BERBAGI

Malam semakin larut ketika saya masih saja gelisah terkait masa studi yang semakin menuju tapal batas. Pada suatu hari, di tengah pikiran yang jauh melayang kesana-kemari mencari alamat untuk menemukan solusi terkait masa studi, saya mencoba untuk beristirahat sejenak, membuka beberapa media daring untuk hiburan.

Hingga akhirnya saya kembali tiba di siksakampus.com, sebuah media yang mengakui dirinya sebagai media alternatif berisi dinamika kehidupan kampus yang dikemas secara asik ala mahasiswa. Ah, lama tak berkunjung ke kebun ini.

Berkunjung ke siksakampus.com mengingatkan saya pada salah satu penjaga kebun yang katanya merupakan jelmaan pokemon dari planet Namex, kamerad Adlun FiqriBeliyo kita pe tamang dari Halmahera sana. Apa kabar, Oom? So bole ba gondrong ulang to ngana?

Dalam salah satu tulisannya, Oom Adlun juga mengaku masih menghuni kampus dan terus tersiksa dengan rasa gelisahnya. Entah beliyo gelisah karena cita-cita untuk memiliki rambut gondrong yang selalu gagal karena razia polisi, atau gelisah karena banyak bunga yang ditanam olehnya di hati para lawan jenis? Eh…

Kampus memang menyimpan banyak jenis siksaannya sendiri. Berangkat dari hal itu, esok harinya saya jadi tertarik untuk membuat survei kecil-kecilan terkait hal apa saja yang dianggap menyiksa yang terjadi di kampus. Berhubung survei kecil, lima orang menjadi responden saya, sebagian karena terpaksa.

Dengan mengucapkan Nawaitu, sebagai syarat dan ketentuan untuk bisa berkontribusi di siksakampus.com, berikut saya ceritakan sedikit hasil dari survei kecil ini. Semoga enak dibaca, Nou-Uti..

1. Senior

“Pasal 1: Senior tidak pernah bersalah, Pasal 2: Setiap perkataan senior selalu benar, Pasal 3: Jika senior bersalah tinjau kembali ke pasal 1,” begitu yang tertulis di Sumpah Junior di banyak kampus, kabarnya.

Menurut satu dari lima responden, kakak-kakak senior menjadi hal pertama yang membuat siksaan dalam kampus. Bagaimana tidak, awal mula para Mahasiswa Baru (Maba) hadir, mereka pasti ‘didampingi’ kemanapun oleh para kakak senior. Mulai dari menemani urusan registrasi pendaftaran, berkeliling mengenal tiap-tiap ruang dalam kampus, hingga memperkenalkan jenis-jenis ‘salam hormat’ yang harus Maba berikan setiap kali bertemu dengan para kakak senior yang tengah berusaha tebar pesona.

Di beberapa kampus, kabarnya kakak-kakak senior ini masih ada yang suka memberikan siksaan dalam arti yang lebih greget, loh.

Tapi terlepas dari itu, wahai dedek-dedek Maba yang mungkin membaca hasil survei ini, percayalah, masih banyak kakak-kakak senior kalian di luar sana yang tidak memberikan kalian siksaan yang berat. Siksaan yang diberikan oleh kakak senior kalian, adalah semata-mata bentuk kasih sayang tersendiri, agar kalian kelak bisa menjadi mahasiswa/i yang mabrur di mata orang banyak.

Coba sini, dek, duduk sama kakak!

2. Dosen

Di atas langit, masih ada langit. Di atas senior, masih ada tangan dosen yang menentukan nasib mereka.

Bapak-ibu dosen yang terhormat adalah orang tua tiap-tiap mahasiswa/i yang masih menempuh fase metamorfosis di dalam kampus.

Dari diri merekalah mahasiswa/i keren, cerdas, nan penuh semangat bisa hadir ke dunia. Dari diri merekalah para mahasiswa/i lulusan terbaik bisa ikut bersaing secara keilmuan di luar dunia kampus. Namun, menurut responden kedua saya, dari mereka juga, banyak mahasiswa yang merasa tersiksa.

Hhmmm… kok bisa?

Responden saya mengaku pernah melihat tulisan seperti ini: “Tuhan tidak akan memberi cobaan melebihi batas umatnya. Tapi, dosen selalu memberi ujian melebihi batas kemampuan mahasiswanya”.

Mari berpikir positif, jemaat siksakampus yang dipenuhi gelisah, dosen memberikan tugas, menyuruh untuk menunggu, membuang hasil tugas, mengusir dari ruang kelas, mempersulit penelitian, itu mungkin karena mereka ingin anak muridnya menjadi mahasiswa/i yang kuat, secara mental dan keilmuan (sebab kuat fisik sepertinya sudah dilatih oleh para senior).

Menjaga hubungan komunikasi agar tetap baik dengan dosen, kadang lebih sulit daripada menjaga hubungan dengan mantan. Oleh karenanya, kita perlu tenaga dan waktu lebih ekstra. Jika dengan barang atau puja-puji tak mempan, minimal kita bisa melepaskan doa agar semuanya tetap baik. Setidaknya itu selemah-lemahnya iman para mahasiswa.

3. Tugas

Responden yang sebenarnya tak ingin saya ikut sertakan sebelumnya tiba-tiba berteriak, “Tugas!”. Dengan percaya diri ia menyebutkan bahwa tugas adalah siksaan yang amat berat. Ini sejalan dengan efek bola panas yang sebelumnya digulirkan oleh keberadaan bapak-ibu dosen yang baik hatinya.

Sering kali tugas datang dan pergi di waktu yang tak disangka. Keberadaannya menjadi bentuk siksaan tersendiri bagi mahasiswa. Tidur saja tak tenang, apalagi saat terjaga.

Di momen-momen seperti inilah daya juang sesama mahasiswa diperlukan, demi mengalahkan siksaan sang tugas. “Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing,” begitu kata kamus peribahasa.

Tugas berat akan terasa mudah jika dikerjakan bersama-sama, dan akan lebih terasa mudah jika kalian punya seorang kawan yang cerdas lagi baik hatinya. Ingat, jangan sia-siakan kawan seperti itu. Bantu juga ia dengan memberikan hal-hal yang disukainya, tapi jika malah sudah semakin banyak maunya, tinggalkan atau kalian akan rugi bandar.

Datang, kerjakan, lalu lupakanlah siksa tugas itu. Sisanya, tunggulah keajaiban.

4. Teman sendiri

Di kampus, kita berkesempatan untuk bisa memiliki teman tanpa batasan apapun. Mulai dari teman seperjuangan semasa ospek, teman yang memiliki dosen pembimbing yang sama, teman dalam mengerjakan tugas, teman yang sibuk dengan organisasi kampus, teman dengan hobi sama, hingga teman yang sengaja dijadikan incaran untuk kemudian bisa diajak memadu kasih.

Tapi ternyata, 20% dari responden saya berkata bahwa teman adalah sebuah bentuk siksaan tersendiri. Ya, salah-salah memilih teman justru bisa membelokkan jalan perjuangan menuju ijazah. Duh, ini yang sulit.

Namun, jangan karena takut dengan hal tersebut, malah membuat kita jadi selektif untuk berteman. Bertemanlah dengan siapapun, tapi buatlah batasan tersendiri agar jalan siksaan menuju ijazah tak semakin panjang dan tetap terarah baik.

5. Cinta

Kakak-kakak dari Efek Rumah Kaca bilang, “jatuh cinta itu biasa saja”. Saya setuju. Iya, jatuh cinta itu memang biasa saja, tapi efeknya itu yang kadang… ah, sudahlah.

Saya dan responden terakhir saya sepakat bahwa jatuh cinta adalah bentuk siksaan yang menyakitkan menyenangkan, yang bisa terjadi di kampus.

Hal ini bisa terjadi kapan saja, dimana saja, dan kepada siapa saja. Para jemaat siksakampus bahkan bisa merasakan jenis siksaan terakhir ini terjadi dengan jemaat kampus di lintas kota-lintas provinsi. Percayalah, saya atau mungkin Oom Adlun juga mengalaminya. Eh, gimana..

Jenis siksaan ini adalah yang seringkali tidak konsisten, sebab bisa menjadi yang termudah hingga jadi yang, duh, Gusti…

Seperti koin, cinta di kampus punya dua sisi berbeda. Di satu sisi mampu memperkuat tenaga untuk bisa cepat terlepas dari seluruh belenggu siksaan kampus, namun di sisi lain bisa juga menjadi penghambat sebab efek buruknya.

Tapi, jangan takut untuk jatuh cinta, Nou dan Uti. Ruang-ruang kosong dalam diri sedikitnya perlu ada yang mengisi. Meski tak jarang, bagi sebagian dari jemaat siksakampus mungkin terasa agak sulit.

Jatuh cintalah dimanapun kalian bisa, bersenang-senanglah kapanpun kalian mau.

***

Sekiranya begitu hasil survei kecil saya, dengan melibatkan lima responden. Survei ini tidak diterbitkan dalam jurnal keilmuan apapun, hanya siksakampus.com sekiranya yang mungkin mau menerbitkan.

Ini juga bukan hasil akhir, sahabat siksakampus yang super mungkin bisa menambahkan dengan hasil temuan survei lainnya.

Mari bercinta! Eh, mari berjuang untuk bisa segera lulus, gaes…