BAGIKAN

Sesuai penjadwalan kalender akademik di kampus saya, kampus yang secara mengesankan masuk dalam daftar kampiun kampus terkorup di Makassar versi Anti Corruption Commite (ACC). Rencananya bulan Agustus nanti adalah waktunya penerimaan mahasiswa baru. Yang artinya ada dedek baru, ada target modus baru, dan tentu saja target bisnis baru. Yah maklum, menjadi baru amat sangat mungkin hanya sedikit tahu sesuatu dan rentan jadi korban tipu-tipu. Sehingga jika salah memilih jalan hidup di saat mahasiswa baru (Maba), sungguh hal banal yang hanya bisa disesali setelah bertahun-tahun kemudian.

Ini mungkin ada sedikit saran setelah melakukan riset pasar yang diajarkan di mata kuliah kewirausahaan. Untuk dedek Maba yang menggemaskan, agar tidak tersesat kemudian. Perlu diketahui bahwa saran ini tidak akan menjamin kebahagiaan dedek di kampus nanti, tapi setidaknya bisa meminimalkan potensi penderitaan.

Toh seperti kata pepatah “Saat gagal bahagia, kurang-kuranglah menderita.” Pepatah siapa yang bilang, saya tidak tahu. Sampai hari ini sejujurnya, saya juga bingung kenapa nama pengarang pepatah selalu dianonimkan. Tapi itu tidak perlu dipusingkan, dan selamat mencoba.

  • Jangan Jadi Aktipis

Sebenarnya sebelum memutuskan mau jadi aktipis atau sesuatu yang lain. Perlu lebih dulu diketahui kalau kakak aktipis terbagi kedalam dua spesies besar.

Spesies pertama yang komitmennya sudah masuk stadium akhir dan berpotensi jadi aktipis hingga sepuh, mereka adalah spesies paling menderita karena harus berperang dengan orang-orang terdekat kalau memang ada yang menyimpang dari demokrasi atau ajaran kebenaran. Mereka biasanya hidup kolektipan, dan makan di bawah standar 4 sehat 5 jelas hebat.

Aktipis jenis ini biasanya punya banyak pantangan karena alasan ideologis, bukan karena alasan hipertensi atau diabetes lo yah. Tidak boleh makan ini itu yang diproduksi kapitalis, tidak menggunakan produk ini itu karena alasan konspirasi, tidak buang-buang uang untuk sembarang hal, dan paling penting selalu berdiri gagah membela wong cilik, dan kaum tertindas.

Derita yang lainnya adalah perang dengan diri sendiri yang kadang-kadang rasanya ingin menyerah akan godaan undur diri dari jalan perang. Aktipis jenis ini tidak bisa dibuat diam kalau hanya dengan dinginnya lantai penjara, atau perihnya dihantam laras dan popor senapan, aktipis jenis ini cuma bisa ditaklukkan dengan cara-cara licik. Seperti dimatikan, dihilangkan, dibuat sekarat, atau dibuat jadi penjahat.

Sayangnya jenis yang begini masih langka dan jelas tidak banyak. Tapi ada beberapa yang terkenal, macam Wiji Thukul, Munir, Wartawan Udin, atau yang paling baru si pentolan NGO Sawit Watch Jovi Perangin Angin.

Spesies yang kedua, adalah tipikal yang kakak tingkat saya di organisasi katakan sebagai Berani mati, tapi takut lapar. Ini jenis aktipis yang jago jilat pantat siapa saja yang bakal memberi keuntungan. Mereka punya banyak koneksi ke kanda-kanda yang sudah jadi pejabat. Jika mau menundukkan spesies jenis ini, tidak perlu sampai pake kekerasan. Cukup dijanjikan jabatan, atau dikasih uang makan, atau kasih tanda tangan ke proposal kegiatan yang mereka tawarkan. Kalau sudah dibegitukan, aktipis jenis ini bisa dijamin akan jinak. Jauh lebih jinak dari kucing yang habis dikasih ikan. Tapi ya gitu, mereka bakal gigit kalau tidak diberi makanan.

  • Jangan Pacaran dengan Aktipis

Jadi seperti kebahagiaan, penderitaan juga bisa menular kayak flu, dan wabah kurap di asrama santri. Jadi kalau ogah hidup dikandung derita, jangan dekat-dekat dengan manusia yang tidak punya apapun selain derita, sudah tahu aktipis hidupnya penuh aniaya dan serba menggelandang, masih dipacari juga. Oh iya satu lagi, kalau tidak mau kena kurap, jangan pinjamkan handukmu kekawan yang suka garuk pantat.

Tapi kalau mau punya pasangan di kampus tanpa takut melarat, aktipis yang jago jilat pantat lumayan bisa diperhitungkan. Setidaknya kalau berpacaran dengan aktipis jenis ini, kamu masih bisa nongki di pusat perbelanjaan dan berkesempatan mengudap ragam jenis makanan berkelas. Aktipis jenis ini mudah ditandai dari cara berpakaian yang jauh dari gaya bohemian seperti aktipis kebanyakan. Mereka perlente, dan tidak pernah ketinggalan tren kekinian.

  • Jangan Ikut Pengaderan

Pertama, karena pengaderan kebanyakan adalah lokasi perburuan kakak tingkat yang menebar pukat mbribik aka mangodo’. Kedua, meski masih ada sisa budaya pelonco di beberapa pengaderan, di sana jugalah tempatnya aktipis-aktipis ditempa. Pasalnya dalam pengaderanlah biasanya aktivitas cuci otak dilakukan. Maklumlah, konon otak SMA kita masih terlalu kotor dan penuh hal begituan, makanya harus dibersihkan.

Saya masih ingat, orasi memukau kakak tingkat yang saya lupa namanya siapa di pengaderan, tentang hutang mahasiswa kepada rakyat, karena sudah dibantu berkuliah melalui subsidi Negara. Yang sejatinya, dipupuk dari pajak bayaran petani, nelayan, buruh, pengusaha, pegawai, dan blabla. Waktu itu kebetulan saya termasuk beruntung, karena Uang Kuliah Tunggal belum ditetapkan jadi mekanisme pembayaran, jadi saya bayarnya cuma Rp. 675.000/semesternya.

Karena dibuat merasa berhutang, dan kebetulan sejak kecil saya bermimpi jadi pembela keadilan, maka saya memutuskan untuk ikut demo kenaikan BBM beberapa bulan setelah pengaderan.

Pesan moralnya, seperti petuah para pimpinan kampus kebanyakan soal pengaderan “Pengaderan itu berbahaya, karena cuma melahirkan pembangkang.” Jadi sejalan dengan saran pertama, aktipis itu biasanya dekat dengan label pembangkang, kalau tidak mau disebut pembangkang, jangan jadi aktipis, tidak mau jadi aktipis, jangan ikut pengaderan.

Sudahmi nah, capekma. Dan emm, Makassar bukan kasar, tapi pasar; pasar tanah, pasar laut, pasar judi, pasar tenaga kerja murah, dan pasaran, eh pacaran, eh maksudnya romantis buat tempat pacaran. Deng.