BAGIKAN

Perkenalkan, Nama saya Dominikus Wimpie Fernandez, Katolik yang lahir dan besar di sudut Kota Surabaya. Menurut sebagian besar masyarakat, sudut satu ini sarat akan sejarah. Itulah sudut jalan Tembaan, nama jalan yang berasal dari bahasa Madura yang artinya tembakan. – sementara orang Madura biasa menyebut jalan dar-der-dor.

Kenangan di Kampung Tembaan

Kurang lebih 20 tahun, keluarga saya tinggal di Tembaan – (sebelum akhirnya pindah rumah). Banyak kenangan yang tidak bisa melupakan, khususnya bersama kawan-kawan sebaya.

Bukan anak kampung namanya kalau tidak pernah bermain bola. Itu pun yang saya lakukan bersama kawan-kawan sekampung, mereka yang kebanyakan beragama Islam. Setelah bermain bola, kami duduk-duduk di halaman salah satu rumah teman. Sambil menyeruput es teh terbungkus plastik, kami bercerita ngalor ngidul. Ujungnya selalu bercanda mulai umpatan nama orang tua hingga sindiran berbau agama.

“Oh, ancen raimu koyok babi” celetuk salah satu kawan, menyindir saya yang Katolik.

Saya pun menimpali dengan “Yo awakmu iku koyok kambing. Ambune basin”.

Tapi olok-olok itu tidak pernah berakhir dengan tuduhan ujaran kebencian, apalagi pelecehan agama. Tidak ada dari kami yang tersinggung, justru saling menebar senyum dan saling memegang pundak. Ya tentu karena pertemanan yang begitu akrab, jadi jangan sekali-kali mengatakan demikian pada orang yang baru dikenal, apalagi di depan tempat ibadah.

Kesantuyan kami tidak lepas dari tingginya keberagaman antar umat beragama di Kampung Tembaan. Meskipun mayoritas penduduknya beragama Islam.

Bulan Ramadan menjadi bulan istimewa bagi kaum muslim, termasuk kawan-kawan saya yang muslim dan saya yang katolik. Sehabis buka puasa kami bermain, apa saja berbagai permainan anak kampung. Malamnya kami melekan atau begadang di masjid. Ngobrol santai dan bercanda hingga waktu sahur tiba. Bagi Katolik seperti saya, tentu bukan hal biasa masuk ke masjid, apalagi saat ikut membangunkan orang-orang untuk sahur menggunakan toa masjid. Tentu saja saya takut pada awalnya, tapi tak pernah saya menyesali pengalaman itu.

Hingga saat Idul Fitri tiba, saya bersama orang tua dan almarhum nenek datang mengunjungi beberapa rumah yang memang dekat dengan keluarga saya. Melihat kerukunan itu, sangat tenteram dan bahagia rasanya.

Pengalaman lain yang tidak pernah saya lupakan ketika diajak salah seorang kawan bernama Usman. Pemuda berperawakan kurus tinggi ini anak pondokan, sebelum memilih keluar karena mendambakan kebebasan. Usman tiba-tiba datang menggunakan busana atasan kaos oblong dan bawahan sarung motif kotak-kotak. Mendatangi saya dan kawan lainnya yang sedang nongkrong di gang.

“Rek ayo tah’lilan nak omah e Pak Sugeng. Lumayan sego padang” ajaknya.

Memang sedang ada acara tahlilan di salah satu rumah warga. Tanpa pikir panjang anak-anak langsung bergegas ke rumah masing-masing, sedangkan saya bengong. Tak tahu harus bagaimana.

“Dom, ayo sisan melu tah’lilan” ajak Usman lagi.

“Mosok gawe kaos ambek katok endek” jawab saya datar.

Ia langsung berlari ke rumahnya, mengambil sarung lalu memberikan pada saya.

“Gawe nen sarung iki. Ndang cepetan, selak buyar terus aku nggak entuk sego kotak’an” perintah Usman.

Saya gunakan sarung Usman lalu ikut tah’lilan. Sepanjang pengajian, saya mirip kebo (tadi Babi, sekarang Kebo), tengok kanan tengok kiri dan diam seribu bahasa. Orang-orang yang mengenal saya hanya melihat. Ada juga yang tersenyum. Hanya satu yang saya takutkan, kalau ditanya papa, mama dan almarhum nenek, saya harus menjawab apa.

Selesai tah’lilan, Usman berkata, “Ya opo rasane melu tah’lilan?” tanyanya sambil cengengesan.

Saya hanya tersenyum. Melihat saya yang menjawab ragu-ragu, tangan kanan Usman memegang pundak saya sembari tangan kirinya memegang erat nasi kotak yang ia idamkan. Mungkin ia khawatir, saya merasa berdosa atau mendadak mualaf.

”Masio awak dewe bedo agama, seng penting iso ngeregani ambek hormati agama liyane. Nggak onok maksud liyane. Setuju rek?” kata Usman.

“Setuju. Saiki wayah e mangan sego padang e Sugeng,” jawab lainnya.

Kami makan lahap malam itu lalu pulang ke rumah masing-masing. Malam semakin indah karena hingga saat ini, orang tua dan almarhum nenek tidak tahu kalau saya pernah mengikuti tah’lilan. Pengalaman hidup yang sangat berharga dan saya tidak pernah menyesal.

Tidak hanya saya yang banyak mengikuti teman-teman yang muslim. Ketika perayaan natal tiba, Warga Tembaan berduyun-duyun menyempatkan diri untuk datang ke beberapa rumah penganut agama Nasrani. Memberi ucapan selamat natal sembari bersilaturahmi. Tidak ada sekat atau batasan kala itu. Mereka sadar, silaturahmi merupakan salah satu corak bangsa Indonesia untuk menjaga kerukunan umat beragama.

Semua Berbeda Setelah Pindah Rumah

Selepas SMA, kami sekeluarga pindah rumah. Masih di Surabaya namun rasanya sangat berbeda. Saat Natal tidak ada warga yang berduyun-duyun datang ke rumah kami. Hanya sepasang suami istri, tetangga dekat yang tidak jauh dari rumah saya. Sementara tetangga kanan kiri, depan belakang tidak ada yang datang.

Mama dengan bijak mencoba berprasangka baik, “Mungkin mereka melihat kita orang baru. Paling masih sungkan,” kata Mama.

Nyatanya hingga tahun berlalu, tetap saja tidak banyak berubah. Jangankan datang, saat bertemu di depan rumah atau saling berpapasan saja mereka tidak memberikan ucapan. Padahal ketika momen Idul Fitri, orang tua, kakak dan saya sendiri memberikan ucapan, tapi kenapa sikap mereka masih tetap saja.

Sebagai remaja saat itu, saya mengalami shock culture jika bisa disebut demikian. Rasa gusar mendorong saya bertanya kepada orang tua. Apa yang salah dengan kita sehingga mereka tidak mau memberikan salam kepada pemeluk agama lain?

“Budaya, sifat dan latar belakang tetangga kita ini berbeda dengan Warga Tembaan. Sudah tidak apa-apa. Kita harus tetap baik sama semua orang. Bukankah semua agama itu mengajarkan kebaikan?” mama memberi pengertian.

Sebenarnya saya tidak mengharapkan ucapan selamat natal. Saya hanya merindukan Tembaan dan warganya. Merindukan kehidupan yang harmonis dan toleran. Saya jadi membandingkan toleransi di kawasan yang warganya memiliki latar pendidikan dan pekerjaan moncer sangat berbeda dengan kampung Tembaan yang dihuni orang-orang kecil.

Karena mama, saya berjanji untuk tetap menghormati mereka yang berbeda. Tetap melakukan kebiasaan cangkruk bareng di pos bersama warga sekitar saat bulan puasa. Sembari berharap kerukunan umat beragama dapat terjaga secara utuh.

Saya rasa harus berterima kasih pada warga Tembaan. Sebab di sana banyak belajar toleransi dari pengalaman kocak di masa remaja. Sekarang waktunya saya menerapkan sikap toleransi kepada semua umat manusia bahkan kepada mereka yang belum bisa menghargai keberagaman di Bumi Pertiwi ini.

Beberapa kisah di atas awalnya tidak ingin saya bagikan kepada siapa pun kecuali sahabat, istri serta anak-anak saya kelak. Namun, apalah daya, saya tergoda saat seorang kawan menawarkan untuk menulis di siksakampus. Jadilah tulisan ini dibaca Anda sekalian. Tulisan ini sebagai rasa terima kasih sebab masih diberi hikmat oleh pencipta untuk menulis.