BAGIKAN

Kehidupan sehari-hari saya dekat sekali dengan permainan catur. Setiap saya pergi nongkrong di warung kopi langganan bersama kawan-kawan yang itu-itu saja, selalu diwarnai dengan pertandingan catur. Karena warung kopi langganan saya menyediakan papan catur di setiap mejanya lengkap dengan pionnya. Permainan catur tersebut selalu terlihat menegangkan atau berubah menjadi menggelikan ketika kawan-kawan saya yang bermain. Sayangnya saya tidak mahir bermain catur dan hanya tahu bagaimana tiap bidak harus dijalankan, jadi saya tidak pernah bermain bersama kawan-kawan saya. Walaupun tidak mahir bermain, saya masih bisa menikmati permainan dengan menonton kok.

Ngomong-ngomong tentang catur, saya menikmati kehidupan layaknya bermain catur. karena setiap langkah dalam kehidupan harus dipertimbangkan matang-matang. Jika tidak, bisa menjadi blunder dan membuat pion-pion habis dimakan oleh lawan. Masa-masa kuliah yang saya jalani di perantauan ini pun layaknya permainan catur. Saya suka gambling, sering kalah dan tidak jarang juga menang dan sebagai pemain, saya harus siap dengan berbagai risiko.

Selama kuliah tentu banyak sekali pilihan yang muncul. Pertama, layaknya permainan catur ada pilihan ingin bermain cepat atau bermain lama. Nah, di perkuliahan saya mengenal kuliah cepat dan kuliah lama. Kedua, setelah memutuskan lama atau tidaknya permainan atau perkuliahan tentu pilihan tersebut harus dijalani dengan langkah yang masif, terstruktur dan sistematis, duh kok jadi kek Prabowo yang nuding curang terhadap penyelenggara pemilu 2014 yha~. Maksud saya, langkah yang dilakukan harus dipikirkan matang-matang karena pilihan yang sudah ditentukan tentu punya risiko. Kayak aku pilih kamu jadi pasanganku dek, aku siap menanggung resikonya, tsah~

Saya memilih kuliah lama lho, tapi sekarang sudah lulus. Serius. Saya sudah sidang skripsi pada tanggal 26 April 2018 dan sejak saat itu sudah dinyatakan lulus. Sombong dikit nggak apa-apa kan ya, mumpung masih bisa sombong karena bau-bau ujiannya masih ada. Masa perkuliahan saya jalani selama lebih dari enam tahun dengan berbagai langkah yang tidak jarang membuat pion-pion catur milik saya dimakan oleh lawan. Tapi tidak jarang juga saya bisa melahap benteng, kuda bahkan ratu milik lawan.

Selama enam tahun yang tidak bangsat-bangsat amat tersebut, saya habiskan dengan mencoba variasi-variasi langkah baru. Pada awal semester saya jalani perkuliahan seperti pion; menurut pada dosen, mengerjakan tugas dengan rajin, dan mengikuti aturan kampus yang ada. Ibarat pion yang hanya bisa melangkah lurus ke depan dan hanya satu kotak setelah baris kelima atau enam. Menjadi pion saya jalani sekitar kurang lebih tiga semester. Setelahnya saya mengubah langkah menjadi benteng, karena sadar bahwa menjadi pion itu kurang bahagia, kurang bebas, kurang bisa mengeksplor apapun, kurang enak, kurang garam kayak Inul Daratista tanpa goyang ngebor.

Layaknya benteng yang bisa berjalan lurus kemana pun tanpa harus terbatas kotak, saya mencoba mencari jaringan kemana pun yang saya bisa. Mengumpulkan banyak wacana dan informasi agar tidak gampang dibohongi oleh aturan kampus. Tentunya saya menjalani langkah sebagai benteng melalui organisasi yang saya ikuti. Dengan menjadi benteng saya bisa tahu bahwa sistem pendidikan dan lebih luasnya lagi negara sedang dalam kondisi tidak baik-baik saja. Tapi jika terus-terusan menjadi benteng, saya tidak bisa berbuat apa-apa karena tidak bisa menjangkau banyak hal dengan hanya melangkah lurus.

Langkah selanjutnya yang saya ambil adalah melangkah layaknya gajah dan kuda. Gajah bisa melangkah menyamping tanpa terpaku dengan kotak lalu kuda dengan langkah ‘L’ nya. Keduanya bisa melakukan gerakan mematikan dan melakukan berbagai aksi untuk melakukan perubahan. Jadi saya menjalani langkah layaknya gajah dan kuda di dalam organisasi. Saya belajar berbagai hal; menulis, melahap berbagai wacana, organisir masa sampai urusan percintaan. Setelah mempelajari berbagai hal tersebut, saya bisa melakukan sesuatu untuk melawan kesewenang-wenangan atau perampasan hak yang seringkali terjadi. Walaupun langkah yang saya lakukan tidak melulu berhasil tapi saya terus mencoba untuk berusaha. Karena gajah dan kuda adalah kunci!

Tentunya ketika saya fokus berorganisasi ada yang terkesampingkan yaitu perkuliahan. Nah, saat itulah saya melangkah sebagai ratu, bebas melangkah kemana saja; lurus, miring, ke samping dan ke  belakang. Saya melakukan manuver sebagai ratu dengan menjalani dua jalan yaitu berorganisasi dan kuliah. Tentunya hal ini terjadi ketika angka semester sudah menunjukkan dua digit. Saya baru benar-benar fokus kembali ke perkuliahan pada semester 10 dan masih banyak mata kuliah yang belum saya tempuh.

Melangkah bagaikan ratu dalam papan catur tidak gampang. Banyak langkah yang harus benar-benar dipikirkan secara matang agar tidak terancam; terancam DO atau kehilangan semangat berorganisasi. Tapi saya merasa berhasil menjalani langkah layaknya ratu dan akhirnya menjalani langkah sebagai raja.

Coba tebak apa yang saya sebut langkah sebagai raja? Tentu jawabannya adalah sidang skripsi. Saya berhasil melakukan sidang skripsi pada semester 14, semester terakhir dalam perkuliahan. Tentu saya bahagia bisa melewati langkah sebagai raja karena orang tua saja juga pasti bahagia melihat anaknya lulus. Semoga almarhum ibu saya juga bisa bahagia di surga.

Tapi tunggu dulu, kebahagiaan itu tidak bertahan lama, cukup dua sampai tiga hari saja. Setelah menjadi raja dengan menyandang gelar sarjana tentu punya tanggung jawab yang lebih besar. Dengan tanggung jawab yang lebih besar itu, maka saya putuskan kembali menjalani kehidupan dari awal. Kembali menjadi pion tanpa ingin menjadi raja seperti yang saya lakukan di dunia perkuliahan. Saya hanya ingin menjadi pion, menjadi rakyat tapi bisa membantu rakyat yang lain untuk memenuhi hak-haknya yang telah dirampas. Saya ingin menjadi pion yang bisa berguna bagi orang lain, karena itulah jalan ninjaku.

Tabik!