari segala kekurangan dan kelebihan Pak Edi IV, warung ini yang memberi penjelasan rasa telur. Karenanya inilah telur tepung versi 4.0.

Sederet penemuan telur tepung inilah yang banyak menolong saya. Tak perlu lagi bingung mencari makan dengan uang 5000. Karena barisan Pak Edi siap melayani. Kalau bosen makan beras nasi dan telur tepung, kan masih ada Indomie kok masak di magiccom.