BAGIKAN

Menjelang OSPEK, adalah moment yang paling menggemaskan bagi mahasiswa tingkat akhir. Bila para calon maba mulai deg-degan menghadapi masa-masa OSPEK yang penuh warna, para mahasiswa tua juga tak kalah deg-degan-nya menghadapi masa aktif kuliah yang sarat prahara. Bayangkan, ketika mereka –dedek-dedek maba yang manis dan lugu- nantinya kamu jumpai di sepanjang beranda kelas atau di taman-taman kampus, atau juga di kantin, mereka akan menghakimimu dengan sejumlah pertanyaan yang kejam sekaligus nyelekit. Semisal, “kakak sudah semester berapa?”, “kakak udah gak ada kuliah ya? Ngapain di kampus?”, atau yang lebih sadis, “kakak sudah tua ya? Kok masih jomblo?”, dan serangan-serangan lain yang bakal membuat kamu mengelus dada. Tentu saja bagi para mahasiswa tua, pertanyaan-pertanyaan semacam itu rasanya lebih menakutkan dari segala jenis perploncoan yang terjadi dalam OSPEK.

Belum lagi, sebagai mahasiswa tua, kamu sudah teramat banyak menelan asam-garam pertanyaan di rumah, dari orang tua, tetangga, bahkan mantan pacar yang mungkin sudah tinggal menunggu waktu untuk wisuda. Terlebih bila kamu masih jomblo, alamak pedihnya, bung. Lebaran kemarin sudah tau gimana rasanya kan? Sudah saatnya nasib mahasiswa tua, dalam hal ini mahasiswa tingkat akhir, diberdayakan sebagai mana mestinya. Bukan dimampus-habisi sampai sakit tak terkira. Tidak adil bukan, jika semua beban mahasiswa tingkat akhir harus selalu ditumpahkan di pundakmu.

Menghadapi musim pancaroba yang mendadak membuat suasana kampus semakin asing, saya kira, kamu perlu beberapa taktik dan strategi untuk bertahan dan mempertahankan keimutan. Di sini, saya ingin berbagi. Berbagi saja. Barangkali karena nasib saya yang juga tak jauh berbeda, kita bisa berjalan bersama, seiring dan seirama. Untuk sama-sama menjaga kesetaraan kelas, kesetaraan derajat, yang nantinya ini akan berguna dalam menjaga nasib mahasiswa tua pada umumnya dalam menghadapi perploncoan serentak. Tolong dicatat, tips-tips ini tidak berlaku bagi kawan-kawan mahasiswa tua yang sudah berada di zona nyaman, semacam duduk manis di kamar kontrakan, sambal menunggu datangnya waktu wisuda. Karena nasib kita beda. Berikut tips-tips dari saya:

  1. Mengubah Penampilan

Penampilan para mahasiswa tua selalu identik dengan hal-hal yang lama dan jadul. Terutama penampilan para aktipis, baik aktipis kesenian, pers, dan berbagai jenis aktipis lainnya. Ini tidak mengherankan, sebab mereka sudah terlalu tua untuk mengikuti trend yang dianut dedek-dedek maba yang manis. Sedangkan penampilan para mahasiswa baru, mereka yang masih menghadapi masa transisi dalam kehidupan sosialnya, penuh dengan kegagahan dan kemulusan. Di sini, perbedaan penampilan sangat menonjol dan kentara. Selain perbedaan raut wajah juga tentunya. Tapi itu soal lain. Jadi, untuk penampilan fisik, saya sarankan kamu mulai mencoba untuk berpenampilan layaknya maba. Berpakaian yang necis, berdandan semuda-mudanya. Siapa tahu, yang demikian bisa menyamarkan perbedaan di antara kalian dan dedek-dedek maba. Terutama bagi kakak-kakak yang masih jomblo, ini juga bermanfaat. Penampilan yang keren akan menjadi daya tarik juga toh? Siapa tau nanti kalian bisa dapet gebetan dedek-dedek maba yang gemes dan lucu.

 

  1. Mengubah Cara Bergaul

Kebiasaan kakak-kakak mahasiswa tua, bila mereka berjalan, ngopi, nongkrong, dan semacamnya, mereka akan berkumpul dengan sesama mahasiswa tua. Kendati tidak semuanya, semisal ada juga semacam kakak-kakak aktipis yang ternyata juga sibuk mengemban tanggung jawab untuk mengajak dedek-dedek maba ke jalan yang benar. Untuk yang terakhir ini, mereka mudah ditemui di tengah hiruk-pikuk kesibukan para Maba. nah, bagi kakak-kakak yang masih canggung dan hanya suka bergaul dengan sesama mahasiswa tua, mulai sekarang, kalian perlu memikirkan cara jitu yang kedua ini. Hal tersebut juga bisa membantu untuk menyembunyikan penyamaran kalian. Bisa jadi mereka akan merasa sungkan untuk memanggil kalian kak, cak, mas, dan sejenisnya. Kumpul-kumpul sama dedek-dedek maba itu menyenangkan lho.

 

  1. Mengasingkan Diri

Cara terakhir, bila kalian mulai putus asa menghadapi sekian banyaknya serangan yang bertubi-tubi menghantam, mari rapatkan barisan. Setelah ini, kita bisa sama-sama mengasingkan diri dari hiruk-pikuk kampus. Kecuali nantinya di antara kita harus datang ke kantor jurusan untuk menghabisi makhluk kecil bernama skripsi, kita bisa menghadapinya bersama-sama. Mengasingkan diri bukan berarti kalian harus menjadi sufi, lupa dunia, lalu berjalan seperti orang gila yang tak ingat apa-apa. Atau justru asosial. Itu mah keliru besar, bung. Kalian hanya perlu beraktifitas di luar kampus. Mencari kesibukan lain. Lalu asyik-masyuk dengan aktifitas yang lebih menegangkan di luar sana. Boleh juga, kalian cukup berdiam saja di sekret, menghabiskan masa tua di kampus dengan hal-hal yang lebih bermanfaat. Semisal menjadi hakim sementara bagi kejahatan-kejahatan kecil di UKM masing-masing, atau instruktur gratisan yang berguna bagi masa depan UKM. Setidaknya, hal ini akan membantu mengurangi persinggungan yang menyakitkan antara kalian dengan dedek-dedek maba yang penuh godaan itu.

Alhasil, tips-tips di atas bisa jadi kurang tepat. Bahkan terlalu ekstrim bagi kakak-kakak mahasiswa tua yang masih berstatus jomblo. Sebab bisa jadi, harapan terakhir bagi nasib percintaan kalian ada di tangan dedek-dedek gemes yang imut nan lucu itu. Tapi tenang saja. Ini hanya berlaku pada musim pancaroba. Setelah semuanya tenang, kalian hanya perlu tameng kecil untuk memberanikan diri berjumpa dengan dedek-dedek maba. selebihnya, kekuasaan mahasiswa tua di atas segala-galanya. Sebab, konon, Tuhan bersama mahasiswa tingkat akhir. Mari, rapatkan barisan!

Alif Raung Firdaus, penggemar kopi dan puisi. Statusnya sebagai mahasiswa tingkat akhir, masih gondrong, dan diberkati Tuhan. Akun fb: Alif Raung Firdaus, Tw: @Raung_zaman

BAGIKAN
Artikel sebelumyaKKN Sebagai Advokasi Sosial
Artikel berikutnyaDilema Jadi Anak UIN
penggemar kopi dan puisi. Statusnya sebagai mahasiswa tingkat akhir, masih gondrong, dan diberkati Tuhan. Akun fb: Alif Raung Firdaus, Tw: @Raung_zaman