BAGIKAN

Hari sudah gelap di Kampung Panggreman, Kota Mojokerto saat itu. Jalan aspal di gang masih basah sisa hujan seharian. Sekelompok warga, bapak ibu dan anak-anak berkeliling ke beberapa rumah yang tampak terang kilauan lampu pohon natal.

“Selamat hari raya, semoga berbahagia,” tukas pria berambut putih sambil menjabat tangan si tuan rumah yang lantas diikuti istri dan anaknya di belakang.

Kenangan indah itu yang teringat dari momen natal di kampung halaman saya di Mojokerto. Sejak sepeninggal ibu, saya tidak lagi merayakan Natal di kampung itu. Namun ingatan tentang kebersamaan itu masih terekam jelas. Maklum, sebagai keluarga Kristen yang tinggal di lingkungan mayoritas muslim, momen kebersamaan seperti ini bagi saya sangat berkesan.

Saya beri gambaran lebih jelas. Ada sekitar lima rumah keluarga Kristen di gang tempat saya tinggal. Sebelumnya ada sembilan rumah, sebelum akhirnya mereka pindah. Mereka pindah bukan karena tidak nyaman dengan lingkungan, kebanyakan karena mengikuti anak.

Di sana kami tak merasa sebagai minoritas sebab tak ada yang berbeda. Merayakan Natal sama seperti saat momen Lebaran Idul Fitri. Keluarga-keluarga bergiliran datang ke rumah untuk sekedar mengucapkan selamat hari Natal. Jika waktu memungkinkan mereka akan singgah sebentar untuk sekedar mencicipi jajanan yang sudah disiapkan tuan rumah.

Tak ada menu wajib, semua sesuai dengan kemampuan tuan rumah. Ada castengel, keripik, kacang-kacangan, kue kering, air minum kemasan. Sama seperti kue-kue lebaran. Satu-satunya yang membedakan adalah dekorasi pohon natal di pojok ruangan. Dekorasi yang tidak ditemukan saat Idul Fitri ini kerap menyita perhatian anak-anak kecil yang berkunjung.

“Ada pohonnya, Ma,” ujar seorang anak kepada ibunya.

Ketika Ucapan Natal Dilarang

Belakangan pemberian ucapan selamat Natal menjadi kontroversial. Organisasi masyarakat di beberapa daerah secara terang-terangan, mengimbau masyarakat dan pengelola tempat-tempat umum untuk tidak mengucapkan selamat Natal; baik lisan maupun tulisan. Bahkan dilarang memasang ornamen khas Natal. Ada yang menolak tapi tidak sedikit tokoh agama yang toleran tentang hal ini.

Sejak dahulu memang tak semua warga ikut memberikan ucapan selamat. Sebagian muslim, misalnya, menganggap mengucapkan selamat natal dilarang dalam agama. Dan hal itu tidak pernah jadi persoalan serius. Sebab sah-sah saja setiap orang memiliki pandangan sendiri tentang hal ini. Hingga belakangan, larangan mengucapkan Natal menjadi isu yang besar seolah ada yang memaksa memberi ucapan sehingga perlu dilarang secara masal. Hei saudara sebangsa, tanpa ucapan pun hari Natal tidak akan tertunda.

Kembali pada kampung halaman saya, pernah suatu hari ada keluarga baru. Berada di lingkungan baru, mereka heran melihat warganya begitu guyub. Tahun-tahun pertama kepindahannya mereka masih tak acuh terhadap kegiatan ini. Namun lama-lama mereka dapat menerima dan mulai mengikuti layaknya warga lain.

Ada hal menarik yang bisa ditiru dari kebiasaan warga Kampung Panggreman. Jika ucapan Selamat Natal dianggap melanggar aturan agama, tak lantas muslim Panggreman memutus silaturahmi dengan warga Kristen. Alih-alih berhenti, mereka tetap saja beranjangsana ke rumah-rumah warga Kristen sembari mengucapkan,

“Selamat Hari Raya,”

“Selamat berbahagia,” atau

“Sugeng Riyadin,”

dan kalimat-kalimat lain yang mewakili “Selamat Natal”. Mereka memilih jalan tengah demi tetap menjalankan keyakinan agama dan tetap bermasyarakat dengan baik.

Ya bagaimana lagi!, soal pandangan agama dan bermasyarakat memang tidak bisa dipaksakan. Kami pun menyadari bahwa hal tersebut adalah sebagai konsekuensi dari penduduk minoritas seperti kami. Toh kami tidak pernah mengharap ucapan. Bagi kami, cukup bisa hidup berdampingan dan harmonis saja sudah lebih dari cukup. Bukankah tujuan beragama itu untuk menjadi berkat bagi sesama?

Selamat Natal!