BAGIKAN

Menunggu acapkali menjadi bagian dari hidup yang sebisa mungkin kita hindari. Terobosan berbasis teknologi membantu memangkas penantian kita. Pesan tiket tak perlu lagi menunggu di loket, tinggal pakai aplikasi. Cek saldo tak perlu lagi antri di bank atau ATM, tinggal pakai mobile banking. Ingin dengar lagu kesukaan tak perlu request via SMS terus mantengin radio, tinggal unduh ilegal, hehe.

Monmap, kepada sobat permusyiqan sekalian bila menyinggung sanubari indie yang ada dalam diri.

Sayang sekali, belum ada aplikasi yang mempercepat pertemuan kita dengan dosen pembimbing. Padahal menunggu dosen pembimbing adalah salah satu faktor penghambat laju pengerjaan skripsi. Ratusan lembar skripsi yang kalian kerjakan, akan sia-sia jika tidak bertemu dengan dosen pembimbing dan mendapat persetujuan. Bahkan UKT yang kalian bayar dengan kekayaan yang melebihi Atta Halilintar, juga akan sia-sia.

Enak kalau dapat dosen yang cepat tanggap dan paham teknologi. Bikin janji bimbingan bisa mensyen di Twitter. Sayangnya, tidak semua dosen responsif dan suka ngegas seperti Bambang Widodo. Tidak semua profesor jitu seperti Mprof Picoez. Ada dosen yang baru pasang Whatsapp dan Telegram tahun kemarin, karena tuntutan birokrasi kampus. Ada yang sudah janjian, tidak menepati. Ada yang ke kampus cuman setor sidik jari. Ada yang ditungguin di depan jurusan selama tiga jam, ditinggal ke toilet sebentar, doi balik.

Taek memang! Zifilia, melalui radio yang saya dengar, menyebutnya“menunggu sesuatu yang sangat menyebalkan bagiku”.

Namun jangan sekali-kali berani salahkan dosen pembimbing. Blio pasti ada urusan lain yang lebih mendesak, sehingga tidak dapat ditemui. Blio berjasa memberi ilmu dan menjaga nama baik kampus. Akreditasi kampus, kenaikan pangkat, diesnatalis kampus, debat calon dekan, dana organisasi mahasiswa (ormawa), ormawa sehat, kampus bersholawat, pegelaran wayang, kolam yang menghiasi tiap sudut kampus, itu semua siapa yang urus kalau bukan blio. Sungguh tanpa tanda jasa. Bangga saya.

Menunggu merupakan tugas mahasiswa. Itu adalah marwah suci yang patut kita banggakan. Kita tidak boleh menyerobot, mengambil jalan pintas untuk tidak menunggu dosen pembimbing. Ingat, ada ribuan pedjoeang skripsi yang senasib. Percayalah, meski harus menunggu sekian jam, hari, bahkan minggu, niscaya dosen pembimbing akan luluh dan mau menemui.

Saya dan kawan-kawan biasa menunggu dosen pembimbing di depan ruang jurusan. Itu kiat efektif untuk menghardik atau memergoki blio. Agar menunggu tak terasa membosankan,berikut beberapa hal yang bisa kalian lakukan sambil menunggu dosen pembimbing di depan ruang jurusan.

1.Membaca Buku

Pasca pemilihan umum kemarin Nicholas Saputra, sang pemersatu bangsa Indonesia, unggah swafoto perdananya. Kegantengannya yang tak lekang oleh waktu itu mengingatkan saya dengan sosok Rangga dalam film Ada Apa dengan Cinta. Ingat tidak kalian berbagai scene ketika Rangga baca buku di sudut marjinal sekolah terus nongkrong di Kwitang. Atau ketika Om Nicsap nongkrong di gunung sambil menulis catatan, memerankan Gie. Sobat-sobat literasy masa tidak gemas?

Nah, sebagai pengaggum Nicsap, ada baiknya mengikuti passion dari peran-peran pemersatu bangsa yang ia mainkan. Tidak perlu bawa buku Class and Class Conflict in Industrial Society yang tebalnya 350-an halaman. Usahakan buku yang kalian baca tidak memforsir intensitas mengawasi pintu jurusan, memantau apakah dosen pembimbing sudah datang.

Sekarang kan nge-trend tuh buku yang isinya quote keluhan, yang gambarnya penuh warna. Kalau misqeen dan tidak sanggup beli buku, minimal baca buku saku pramuka biar hidup selalu dasa dharma. Karena membaca adalah melawan. Betul tidak, sobat literasy sekalian?

2.Main HP

Sebelumnya, pastikan batrai penuh. Bawa power bank bila perlu. Matikan pakai paket data karena ada hotspot geratis untuk sobat misqeen. Kalau sudah pegang HP, niscaya dunia dalam genggaman. Saya sarankan jangan main game semacam PUBG atau Mobile Legend. Jangan! Terutama Mobile Legend. Kenapa? Karena cocot para pemain Mobile Legend sedunia itu bwuosoook.

Buka media sosial saja. Panjat sosial. Biar lebih faedah, sekalian pantengin cuitan Rocky Gerung atau lihat video takbir Neno Warisman. Gak usah baca siksakampus.com. Media apa itu?

3.Bercengkrama dengan Teman Empat Sampai Lima Orang

Dua aktivitas di atas rentan menggiring opini publik, mencap kalian sebagai antisosial. Mengobrol bersama kawan senasib seperjuangan di depan ruang jurusan, bisa jadi solusi terbaik.

Obrolan dengan mereka membuat sadar, bahwa kalian tidak sendiri. Berbagilah kiat mengerjakan tugas akhir pakai sumber wikipedia dengan cepat. Dari mereka, kalian juga bisa dapat solusi agar bisa menemui sang dosen pembimbing. Mengobrol santai soal hidup yang fana ini juga boleh. Syukur-syukur ngobrolnya sambil mimik amer. Kapan lagi bisa mabuk di depan ruang jurusan.

4.Memikirkan Doi

Taek-lah semua saran-saran di atas. Menunggu dosen pembimbing yang hanya beberapa minggu atau bulan itu tidak ada artinya. Bandingkan dengan usaha menunggu doi putus dengan pacarnya. Setelah menunggu bertahun-tahun, malah tunangan. Atau bertahun menunggu balasan doi di Blackberry Messenger (BBM). Sampai BBM tutup, pesan tak kunjung berbalas. Menunggu doi ajak balikan, ternyata gak balik-balik.

Menunggu memang menyebalkan. Apalagi menunggu doi. Makanya menunggu dosen pembimbing jadi lebih mudah kalau sambil memikirkan doi. Ingat, kalian sudah diwanti-wanti oleh Zifilia lewat radio sejak SD.

Selamat menunggu!