BERBAGI

Di kampus saya, sekarang ini sudah memasuki masa perkuliahan seperti biasa, setelah puluhan hari mahasiswa dan mahasiswinya memanjakan diri dengan liburan panjang usai ujian akhir semester yang pekik di kepala. Tapi bagi mahasiswa tua macam saya, masa perkuliahan saat ini rasanya datang terlalu cepat. Baru beberapa hari saya selesai jalan-jalan melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN), kuliah sudah harus dijalani saja.

Suasana kampus pun sudah berbeda karena kehadiran makhluk-makhluk menggemaskan bernama “Maba”. Wajah-wajah baru di kampus saya itu memang menyegarkan mata, tapi juga cukup menyadarkan bahwa saya mulai tua di sini, sudah tidak muda lagi, sudah bukan yang unyu-unyu lagi. Muka-muka mahasiswa lama di atas saya pun semakin tidak terjamah keberadaannya. Menyepi dari hingar-binar kampus, hampir mati terkoyak skripsi.

Proposal skripsi masih belum saya kerjakan, karena ada tugas negara mulia lainnya yang harus segera diselesaikan, laporan KKN. Tapi apa daya, mengenang kembali masa-masa KKN itu membuat makhluk semacam saya malah ingin menikah membuat tulisan ini saja.

KKN merupakan salah satu mata kuliah yang wajib ditempuh setelah mencapai jumlah SKS tertentu. Tujuannya pun baik, salah satunya agar mahasiswa dapat mengaplikasikan ilmu-ilmu yang telah dipelajari selama di perguruan tinggi dan dapat diterapkan langsung ke masyarakat. Bahkan salah seorang pemateri saat pembekalan KKN mengatakan bahwa, KKN dilaksanakan untuk menyejahterakan masyarakat. Aih… Tinggi sekali rupanya ekspektasi terhadap KKN ini. Saya kira, KKN tak lebih untuk melatih mahasiswa agar tidak kuliah melulu.

Jika satu tahun tidak cukup bagi pemerintah desa untuk menyejahterakan warganya, akan menjadi hal yang luar biasa: sepuluh orang mahasiswa KKN diterjunkan ke desa terpencil, ternyata mampu menyejahterakan masyarakat hanya dalam waktu 45 hari saja. Tak peduli apakah mereka sudah cukup mengenal kondisi desa, yang penting sudah dianggap bisa memberikan solusi-solusi praktis kepada masyarakat atas permasalahan-permasalahan yang ada. Super sekali, mari bertepuk kaki dulu.

Namun pada kondisi lapangan yang saya ketahui, kenyataan bisa berbeda dengan ekspektasi awal. Mahasiswa memang merangkai program kerja, tapi pada implementasinya, mereka kadang memiliki pemikiran dan tindakan yang mungkin tidak sesuai dengan harapan. Beberapa sudah saya rangkum, tapi tidak semua mahasiswa KKN seperti itu kok gaes, saya yakin!

  1. Kurangnya Keinginan Untuk Mengabdi kepada Masyarakat.

KKN ditempuh berangkat dari bermacam-macam niat. Yang saya temui, niat mengikuti KKN bukan karena ingin mengabdi kepada masyarakat, tapi karena KKN adalah mata kuliah yang hukumnya fardlu ‘ain untuk ditempuh. Sehingga, KKN terkesan tidak lebih dari sekadar beban yang harus cepat-cepat diselesaikan, bukan sebagai kesempatan untuk mengerti bagaimana kondisi dan permasalahan yang terjadi di masyarakat. Mahasiswa seperti itu tidak salah kok. Yang salah itu saya, KKN hanya sebuah mata kuliah, tapi saya terlalu berharap lebih, seperti mengharap cintamu, Mas.

Keluh kesah pun datang, “Lelah 45 hari hanya demi 3 SKS,” kata salah seorang teman. Ada pula yang berpendapat bahwa KKN tidak perlu diadakan. Lebih baik magang di perusahaan, karena lebih jelas kegunaan ilmu yang diperoleh dari perguruan tinggi. Keluh kesah itu menjadi titik awal saya sadar, ternyata di kampus saya, banyak mahasiswa yang pintar dengan ilmu-ilmu akademiknya, tapi melupakan darimana mereka berasal, dan untuk apa nantinya pengetahuan yang mereka peroleh selama ini, selain untuk masyarakat mereka sendiri.

  1. Prinsip “Yang Penting Dokumentasi”.

Salah satu hal yang perlu dipikirkan tentang KKN adalah kesesuaian program kerja dengan permasalahan yang sebenarnya terjadi di masyarakat, dan seberapa besar manfaat yang akan diperoleh dari program kerja yang akan dicanangkan tersebut. Tapi karena tidak mau ribet, program kerja dirangkai sederhana mungkin dan mudah dilaksanakan.

Berbekal prinsip yang cerdas ala mahasiswa, “Yang Penting Dokumentasi”, yang sederhana bisa terlihat wow. Dokumentasi yang berhasil dikumpulkan, nantinya akan dirangkai sedemikian rupa ketika dicantumkan ke dalam laporan. Tidak peduli apakah sebetulnya program tersebut benar-benar diperlukan, apakah masyarakat benar-benar akan mendapatkan manfaatnya, dan apakah sudah sempurna pelaksanaannya. Cerdas kan? Untuk diri kita sendiri, apa sih yang enggak?

  1. Manja Fasilitas.

Jika mahasiswa-mahasiswa KKN terbiasa dengan fasilitas yang serba ada di rumahnya, di tempat KKN mereka harus belajar dengan keterbatasan, misalnya keterbatasan air dan listrik. Itu akan menjadi tantangan tersendiri selama mengabdikan diri. Begitulah awal mula pemikiran saya mengenai kondisi KKN sebelum saya menempuhnya.

Namun, kondisi berbeda dialami oleh kelompok saya. Ternyata teman-teman saya mampu mendapatkan rumah kontrak dengan air yang melimpah ruah dan didukung fasilitas elektronik seperti televisi, DVD, mic untuk berkaraoke, sound system untuk menyetel musik dangdut, dapur beserta peralatannya, bahkan mesin cuci; meski rumah kontrak tersebut berada jauh dari desa tempat kami KKN. Weenaak.. Dan akhirnya, kami kurang bisa merasakan kehidupan desa seperti apa yang dialami masyarakat, karena yang kami dapatkan melebihi apa yang mereka miliki.

  1. Banyak Bicara, Sedikit Tindakan.

Dengan tingkat pendidikan mahasiswa-mahasiswa KKN yang lebih tinggi daripada rata-rata pendidikan penduduk pelosok, diharapkan mahasiswa dapat melakukan tindakan-tindakan yang dapat memberikan dampak baik untuk desa. Strategi-strategi praktis program kerja pun diutarakan dengan gaya intelek. Warbiyasahh.. Namun pada pelaksanaannya, kadang tidak sehebat dengan cara bicaranya. Malas untuk bergerak, sibuk bermain gadget, malas melakukan pendekatan dengan masyarakat, dan perilaku sejenis itu. Lalu, dimana letak mahasiswa intelek yang katanya bisa melakukan banyak tindakan? Apakah hanya tindakan mulut yang bisa diberikan?

Meski demikian, saya cukup tahu diri, mahasiswa seperti itu tetap lebih mengagumkan daripada saya. Mereka pintar beretorika ulalaa, sedangkan saya tidak pandai bicara, bahkan tidak suka. Di dunia maya pun, mereka lebih mengagumkan karena selalu mengupload foto-foto dengan caption sejenis “lagi KKN nich…” Sedangkan saya terlalu jadul untuk mengerti pentingnya menjaga eksistensi diri di media sosial layaknya mbak-mbak bergincu yang ngehitz.

  1. Cinta Lokasi dan Perselingkuhan.

Di dunia ini, hal apa sih yang lebih indah selain jatuh cinta? Jika beruntung, baik mahasiswa yang jomblo ataupun yang sudah memiliki kekasih, akan menemukan makhluk Tuhan paling indah, yang bikin hati kecantol. Meski mempunyai kekasih yang jauh di mata, itu tidak menjadi halangan untuk mendekati seseorang, karena yang jauh bisa disingkirkan terlebih dahulu. Oh, Rangga. Yang kamu lakukan ke saya itu… jiiiiaaaaammm…..…ban!

Dan, perihal keputusan memilih kekasih yang lama atau ganti dengan yang baru, itu soal belakangan. Yang terpenting saat itu adalah, ia dapat menikmati karunia Tuhan yang ada di depan mata, setiap hari, sepanjang hari –sebagai tempat cuci mata dan sumber semangat masa-masa KKN. Rasa jenuh saat melaksanakan program kerja bisa digantikan dengan semangat yang berkobar, semangat berpacaran. Sampai-sampai tujuan utama berada di desa hanya untuk menikmati dunia mereka sendiri, dunia lain.

Tak jarang, kisah cinta lokasi dan perselingkuhan tersebut berdampak buruk pada kinerjanya dalam kelompok. Teman-teman lainnya menjadi tidak begitu dipedulikan, karena urusan individu lebih diutamakan. Tentu yang merasa paling nestapa adalah mahasiswa yang masih menjomblo. Wes nggak punya pasangan, apa-apa dilakukan sendiri. Hari-hari pun terasa semakin sepi karena tidak dipedulikan oleh teman-temannya yang terjebak cinta lokasi. Yang masih jomblo ingin KKN segera selesai, sedangkan mereka yang merasakan cinta lokasi, sama sekali tak ingin dunia indahnya berakhir begitu saja.

Gaes, KKN belum tentu bisa menyelesaikan masalah yang ada di masyarakat dengan praktis. Kita tahu bahwa kadang niat awal mahasiswa menempuh KKN itu bukan untuk mengabdi. Meski ada pula mahasiswa yang menunggu momen KKN agar bisa secara langsung merasakan bagaimana kondisi masyarakat dan berbuat untuk mereka, setelah melihat peliknya kehidupan warga desa. Tapi mahasiswa seperti itu saya rasa masih nyasar di negeri antah-berantah.

Jika “beruntung”, dengan KKN mahasiswa akan terlatih untuk bersikap kritis; menyadari tentang kebobrokan pemerintah daerah dalam melayani masyarakat, kondisi perekonomian desa yang tak kunjung membaik, buruknya infrastuktur daerah yang tak kunjung diperbaiki, dan hal-hal lainnya yang bisa menyentuh hati, membuka mata, dan mendorong tindakan-tindakan mahasiswa yang biasanya sibuk dengan urusan akademiknya saja. Itupun jika terbuka hatinya, atau ternyata mereka masih peduli dengan gadget-nya saja. Melupakan bahwa di balik ilmu akademik yang mereka tempuh, ada tanggungjawab moral di balik itu.

Bisa seutuhnya mengabdikan diri, itu ekspektasi yang terlalu tinggi. Menurut saya, tak usah muluk-muluk. Bisa terbuka hatinya saja itu sudah bagus, tentu akan lebih bagus lagi jika disertai dengan tindakan. Sebut saja : KKN untuk “BELAJAR” mengabdi kepada masyarakat, bukan mengabdi kepada masyarakat. Sepele saja, tidak berlebihan. Supaya tidak kecewa-kecewa amat pada akhirnya.