BAGIKAN

“Dik, butuh apa? Apa yang bisa kakak bantu?”

Yah, begitulah pertanyaan senpai bersahaja yang selalu muncul dalam ingatan ketika mengenang masa mahasiswa baru (maba) dan ikut ospek. Pertanyaan itu sebenarnya pertanyaan biasa. Namun menjadi aneh dan unik ketika saya yang mendengarnya. Pasalnya saya terbiasa dipanggil “mas”, “cuk”, “le”, atau “yang” semasa sekolah.

Anggap saja panggilan ‘dik’ sebagai upaya dari senpai membangun kedekatan dengan saya sebagai maba. Padahal senpai tidak perlu repot melakukan itu. Wahai senpai yang manis dan cantik, jika tidak ada senior yang gagah berani menentang birokrat kampus saat berorasi, sudah kupacari kau. Meskipun pada akhirnya saya sepakat dengan bung Taufik. Bahwa para senior yang melakukan orasi masih dibayangi ketakutan drop out (DO) dari kampus.

Untuk itu saya membuat artikel otokritik ini sebagai mahasiswa yang menunggu surat DO beberapa bulan lagi. Itupun jika saya tidak lekas menyelesaikan tugas akhir. Padahal tugas-tugas sebagai mahasiswa sejati belum selesai sepenuhnya. Hal ini kemudian menjadi ‘pekerjaan rumah’ yang akan diperbaiki kelak. Tulisan ini tidak mempunyai maksud menyindir atau mempermalukan ‘kamu’, termasuk para jomblo aktif yang berseliweran memadati jalan di malam minggu.

Wahai maba yang budiman, menjadi mahasiswa sudah seharusnya sadar dengan bulat apa yang menjadi tujuan hidup. Yaitu mengabdikan diri dalam pembangunan moral dan industri yang akan menentukan kehidupan sosial. Namun tujuan hidup saya saat maba begitu abstrak. Sehingga tak heran sejak memasuki kampus untuk mendaftar saja, bayangan sebagai seorang pelajar yang bergelar maha sudah terasa menjulang tinggi. Bahwa saya akan menjadi orang yang sukses dunia dan akhirat. Harapan tersebut memuai dalam diskursus bersama senior dengan gaya legendaris: pakaian compang camping, gaya tutur dan gestur ala politisi kelas menengah saat bertemu dengan maba. Kadang-kadang juga bergaya ala filsuf, yang banyak menggunakan bahasa ilmiah yang sulit dipahami, ndakik-ndakik lah. Ujung-ujungnya menawarkan kepada saya untuk menjadi kader organisasi dan katanya, mencarikan jalan menuju “orang sukses dunia dan akhirat”.

Lalu saya memilih organisasi A dan meyakini ajaran serta ideologinya. Dalam perjalanannya organisasi ini memberikan harapan sekaligus stimulus yang amat penting bagi pemikiran, perjuangan dan kehidupan. Seperti senior itu maha benar, ketemu orang baru harus bilang, “saya aktivis blablabla”. Tapi turun pada basis rakyat tertindas saja tidak diajarkan dalam organisasi. Namun hal tersebut tak berjalan lama.

Bahkan saya dipaksa untuk menyebut dan mendeklarasikan diri sebagai seorang aktivis. Doktrin tentang perjuangan, rakyat, dan lain sebagainya ternyata tak dilakukan serta-merta atas kepentingan bersama. Praktik senioritas dengan jargon (senior maha benar) menjadi praktik utama dalam berorganisasi. Bahkan, turun pada basis rakyat tertindas pun tidak diajarkan. Argumen senior yang saya nilai tidak sesuai dengan ideologi serta ajaran organisasi; dalam hal praktis maupun wacana intelektual, membuat saya mengurangi intensitas berorganisasi dan fokus dengan mengikuti kegiatan bakat dan minat mahasiswa. Sambil lalu tetap mencari cara menjadi orang sukses dunia dan akhirat.

Ketika aktif di kegiatan mahasiswa, saya bertemu dengan seorang kawan, yang tak mau disebut senior meski usia semesternya jauh diatas saya. Dari dia dan kawan-kawannyalah saya mengenal buku-buku kritis. Buku-buku yang berisi tentang kondisi rakyat dan peran seorang mahasiswa. Meski tetap saja tak ada hal ikhwal tentang rumus mendapatkan kakak senior yang manis dan cantik. Mulai saat itulah saya benar-benar membaca buku, meski sebelumnya membaca tapi tak setertarik saat ini. Tak hanya buku-buku kritis, kitab-kitab ala pondok pesantren yang telah lama terlupakan pun mulai tersentuh kembali. Mungkin ini yang dinamakan hidayah ya…

Waktu berlalu, dedek gemes berganti, jedingpun terlumuri. Melihat senpai yang manis dan cantik digaet kakak yang lebih senior hati terasa ngilu. Mau gimana lagi. Saya memiliki kesimpulan, meski agak reaksioner, bahwa saya telah “salah memilih organisasi” dan belum dapat berpikir mandiri meski sudah menjadi mahasiswa. Maka saya memutuskan untuk berhenti total dalam kehidupan berorganisasi dan melepaskan gelar sebagai seorang aktivis. Lalu menggeluti dunia literasi yang sebatas membaca dan berdiskusi, tanpa menulis. Usaha ini sekaligus melepaskan hubungan organisasional yang tidak sehat. Meski sikap ini terlihat benar namun tidak begitu benar. Karena berbicara intelektual hanya untuk menang-menangan debat forum.

Wahai aktivis yang kece, saya akan bercerita tentang masa-masa (yang seharusnya) paling produktif: semester empat sampai semester delapan. Membaca buku telah menjadi kebiasaan, selain keren, wawasan bertambah, modal obrolan saat ngopi bersama para aktivis juga bertambah. Tak ketinggalan alat produksi nyinyir semakin kuat, entah dalam hal teori atau pembenaran bersikap. Nyepik dedek gemes juga lebih gampang. Tentunya hal ini tidak menyelesaikan permasalahan yang dihadapi rakyat.

Penyesalan tetap menjadi penyesalan. Kesalahan memilih organisasi yang dianggap besar dan mayoritas di kampus ternyata tak menghantarkan pada arti kehidupan dan jati diri mahasiswa. Ekspresi dari frustasi atas penyesalan tersebut berbentuk pada hal yang sangat tidak produktif. Seperti ngopi pagi tembus pagi, debat teori rakyat dari yang ilmiah sampai yang paling absurd, tentang mitos dan kehidupan yang-yangan, atau bahkan label-melabeli orang lain dengan naif dan bar-bar. Sungguh penyesalan yang seharusnya tak diulangi, oleh diri sendiri maupun orang lain.

Semua kejadian itu bukan tanpa sebab. Nyinyir, debat, dan segalanya dilakukan akibat menyaksikan ketidak-murnian terpelajar dalam bersikap terhadap kesewenang-wenangan. Betapa tidak, mahasiswa yang berorganisasi dan mengaku aktivis bukannya menjadi agen rakyat atau sekutu rakyat, mereka malah menjadi kaki tangan birokrasi kampus dan elit kota, memacari adik juniornya secara bergantian hanya untuk mencari ena-enaan, dan hal lain yang menggelikan.

Apa kabar mahasiswa injury time? Sudah mengeluh hari ini? Kita rehatkan sejenak indera kita dari kata dospem yang maha benar itu ya. Lanjut ke bahasan lagi. Kesadaran saya terbangun ketika membaca beberapa buku Soe Hok Gie yang begitu terkenal. Namun bukan buku dan tulisannya yang membuat saya sadar. Tapi sikapnya. Sikap Gie yang tak mau menyerah pada kemunafikan seperti yang ia tulis. Namun dalam memilih sikap politik Gie malah mundur. Ia menyingkirkan diri dari arus polititk dan anehnya, mendeklarasikan diri sebagai “yang merdeka.” Sikap ini persis dengan apa yang telah saya lalui beberapa semester lalu. Perjalanan yang bodoh, apolitis, idealis, dan jauh dari arti kehidupan mahasiswa dan tri darma perguruan tinggi.

Semester akhir saya putuskan untuk kembali menjadi seorang yang berjuang melalui gerakan mahasiswa. Saya bersama beberapa kawan berusaha membangun organisasi mahasiswa yang benar-benar memperjuangkan rakyat. Atau yang biasa saya baca dalam beberapa tulisan sebagai “genuine struggle.” Perjalanan organisasi tak begitu mulus, jauh panggang daripada api. Organisasi yang terbangun malah tak merestui praktik-praktik gerakan radikal ala mahasiswa dan rakyat biasa. Ia malah mereduksi sikap untuk menjalani kehidupan apa adanya. Bahkan praktik perpecahan dalam organisasi sangat nampak, faksionalisme gerakan didalamnya tak menunjukkan perbedaan dengan organisasi awal yang saya ikuti.

Tak berhenti pada orgasasi tersebut. Usaha membangun gerakan murni (genuine struggle) masih menjadi hal yang selalu menjadi cita-cita saya di sini. Saya pun memulai kembali dengan organisasi baru yang lebih maju dalam segala hal: praktik politik, wacana dan sasaran strategisnya. Mulailah kami berpraktik dengan melakukan pekerjaan mengorganisir. “Gagal adalah kunci utama dalam mencapai kesuksesan,” kata orang-orang.

Langit mulai gelap, tugas berorganisasi yang belum selesai harus terhenti karena harus menuruti kemauan orang tua di rumah. Menjadi seorang yang gagal dalam mencapai jati diri sebagai seorang mahasiswa tentunya tak menjadikan saya melangkah menjadi anjing penguasa. Minimal setelah lulus adalah waktu bertaubat kepada diri lalu mengabdi pada sekecil apapun kehidupan selanjutnya. Dedek telah siap dipinang, saatnya melahirkan generasi baru, menciptakan orang baru, dengan kehidupan yang baru. Yuk nikah, dik.
_____________
Untukmu wahai adek kelasku!
Jangan tiru kami. Jangan pernah berkompromi dengan penguasa. Jangan pernah bertumpu pada senior yang gagah di depanmu tapi mlempem di depan birokrasi dan kesewenang-wenangan. Gagahnya itu modus. Pilihlah kesendirian seperti Soe Hok Gie, jika memang tak ada lagi pilihan, namun tetaplah bersikap secara politis.