BERBAGI

“Saya tidak heran mengapa banyak mahasiswa semester akhir yang akhirnya mengundurkan diri” Begitulah ucapan teman saya ketika saya bertanya mengenai Tugas Akhirnya, Sebagai mahasiswa tingkat akhir, sebagian besar teman saya punya cita-cita mulia: lulus tepat waktu dengan nilai cumlaude.

Seperti yang kalian bayangkan, bahwa setiap jenjang pendidikan pasti memiliki goal untuk bisa dikatakan lulus selama menempuh pendidikan tersebut. Sama halnya dengan mahasiswa, bila telah mencapai tingkat akhir akan mengalami masa-masa sulit, yaitu skripsi. Skripsi biasanya dibuat oleh mahasiswa S1 sedangkan saya yang mengenyam pendidikan Diploma III mengerjakan tugas akhir. Dalam mengerjakannya banyak rintangan dan hambatan yang menghadang, namun demi mencapai kata lulus mahasiswa tingkat akhir memiliki semangat yang besar.

Hal ini dibuktikan dengan kesungguhannya dimana mahasiswa harus bangun pagi, lebih awal dari jadwal kuliah untuk mengantri berjam-jam seperti antrian sembako gratis, tentu saja agar bisa ketemu dengan dosen yang serba sibuk. Sebab beberapa dosen tentu tidak bisa dijumpai di ruangannya dengan alasan keluar kota untuk melaksanakan liburan proyek. Tak hanya itu kesungguhan mahasiswa tingkat akhir dibuktikan dengan mengorbankan waktu quality time bersama pacar. Bagaimana tidak, jika hari Sabtu saja bukan pacaran dengan kekasih pujaan hati yang unyu unyu itu, tetapi malah pacaran dengan skripsi dan laptop. Pacar asli mahasiswa tingkat akhir ya Laptop, Pacar Ke-100 ya Pacar kita. Deritanya lagi kalau punya pacar tidak pengertian, bisa-bisa hal itu jadi penghambat.

Menjadi mahasiswa tingkat akhir sering kali dipaksa untuk mengikuti kemauannya dosen, yang inilah, yang itulah hingga akhirnya minta dicarikan Pokemon. Tak hanya disitu jadi mahasiswa tingkat akhir harus penuh dengan kesabaran, kenapa saya bilang seperti itu? Ini alasannya!

Menunggu dosen pembimbing sampai jamuran

Ini adalah hal mainstream yang pasti dialami oleh semua mahasiswa tingkat akhir. Menunggu dosen pembimbing mungkin lebih menyakitkan ketimbang menunggu jodoh #eaa. Jadwal bimbingan pagi tapi karena ada sesuatu dan lain hal jadwal bimbingan diundur menjadi sore, pulang segan tinggal pun ogah. Pada akhirnya yang kita lakukan tetaplah menunggu, jika kita beruntung kita tidak akan jamuran sendiri, ada teman yang bisa di ajak jamuran bareng. Maklum dosennya lagi main Pokemon Go, makanya lupa jalan ke kampus eits.

Revisi yang buang anggaran

Kenapa buang anggaran, penyusunan Tugas Akhir/Skripsi membuat mahasiswa akhir rajin beli kertas & tinta. Kalau yang ini pasti, karena mahasiswa pasti membutuhkan yang namanya kertas dan tinta untuk nge-print skripsi yang sudah kita buat. Tapi tidak jarang juga, mahasiswa jadi boros sama kertas, alasannya kalau tiap bab di konsultasikan ke dosen, biasanya banyak yang dicoret-coret dan harus ulang lagi. Bahkan bisa makan dan bikin bantal dari tumpukan kertas itu.

Dengan cobaan tersebut kita sebagai mahasiswa tingkat akhir harus benar-benar memahami dan mengerti dosen jika tidak maka bisa jadi kita diputusin dan ditolak untuk ketemuan. Jika diibaratkan orang pacaran bukannya saling pengertian satu sama lain sangat dibutuhkan demi kenyamanan dan kelengketan hubungan. Jika salah satunya egois tidak memikirkan pasangannya bisa jadi pasangan kita marah dan tak kan kembali. Sama dengan dosen dan mahasiswa, seharusnya dosen juga mengerti kemauan dan keinginan mahasiswanya, toh mahasiswa sekarang gak banyak maunya pak-buk, yang penting mahasiswa dimudahkan menuju kata lulus dan ditemui ketika konsultasi, mudah kan?

Tidak jarang sebagian mahasiswa gagal menyelesaikan tugas akhirnya karena kejamnya siksaan dosen, seperti yang diutarakan teman saya dalam akun facebook, “mungkin karena dulu belum mengalami menjadi mahasiswa semester akhir dengan banyak problematikanya. Saya pernah mengucapkan, “sayang loh tidak dilanjutkan, padahal tinggal sedikit lagi.”

Ketika mendengar kakak tingkat tidak lagi melanjutkan di semester akhir karena banyak hal hingga sampai mendapat pekerjaan sebelum ijazah didapatkan. Namun saat ini diri saya sendiri sudah mengalami, hingga sedikit banyak sudah mengerti “perjuangan” di semester akhir. Maka dari itu saat ini saya tidak heran mengapa banyak mahasiswa semester akhir yang akhirnya mengundurkan diri.

Sangat miris sekali kehidupan mahasiswa tingkat akhir, hal ini sudah tidak awam lagi di telinga kita dengan yang namanya revisi kitab suci yang penuh dengan hambatan dan tantangan dari dosen sang maha paling benar. Tak apa. Ini memang cobaan yang cukup berat, bukannya tuhan memberi cobaan sesuai batas kemampuan kita, bersabarlah karena orang sabar disayang pacar.

Ah sudahlah jangan hiraukan, tulisan ini muncul akibat terlalu sering jamuran menunggu dosen hingga akhirnya mendapatkan jamur krispi.