BAGIKAN

Mang Niki, panggilan akrab salah satu pengelola komunitas belajar Rumah Bintang untuk anak-anak di Bandung. Ia sedang melakukan distribusi album musik yang berisi 10 lagu karya anak-anak Rumah Bintang. Tujuannya beberapa perpustakaan alternatif di beberapa daerah sepanjang Bandung sampai Lombok. Perjalanan ini ia tempuh sendiri menggunakan motor dan menamai perjalanannya dengan #tournyanyiananakbintang.

Bulan lalu, tepatnya 22 Februari 2018 saya mendapat kabar dari Sadam. Ia salah satu pengelola Amorfati Library, sebuah perpustakaan jalanan yang ada di Jember. Sadam mengatakan bahwa Mang Niki sedang mampir ke Jember untuk berbagi CD album produksi Rumah Bintang. Saat itu saya hanya bisa bersedih karena sedang pulang ke rumah dan tidak bisa bertemu Mang Niki. Harapan mendapat petuah tentang pentingnya berkorban untuk mendapatkan si doi menjadi gagal.

Saya masih percaya bahwa harapan adalah kunci pamungkas untuk mempertahankan hal yang kita sayangi. Dan hal itu datang melalui pesan singkat dari Sadam. “Mang Niki akan mampir Jember kembali setelah dari Lombok”. Senang bukan main batin ini. Harapan untuk mendapat petuah itu akan menjadi kenyataan.

Selepas maghrib pada 26 Maret 2018 saya menuju Pawon, sebuah kafe sekaligus laboratorium seni yang digawangi oleh Ghuiral. Seorang pemuda harapan bangsa dan dedeq-dedeq emes dari segala penjuru dunyah. Di sanalah saya bertemu dengan Mang Niki.

Kali pertama bertemu Mang Niki muncul angan-angan bahwa jarak Bandung-Lombok itu hanya fiktif. Alasannya ada dua. Tubuhnya kurus dan murah senyum terhadap orang yang baru kenal seperti saya. Jarak 1300-an kilometer dengan tubuh kurus? Tentu banyak orang sepakat dengan saya yang mensyaratkan pengendara motor harus memiliki badan yang berisi. Kemudian melalui jalan yang cukup banyak preman di setiap daerah dengan murah senyum? Saya kira sikap ini bukan pilihan tepat. Bisa jadi kamu akan menjadi objek ‘empuk’ bagi kawanan preman di setiap daerah.

Memperjuangkan nasib generasi bangsa dengan literasi di tengah semrawutnya dunyah kamu anggap fiktif? Pantas saja kamu sendirian saat teman-temanmu sedang kencan. Karena kamu tidak berkorban waktu, pikiran dan perasaan untuk mendapatkan si doi. Malam itu saya dan teman-teman ngobrol panjang dengan Mang Niki. Ia membagikan pengalaman merawat anak-anak generasi bangsa melalui Rumah Bintang kepada kami.

  1. Tempat nyaman

Langkah pertama adalah menyediakan tempat yang nyaman bagi anak-anak. Konsepnya seperti sebuah rumah. Melindungi dari panas dan dinginnya cuaca. Jangan lupa untuk menyediakan berbagai jenis permainan. Biarkan anak memilih permainan yang ia suka meskipun harus berantakan.

Seperti doi yang cerita tentang mantan pacarnya. Meskipun menguras tenaga sampai kamu lapar, tahan saja. Buat dia nyaman sehingga tidak ada yang bisa memberikan kenyamanan selain kamu. Tapi jangan nelikung pacar teman sendiri ya.

  1. Variasi kegiatan

Ketika anak-anak sudah merasa nyaman berikan kegiatan yang variatif. Hal ini untuk menghadapi titik jenuh yang bisa muncul kapanpun dari anak-anak. Menambah jumlah permainan atau membuat kegiatan di luar ruangan misalnya.

Sesekali kamu traktir makan atau nonton film. Buat dia tahu, selain nyaman untuk curhat mantan pacarnya. Kamu juga bisa menghilangkan jenuhnya menangis tiap ingat mantan dengan bersenang-senang.

  1. Ikut kegiatan

Meski menambah permainan baru tidak menjamin anak-anak tidak jenuh. Atau kemungkinan teburuk mereka tidak lagi berkumpul bersama kita. Entah faktor keluarga, teman sekolah, guru, atau lingkungan sekitar. Maka kita coba mengikuti kegiatan mereka. Selain mengetahui penyebab dia tidak datang lagi, kita juga akan menjadi semakin dekat dengan mereka.

Kesedihan yang diakibatkan putusnya hubungan asmara bukan main dahsyatnya. Oleh karena itu pada fase ini dia mencari tempat paling nyaman dari beberapa tempat nyaman yang ada. Pasang kuda-kuda, siapkan dirimu untuk selalu ada untuknya.

  1. Komitmen

Setelah mengetahui permasalahan yang sedang dihadapi anak-anak ada penentuan: ia akan tatap bersama kita atau tidak lagi mau bergabung bersama kita. Jika dia ingin tetap bersama kita, buat satu komitmen kebersamaan bersama anak-anak. Hal ini untuk memudahkan interaksi kita selanjutnya. Seperti aturan ketika berada di rumah misalnya. Merapikan tempat tidur setelah digunakan, membuang sampah di tempat sampah, atau aturan-aturan lainnya. Biarkan anak-anak membuat aturannya sendiri. Ketika mereka tidak menjalankan aturan tersebut maka kita mengingatkan siapa yang membuat aturan itu.

Kamu mau bertahan pada posisi selalu ada untuknya tanpa ada status hubungan yang pasti? Kalau menurutku sayang jika satu tahap penentuan tidak dilakukan. Ini bukan soal sia-sia dari sebuah perjuangan, tapi sikap sebagai lelaki yang harus bertanggungjawab atas apa yang sudah dimulainya.

Empat tahap di atas, menurut saya, sudah cukup dalam usaha merawat anak-anak generasi bangsa melalui literasi. Semoga semakin banyak anak-anak generasi bangsa yang esok nanti memberikan konsumsi yang sehat pada anak-anak. Tidak seperti sekarang, audio dan visual maupun audio-visual menjadi konsumsi tidak layak bagi anak-anak alias sampah informasi. Sebagai catatan, ada tahap, metode dan banyak hal yang belum tertulis di sini. Sila hubungi Mang Niki untuk informasi lebih lanjut. Juga ia tidak pernah memberikan tahapan merawat anak-anak generasi bangsa dengan analogi hubungan asmara. Tiada niat lain selain untuk memudahkan pembaca tuna asmara yang berjajar-jajar di pulau-pulau di Indonesia.