BERBAGI

Media sosial kian terasa melelahkan. Sifat dasarnya untuk pelarian dari setiap masalah yang dihadapi di dunia nyata. Makin ke sini sifat dasar itu telah berubah dan membuat penggunanya lari. Ia terlalu penuh untuk ditinggali bahkan sekadar untuk singgah dari turunnya hujan. Lantaran isu agama, politik sudah tidak bisa ditepis saat tiap kali berada di tengah Jl. Media Sosial.

Saya merasa beruntung dengan lingkungan yang ada di sekitar. Tidak perlu melakukan riset mendalam sebagai objek pengamatan guna membaca fenomena sosial yang ada. Seperti sabda tuhan tentang tidak perlunya sikap cemas dengan persoalan sakit. Karena tuhan sudah menyediakan obat yang di sekitar manusia itu tinggal. Bagaimana tidak. Hampir satu bulan lalu, kawan saya, pemuda yang sedang jenuh dengan media sosial sedang melakukan diet media sosial. Ia tidak lagi menggunakan Facebook, Twitter, Line, Whatsapp dan beberapa penyedia pesan instan lainnya. Ia hanya menggunakan email atau layanan pesan berbayar klasik dalam kesehariannya.

Sikap tersebut mengingatkan saya pada tragedi di seputar tahun 70-an. Masih ingat pada peristiwa Malari? Berisi peristiwa mahasiswa yang sedang melakukan demonstrasi saat kedatangan Perdana Menteri Jepang, Tanaka Kakuei, sebagai reaksi atas pembangunan pemerintah Orba yang tidak memihak masyarakat. Ringkasnya pemerintah tidak melihat kebutuhan masyarakat dalam menjalankan misi pemerintahan. Membangun TMII dengan menyedot dana dari iuran wajib kepala pemerintah daerah itu nalarnya di mana? Kondisi perekonomian masyarakat masih buruk dan telah mengabaikan biaya pendidikan. Dua hal penting yang seharusnya menjadi pertimbangan serius pemerintah Orba.

Setelah Peristiwa Malari, pemerintah melalui menteri kebudayaan Daoed Joesoef, memberlakukan normalisasi kehidupan kampus atau jamak dikenal sebagai NKK/BKK. Semua mahasiswa dilarang melakukan kritik (tulisan maupun demonstrasi) terhadap pemerintah. Alasan yang masih dipegang sampai sekarang oleh Daoed adalah mahasiswa harus menjadi man of analysis bukan man of public meeting. Rasa teknokrat yang mengamputasi gerak mahasiswa itu lo, gabisa ditolerir. Pendirian mantan menteri Orba ini dapat diakses pada laman kompas tertanggal 8 Agustus 2016.

Lalu bagian mana dari kisah kawan saya, yang berhubungan dengan peristiwa penting tahun 70-an itu? Malari timbul sebagai reaksi kejenuhan mahasiswa dengan Orba yang ngawur dalam program pembangunannya. NKK/BKK timbul sebagai tindak represif pemerintah atas kekuatan mahasiswa yang begitu besar dan mengancam bobroknya pemerintahan Orba. Keduanya seperti aksi reaksi yang dilakukan oleh kawan saya, dalam menjalani diet media sosial lantaran sangat menjenuhkan.

Jika saya boleh menafsir diet media sosial yang dilakukan oleh kawan saya berkaitan dengan tipikal mahasiswa sekarang. Mereka lebih memilih kuliah tanpa mau terlibat dengan kebijakan rektorat yang timpang terhadap mahasiswa. Mereka lebih memilih konsumsi sinetron anak jalan dan turunannya ketimbang konsumsi berita. Konkretnya, tipikal mahasiswa sekarang adalah mereka yang terhisap ke dalam riuhnya media sosial dan menjadi manusia yang asosial. Sibuk bermain gawai daripada diskusi masalah yang dihadapi mahasiswa dalam lingkup sempit. Atau masyarakat Indonesia dalam lingkup lebih luasnya.

Sepertinya kalian harus mencoba membuat janji dengan teman untuk nongkrong. Tiba di tempat yang sudah disepakati, teman kita asyik bermain gawai dan meminimalisir obrolan basa-basi atau hal yang serius dengan kita. Saya berharap kalian mencobanya. Mencoba mengajak ngobrol dengan teman tapi ditinggal main gawai olehnya. Betapa fananya kalian.

Dugaan bahwa media sosial diperbolehkan masuk ke Indonesia sebagai langkah pemerintah untuk membuat mahasiswa asosial itu terlalu ngawur. Namun anggapan bahwa mahasiswa sekarang cenderung terlena pada media sosial itu benar adanya. Indikasinya adalah 20% dari dua ribu lebih teman saya di Facebook yang membagikan informasi berkaitan dengan masalah yang sedang dialami masyarakat Indonesia. Sisanya hanya curhat kehidupan pribadinya dengan bribikan, pacar, mantan pacar dan isu SARA. Padahal hanya 10% teman saya yang tidak mengenyam pendidikan tinggi. Betapa mamelnya hidup ini.

Efek dari NKK/BKK masih terasa sampai sekarang. Tentunya dengan kemasan yang lebih menarik: lulus dengan nilai bagus,masa depan cerah, dambaan calon mertua, pemuda yang taat, atau hal-hal klise lainnya. Lebih banyak jumlah teman saya yang aktif berdiskusi membaca masalah masyarakat dan lulus dengan nilai bagus. Ketimbang teman saya yang hanya mengejar nilai bagus dan anti terhadap diskusi masalah masyarakat.

Pesan seorang teman masih begitu membekas. Terutama untuk kalian para jomblo ngehek yang kalau dapat pacar serasa misi hidup kalian di dunia ini selesai. Bahwa tidak perlu kalian mengejar atau kerja keras bribik calon pacar. Saat kalian banyak diskusi dan memiliki otak yang bermutu akan berderet mengantre para calon pacar itu. Lulus dengan nilai bagus itu fana. Yang nyata adalah pemerintah tetap lalim terhadap masyarakat kita.

Hidup mantan!