BAGIKAN

Beberapa minggu yang lalu saya ikut dengan teman-teman dari aliansi solidaritas Rembang Yogyakarta (ASR-Y) membentuk sebuah lingkaran di perempatan tugu. Masing-masing membawa rontek yang berisikan dukungan terhadap ibu-ibu dan petani Rembang yang mendirikan “tenda perjuangan” di depan Istana negara. Aksi massa menutup mulut dengan lakban hitam, sebagai simbol bisunya aristokrat di negeri ini.

Sebelumnya hampir 2 tahun ibu-ibu di Rembang telah mendirikan “tenda perjuangan” di depan pembangunan pabrik semen di Rembang yang dijaga ibu-ibu secara bergantian. Tuntutan mereka intinya adalah “Menolak pendirian pabrik semen di daerah Pegunungan Kendeng”. Namun sepertinya aristokrat di negeri ini terlalu malas membaca persoalan di negeri ini, walaupun katanya presiden Jokowi hobi sekali blusukan. Tapi entah dia malah keblusuk ke mana.

Mulai dari berdirinya “tenda perjuangan” yang dulu masih disebut tapal pabrik. Hingga pembangunan pabrik yang sudah 80%. Tetap saja belum ada sikap yang jelas dari pemerintah pusat maupun daerah.

Warga yang mencoba memboikot truk material pembangunan pabrik, ibu-ibu rembang yang menggruduk UGM, hingga pengecoran kaki ibu-ibu Rembang dan bentuk-bentuk perjuangan lainnya, yang tak bisa saya ingat, semuanya masih saja tidak menarik perhatian para birokrat untuk menyelesaikan persoalan tersebut.

Setiap pergerakan yang dilakukan para petani Rembang selalu muncul di lini masa sosial media saya. Tapi entah kenapa para aristokrat kita tidak pernah tahu, atau berusaha menutup telinga dan mata mereka. Kemungkinan lain, pemimpin di negeri ini tidak update informasi terkini, sehingga berlagak tidak tahu.

Padahal si cantik Dian Sastro Wardoyo sudah datang menemui ibu-ibu yang ada di tenda perjuangan. Sayang, kedatangan Dian Sastro Wardoyo tidak mengubah apa-apa. Pembangunan pabrik tetap berjalan. Dian Sastro buka gubernur Jawa Tengah. Dian juga bukan pemilik modal di pabrik Semen Indonesia. Jadi apalah artinya kecantikan Dian Sastro.

Terakhir, perjuangan petani Rembang dilanjutkan dengan mendirikan tenda perjuangan di depan Istana Negara. Tujuannya masih sama. Menuntut agar pabrik semen tidak didirikan di Pegunungan Kendeng. Tetapi mereka fokus pada tuntutan untuk mengkaji Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) lebih serius. Petani Rembang menilai bahwa AMDAL yang telah ada hanyalah bentuk legitimasi pembangunan semen.

Bagaimana bisa Heru Hendrayana mengatakan penampungan air dan daerah-daerah resapan air seperti Watuputih tidak apa-apa untuk ditambang. Dosen UGM tersebut menyatakan bahwa karst-karst yang Akan ditambang oleh pabrik semen tidak akan mempengaruhi sumber air. Padahal jika kita menggunakan logika sederhana saja karst merupakan tadah tampungan air, meskipun di luar terlihat gersang.

Hingga pada akhirnya para petani Rembang harus mendirikan tenda perjuangan di depan Istana Negara agar Jokowi mau menemui para petani Rembang. Pemimpin di negeri ini sepertinya memang sudah sangat manja dan minim inisiatif. Sampai-sampai rakyatnya yang harus datang kepada pemimpin untuk meminta kejelasan.

ASR-Y yang berisikan kalangan mahaiswa di Yogyakarta merupakan bentuk dukungan terhadap perjuangan petani Rembang. Sampai akhirnya, para petani Rembang diterima langsung oleh Jokowi.

Jokowi yang akhirnya mau berdialog dengan para petani Rembang bukan semata-mata karena aksi Solidaritas di Tugu, bukan juga karena kebaikan hati Jokowi. Melainkan, perjuangan para petani Rembang yang tak kenal lelah. Dan desakan dari petani Rembang yang terus memasifkan gerakan mereka, sampai Jokowi merasa terdesak karena perjuangan para petani tersebut jadi perbincangan di warung kopi. Sebagagai pemimpin Negara Jokowi tak mau citranya buruk. Padahal Jokowi blusukan untuk membangun citra yang prorakyat. Hingga akhirnya Jokowi merasa perlu melakukan dialog dengan para petani tersebut.

Hasil dari pertemuan ibu-ibu dengan presiden Jokowi adalah pabrik semen tidak boleh melanjutkan pembanguananya hingga Analisis Dampak Mengenai Lingkungan (AMDAL) benar-benar telah sesuai.

Berbeda dengan Jokowi, Ganjar Pranowo gubernur Jawa Tengah mempunyai versinya sendiri. Pabrik Semen Indonesia didirikan, tetapi tidak boleh beroperasi dahulu. Ganjar meminta memorandum kepada Jokowi. Jika hal tersebut berlaku di pegunungan kendeng Maka Ganjar minta kebijakan tersebut harus berlaku di daerah-daerah lain.

Ganjar, perlu dipertanyakan posisinya sebagai Gubernur Jawa Tengah. Pantas saja jika akhir-akhir ini Ganjar mempunyai nama populer “Politikus Salon”. Dimana Ganjar yang pandai sekali menutupi kebopengannya dengan profil yang dibuat menarik. Seorang politikus muda, energik, dan, cerdas.

“Ya, saya sedang mengusahakannya. Bagaimanapun juga, kita sebagai warga harus taat terhadap hukum. Jadi apapun hasilnya kita harus menghargai itu” jawab Ganjar saat diwawancarai tentang persoalan Agraria di Jawa Tengah. Ini bukti bahwa gubernur yang cerdas tersebut pandai berkelit.

Maka sepatutnya, sebagai mahasiswa yang katanya adalah intelektual organik harus mampu memahami persoalan-persoalan yang ada di sekitarnya. ASR-Y adalah aksi yang mengingatkan Ganjar dan politikus-politikus salon bahwa rakyat terus bergerak. Selain itu ASR-Y hanyalah aksi Solidaritas untuk mendukung perjuangan petani Rembang. Yang perlu ditekankan adalah mahasiswa tidak boleh mendikte terlalu banyak. Posisi mahasiswa tidaklah di depan. Melainkan di belakang atau di samping. Berjalan beriringan dengan petani Rembang.

Sikap Ganjar yang perlu dipertanyakan dan tenda perjuangan umyang didirikan di depan Istana negara, dapat diumpamakan dengan puisi wiji tukul “Tikar plastik dan Tikar Pandan”

Sajak Tikar Plastik-Tikar Pandan

Tikar plastik tikar pandan

kita duduk berhadapan

tikar plastik tikar pandan

lambang dua kekuatan

tikar plastik bikinan pabrik

tikar pandan dianyam tangan

tikar plastik makin mendesak

tikar pandan bertahan

kalian duduk di mana?

Solo, April 1988

Dari puisi “Tikar Plastik dan Tikar pandan” kita bisa melihat bagaimana sikap Ganjar. Semoga saja Ganjar Pranowo, dan para politikus salon di negeri ini pantatnya tidal gatal saat duduk di tikar pandan.[]