BAGIKAN

Dulu, di penghujung semester tiga, saya pernah mengajukan permohonan cuti kuliah. Entah kenapa saya cepat sekali bosan dengan rutinitas kampus. Saya seperti kehilangan kesan tentang perkuliahan yang saya bangun dalam kepala saya ketika dulu belum menginjak bangku kuliah. Ditambah lagi beban pekerjaan, yang sebanarnya nggak berat-berat banget. Saya akhirnya menyadari bahwa saya sedang berada pada sebuah titik jenuh perkuliahan dimana banyak hal yang nggak enak berakumulasi.

Walau terlihat sepele, perjuangan untuk mendapatkan persetujuan cuti itu saya rasakan lumayan berat. Kalau jij –jij sekalian pernah tau ribetnya birokrasi di Indo ini, maka birokrasi kampus saya sedikit banyak begitu juga. Saya harus bolak-balik beberapa kali karena njlimetnya prosedur, walaupun lebih banyak karena kebodohan saya, sih. Namun ternyata, hasil menyelingkuhi perjuangan saya waktu itu karena wakil dekan menolak permohonan cuti saya. Saya jadi mengerti perasaan Anang Hermansyah waktu ditinggal KD. Hmmm, #SaveAnang. Dunia mendadak kelam, dan ketika melewati ruangan dekanat,  saya mulai berharap gedung biru FKIP Universitas Riau Kepulauan itu dihantam badai dan roboh. Bukannya apa-apa, saya sudah kadung nggak masuk selama dua minggu karena terlalu percaya diri permohonan cuti itu bakal jebol. Selang dua semester dari kegagalan itu, baru permohonan cuti saya disetujui.

Ketika saya mengungkapkan keinginan saya untuk ambil cuti kuliah kepada keluarga dan beberapa kawan dekat,  yang  lebih sering saya dapat adalah pernyataan yang menyayangkan keputusan saya. Ibu bahkan mengancam akan mencoret saya dari daftar penerima warisan (Oke, saya mabuk sinetron). Tak ada satupun orang yang mendukung rencana saya waktu itu. Beruntung masih ada beberapa orang yang mengerti. Bapak adalah orang yang paling terlihat kecewa mendengar ide saya itu. Saya mafhum karena dari tiga bersaudara, yang paling potensial untuk menjadi sarjana adalah saya. Beliau tentu menaruh harapan besar pada saya . Harapan untuk punya anak seorang sarjana. Klise memang, tapi ya begitulah orang tua.

Beberapa kawan sepakat bahwa kuliah memang terasa agak berat karena kita juga harus bekerja. Namun mereka belum melihat cuti sebagai pilihan. Mereka menyayangkan keputusan saya dengan alasan bahwa segala kerumitan perkuliahan harus segera diakhiri dan satu-satunya cara adalah dengan lulus secepat-cepatnya. Suatu alasan yang saya simpulkan sebagai sebuah kecacatan berfikir kemudian. Tapi saya haqqul yaqin dengan pilihan yang saya ambil ini. Saya paham dan sudah barang tentu siap dengan segala resiko jika keputusan ini saya jalankan. Bagaimana kemudian ada dua orang tua saya yang harus diyakinkan bahwa saya bakal tetap melanjutkan kuliah. Bahwa saya juga akan mewujudkan keinginan mereka untuk punya seorang anak bergelar sarjana. Bahwa saya bakal melanjutkan kuliah tahun depan. Dan selanjutnya, dan selanjutnya.

Akhirnya kini saya membuktikan, bahwa bisa jadi, coethi adalah koentji. Kunci bagi banyak kebahagiaan dan hal-hal baik lainya dalam hidup kita, paling tidak itu terjadi pada diri saya. Dan saya akhirnya memutuskan bahwa memandang cuti sebagai  tindakan yang salah justru adalah sebuah kesalahan. Berikut saya ringkaskan pandangan saya soal cuti, yang jika dilihat dari sisi yang lain nggak buruk-buruk amat.

1. Cuti adalah strategi

Dalam “36 Strategi Perang” yang ditulis oleh Sun Tzu (Saya tak paham bagaimana melafalkannya dengan benar) ada sebuah strategi yang dinamakan “Lari untuk bertempur di lain waktu”. Kalau strategi buatan saya disebut “Lari dari kenyataan”, Ehehehe. Strategi ini merupakan strategi nomer bontot dari 36 strategi yang dipaparkan oleh Bung Sun Tzu itu. Ini rahasia loh ya, sebenarnya saya sedang mengimplementasikan strategi itu dalam konteks perkuliahan. Jadi, dalam strategi itu dijelaskan, ketika sources kita amblas, amunisi kandas dan pasukan tumpas, pilihan paling rasional dalam keadaan pertempuran adalah lari. Yang perlu digaris bawahi disini adalah bahwa lari bukan merupakan suatu deklarasi atas sikap menyerah atau kekalahan. Ia sejatinya merupakan pilihan rasional yang diambil setelah berhitung soal peluang dan resiko.

Dalam peperangan, ketika pihak kita mengalami keadaan yang kurang baik (persentase kemungkinan kalah lebih besar ketimbang kemungkinan menang), hanya ada tiga pilihan sebenarnya. Pilihan yang pertama adalah menyerah, yang berarti kekalahan total. Dalam perkuliahan, tentu kita semua pernah melihat kekalahan menyakitkan model ini. Kawan-kawan yang memutuskan mundur dari jurusan atau memutuskan berhenti kuliah karena merasa berat dengan pelajaran di jurusannya adalah orang-orang yang bisa kita golongkan ke dalam jenis ini. Tak perlu menaruh iba pada mereka, salah sendiri nggak mikir waktu milih jurusan. Rasakno, Wkwkwkwk.

Pilihan yang kedua bisa kita sebut sebagai kompromi. Dalam keadaan ini, kita tak kalah total, tapi ya kalah juga. Mau dibilang kalah enggak, mau dibilang enggak ya kalah. Bingung? Sama. Intinya kita menyerah dengan cara yang aduhai diplomatis sekali, dan kita menolak untuk disebut kalah. Cara ini dipakai kalangan kerajaan pada masa kolonial dulu, dasar oportunis. Dalam konteks perkuliahan, mahasiswa dalam mazhab ini adalah mereka yang tetap melanjutkan perkuliahan walau mereka tak sepenuhnya ingin. Mereka tetap datang ke kelas walau hati mereka berada entah dimana, alasannya bisa beragam mulai dari rasa tanggung jawab kepada orang tua sebagai investor, karena bingung jika tak kuliah hendak melakukan apa, atau mereka hanya datang untuk mengejar lulus cepat. Perkara isi kepala dan kompetensi, nanti sajalah dipikirkan. Saya menyesal karena beberapa kawan sekelas (dulu) memilih mazhab ini dalam bersikap.

Akhirnya tinggal satu pilihan, pilihan pamungkas yang merupakan perwujudan dari strategi no.36 dalam karya legendaries itu. Ya, lari. Lari untuk menyusun kembali kekuatan kita. Alih-alih berkonfrontasi dengan musuh secara langsung di medan perang, saya saat ini sedang mundur untuk menyiapkan segala sources yang menipis dan hampir habis dalam peperangan (perkuliahan). Sebut saja semangat belajar, pendanaan, dan juga pemahaman terhadap materi-materi kuliah. Jika kita ibaratkan  kampus dan segala hal yang mengitarinya adalah medan perang, maka sudah jelas bahwa musuh utama kita adalah dosen yang nggak mampu membuat mahasiswa nyaman dan birokrasi yang njlimet.

Ketika cuti, saya punya lebih banyak waktu untuk membaca banyak buku dan mendalami materi perkuliahan, sesuatu yang memang agak sulit kami lakukan dalam perkuliahan normal. Perkara bacaan saya tak nyambung dengan jurusan kuliah dan pemahaman yang mungkin saja salah ya lain cerita. Yang penting saya tidak berhenti belajar. Saya juga bisa mengisi waktu dengan ngajar kursus atawa bimbel, yang hasil dari kegiatan itu lumayanlah buat nambah duit kuliah nanti. Dan yang terpenting adalah, saya bisa melakukan banyak hal menyenangkan yang entah ada hubungannya atau tidak dapat memperbaiki semangat kuliah saya.

Mengapa harus memilih membiarkan diri terjerat dalam suasana yang tak mendukung kita menjadi kreatif dan produktif ketika ada pilihan untuk memilih suasana baru yang bisa jadi menyenangkan.

2. Naik ke permukaan dan mengambil nafas.

Bagi teman-teman di luar Batam, mungkin sulit memahami kultur mahasiswa dan perkuliahan kami disini. Saya pikir terlalu jauh jika bicara panjang lebar soal cita-cita reformasi yang mulia itu, mahasiswa Batam kebanyakan tak paham akan hal itu. Apa saya berlebihan, ya silakan coba buktikan. Ketimbang hal-hal ruwet macam itu, kami sudah lebih disibukkan dengan jam kerja dan segala macam bebannya, juga ruwetnya me-manage waktu antara kerja-kuliah dan usaha untuk tetap terlihat gaul. Sesuatu yang wajar karena selain mahasiswa, kami juga adalah pekerja.

Kami harus bangun di pagi hari untuk berangkat bekerja, menyebar di berbagai pabrik, galangan kapal, mall, dan kantor-kantor untuk kemudian menuju tempat yang sama pada sore menjelang malam hari : kampus. Kadang, kami harus berpacu dengan waktu di jalanan untuk mengejar kelas yang mungkin sudah dimulai. Tak jarang, kawan-kawan kuliah terpaksa masuk kelas dengan seragam kerja atau wearpack karena memang tak sempat pulang ke rumah masing-masing. Dan heroiknya adalah, itu harus kami hadapi selama empat tahun (kalau cepat). Bahkan ada seorang teman, sebut saja namanya X, yang tentu juga  adalah mahasiswa cum pekerja yang harus masuk kerja full selama 7 hari. Ini tentu tidak seindah lagu mellow yang dinyanyikan oleh Tulus: tujuh hari dalam seminggu. Kawan saya itu membuat kesepakatan dengan atasan di perusahaannya untuk pulang satu jam lebih awal dari waktu kerja agar tidak terlambat datang ke kampus. Konsekuensinya adalah, akumulasi dari satu jam dalam 6 hari itu harus Ia ganti pada hari minggu, yang harusnya adalah waktu istirahatnya. Praktis Ia tak lagi mengenal apa itu libur.

Ngeri memang hidup di Batam itu kalau kawan mau tau. Ibarat berenang, perkuliahan adalah kolamnya. Dalam berenang itu, kita mungkin saja kuat berlama-lama di bawah permukaan air, namun tanpa mengambil nafas, kita akan lemas. Jika sudah begitu, apa yang bisa kita harapkan dari seorang perenang yang sudah kehabisan tenaga? Si perenang mungkin saja sampai pada titik finish, tapi dalam keadaan yang tentu tak lagi maksimal. Silakan lihat berapa banyak lulusan yang tidak kompeten dan bingung dengan jurusan yang selama kurang lebih empat tahun diseriusinya. Yuk, pada cuti.

3. Cuti ≠ tidak belajar

Jika ada yang menganggap bahwa cuti adalah sama dengan tidak atau berhenti belajar, tentu orang tersebut bagus sekali untuk diajak berkelahi. Memangnya apa hubungannya berhenti dari kegiatan akademik kampus dengan berhenti belajar. Saya pribadi berpendapat  bahwa bisa jadi mahasiswa yang cuti memiliki waktu lebih banyak untuk belajar, membaca, mengobservasi dan juga menganalisis sesuatu. Sederhana, karena kita memiliki waktu luang dibanding kawan-kawan lain yang tetap kuliah, apalagi sambil bekerja.

Lagian, nggak semua manusia yang duduk manis di kelas itu belajar, nggak semua ya, plis digaris bawahi. Jadi, di dalam atau di luar kampus, itu hanya soal penamaan, sedangkan belajar bisa dimana saja. Karena kenyataannya dinamika masyarakat jauh berbeda dengan dinamika kampus, dan selain sebagai mahasiswa kita juga adalah bagian dari masyarakat,tentu sangat perlu belajar di dalam lingkungan keduanya. Saya suka sekali itu proverbnya orang Minang, “Alam takambang jadi guru”.

Walau saya cuti, saya masih belajar kok. Bukannya apa-apa, malu dong terlihat awam sama adik-adik tingkat kelak.

4. Kuliah itu fana, ilmu dan kontribusi yang abadi

Saya membantu menjaga parkir masjid pada 10 hari pertama Ramadhan, beberapa kali membantu kawan-kawan menggelar perpustakaaan jalanan untuk menumbuhkan minat baca anak-anak di alun-alun kota Batam, berdiskusi tentang banyak hal mulai dari datar atau bulatnya bumi sampai soal apa yang bisa kita lakukan di masyarakat (jangan tanya aksinya), belajar berbicara di depan orang banyak, membaca buku-buku bagus, bersilaturahmmi dengan kawan-kawan lama,  saya juga berusaha untuk berinteraksi dengan tetangga dan orang-orang sekitar dan banyak lagi hal lain. Sekali lagi, kegiatan-kegiatan itu sullit dilakukan kawan-kawan yang full kuliah.

Kawan-kawan yang sibuk dengan kuliahnya saya yakin kekurangan waktu untuk memikirkan caranya berguna buat lingkungan sekitar. Setidaknya dalam konteks Batam. Saya bilang begitu karena saya pernah mengalaminya. Saya membayangkan sebuah keadaan yang ngeri, dimana ketika kita lulus kuliah dan meninggalkan dunia kampus, kita adalah orang-orang yang tak mengenal lingkungan. Maksud saya disini adalah, kita jadi tidak sensitif lagi dengan realitas sosial. Tak heran, karena memang selama empat tahun sense itu sadar atau tidak “ditumpulkan”. Kita jadi lupa caranya bermnafaat buat lingkungan sekitar, buta pada kesulitan-kesulitan yang dihadapi masyarakat dan gagal mendeteksi potensi masalah dalam lingkungan masyarakat. Kita jadi orang-orang pintar di kelas, tapi plonga-plongo di masyarakat. Kalau sudah begitu, apa guna ilmu yang kita timba dari sumur bernama kampus itu?

Kuliah ya perlu, tapi jangan sampai kita kehilangan makna kuliah itu sendiri apalagi  lupa untuk bermanfaat karena memandang kampus dan perkuliahan sebagai sesuatu yang terlampau eksklusif.

Baiklah sodara-sodara, itu saja dulu. Kalau butuh konsultasi dalam hal percutian, bisa hubungi saya ya. Saat ini saya sedang menikmati masa-masa istirahat dari segala macam kegiatan kampus yang bikin lupa bahagia itu. Waktu yang ada saya pakai untuk melakukan banyak kegiatan, walau kadang bayang-bayang dedek-dedek maba unyu kampus menghantui saya, meniupkan aroma kerinduan. Kegiatan apa saja? Ya banyak tho, menggunjingkan pemerintahan Jokowi misalnya, Hahaha.

Sebenarnya, saya masih berada dalam kebingungan seperti  halnya Musa ketika Khidir melubangi kapal yang mereka tumpangi melihat teman-teman kuliah saat ini dan mahasiswa diluar sana (Wabilkhusus abang-abang di siksakampus.com) yang masih belum melihat cuti sebagai sebuah alternatif.  Hellllowww, cuti itu asyique looh. Tentunya pilihan ini berpotensi membuat kehidupan perkampusan kita menjadi lebih cerah ceria dan berwarna. Mengapa harus memilih menjadi mandul dengan membiarkan diri terjerat dalam suasana yang, duuuh, udah sering disakitin kok masih tahan pacaran. Hoit, pacaran itu haroooom.

Eh tapi, ini cuma pandangan pribadi saya loh ya. Kalau jij-jij mau kuliah terus selama empat tahun berturut-turut ya monggo. Malah bagus juga sebenarnya. Yang jelas, pastikan apapun yang kita putuskan dan lakukan di masa yang singkat ini adalah hasil dari pemikiran kita. Bukan karena “katanya”, bukan hasil ikut-ikutan dan karena gengsi-gengsian. Nah, yang terakhir, jangan lupa bahagia.