BERBAGI

Setelah berdebat panjang mengenai rambut, feminisme, dan hantu bernama komunisme, barangkali kita perlu membicarakan hal ringan. Ibarat sedang bermain catur, perlu ada jeda setelah kuda melompat dan mendepak pion. Apalagi pion yang terletak di empat titik tengah paling strategis. Percayalah jika kuda tak mau ambil jeda, ia kemungkinan besar akan dipinggirkan lalu kehilangan dua langkah strategis. Kalau kuda sudah di tepi, maka sedikit peluang ia bisa move on. Tinggal menunggu waktu lehernya dibabat.

Ini bukan sebuah ajakan untuk piknik atau pamflet paket wisata keluaraga di pantai. Tapi hanya berupa panduan sesat eh singkat yang mungkin mau anda baca di kala senggang sambil ngopi. Karena sebentar lagi libur panjang. Libur lebaran, cuti bersama, libur pergantian semester serta tahun ajaran baru. Momen ini tentu mimpi buruk bagi sebagian besar kakak aktipis yang setiap hari diskusi, konsolidasi, dan berdemonstrasi melawan KFC dan Starbucks eh, maksud saya kapitalis.

Tentu saja mimpi buruk karena ada jeda panjang yang menjadi jurang pemisah mereka dengan lingkar pertemanan dan perĀ­-aktipisan mereka. Praktis segala hal yang berkaitan dengan urusan negara juga libur. Karena itu ada beberapa titik yang sebaiknya diprediksi sejak dini agar libur panjang ini tak sia-sia.

1.Lebaran dan belanja

Konon momen ini adalah urat nadi yang memperlancar liburan semua instansi pemerintahan dan pendidikan. Tapi tak masalah, siapa juga yang mau memprotes persoalan ini di negara berpenduduk muslim terbesar di planet bumi sampai ke planet namex.

Menjelang lebaran tentu ada tradisi membeli baju baru, mengganti penampilan rambut, hingga merek parfum. Ini bakal menjadi dilema bagi sebagian besar kakak aktipis. Mereka pada dasarnya tidak lagi butuh celana, kemeja, merek parfum baru. Karena meski memakai celana dengan beberapa sobekan di lutut dan paha pun tidak menjadi persoalan. Itu justru menambah kadar perlawanan mereka terhadap tren pakaian atau dunia fashion.

Kakak aktipis yang tidak peduli dengan penampilan ini memang patut dijadikan idola bangsa. Mereka bisa tahan godaan untuk membeli baju baru. Lalu menabung uang mereka untuk membeli buku dan kaos-kaos bertuliskan kutipan sosok revolusioner.

Mereka yang telah mendeklarasikan diri sebagai kakak aktipis ini bukan hanya kelas intelektual organik. Tapi juga sudah tuntas menganalisis kesadaran palsu yang terus direproduksi lewat iklan dan televisi. Jika Susan Linn merasa industri fashion dan makanan berhasil melahirkan anak-anak konsumtif. Maka kakak aktipis ini adalah anak-anak yang terselamatkan.

2.Stok buku dan jurnal

Buku bagi kakak aktipis mungkin bukan suatu hal asing lagi. Bayangkan saja jika banyak uang yang bisa digunakan untuk beli buku, masa liburan bisa jadi menyenangkan. Siang dan malam hari tidak perlu lagi terganggu dengan jadwal kuliah, hanya baca novel klasik dan buku-buku rebel. Jika ada kalimat atau paragraf keren, langsung foto dan sebarkan di sosial media. Tiap kanal sosial media yang dipakai untuk membagi kutipan dari buku atau tokoh idolamu, pasti bisa mendongkrak citra sebagai sosok aktipis sebanyak 5-10 persen.

Selain buku, kakak aktipis juga sebaiknya membawa serta jurnal penelitian saat mereka liburan di rumah. Ada banyak jurnal dan makalah berbahasa Inggris dan Indonesia, yang bisa diunduh gratis di internet. Ini bisa jadi pleidoi atau alasan seksi untuk menjawab rasa penasaran saudara mereka di rumah: kapan lulus?

3.Perkuat Jaringan

Memperkuat sinyal telekomunikasi atau jaringan internet ini sama pentingnya dengan memperkuat pertemanan. Terutama bagi kakak aktipis yang menghabiskan liburannya di kampung halaman yang tak terjangkau jaringan internet.

Misalkan saat berada di kampus, kakak aktipis sudah khatam belajar soal gerakan buruh di Uni Soviet atau gerakan petani tanpa tanah di Brazil. Kemudian saat turba atau turun ke bawah menemui buruh dan petani, ingin membaca dan menemukan solusi atas persoalan di desa, ingin berfoto bersama mereka, tapi tak punya sinyal internet untuk mengunggah foto di sosial. Kadar kekerenan urung bertambah sebanyak 5-10 persen. Jika tak percaya, silakan kakak aktipis buktikan sendiri.

Tapi berbeda kasus lagi jika momen liburan ini juga dijadikan sebagai fase penenang jiwa. Maksudnya, sekalian berlibur tak perlu ada koneksi internet untuk menghanyutkan diri dalam banjir informasi.

***

Penting dipahami bahwa masih banyak hal menarik yang bisa dilakukan kakak aktipis untuk memobilisasi dirinya seorang saat liburan. Karena itu tak perlu pusing jika liburan anda kurang bahagia. Tinggal mencari warung kopi terdekat lalu duduk di salah satu sudut paling sunyi. Karena ini hanya jeda, seperti bermain catur.

Selamat berlibur kakak aktipis!