BAGIKAN

Senin, 18 April 2016 lalu adalah hari dimana ada sekitar 800 mahasiswa yang diwisuda di universitas tempat saya ingin mendapatkan selembar-kertas-yang-dianggap-sangat-penting-bernama-ijasah. Para wisudawan itu akan duduk dalam sebuah ruangan dan menunggu prosesi pemindahan tali topi toga dari kiri ke kanan, ah atau dari kanan ke kiri. Itu tak penting bagi saya, yang lebih penting kamu tak pindah ke lain hati, dek.

Beberapa orang dari para wisudawan itu tentunya dari fakultas yang sama dengan saya. Fakultas dimana taman dan air mancur lebih penting daripada fasilitas kelas yang mulai menua; Fakultas Sastra Universitas Jember (FS UJ). Ah, kenapa saya menjelek-jelekkan almamater saya sendiri. Bodoh sekali saya ini, padahal sudah ada ancaman kepada saya bahwa saya akan dilaporkan polisi, karena ketidakterimaan salah satu pimpinan kampus atas opini saya yang dimuat oleh salah satu media online pers mahasiswa. Tapi boong. Eh tapi bisa juga bener sih, hanya gosip yang tahu.

Sudah ya membahas fakultas saya. Saya mau menceritakan hal lain dalam tulisan ini, tentang para wisudawan yang saya kenal, tentang kelulusan, tentang masa depan dan tentang nasib yang tak satu setan pun tahu kata Soe Hok Gie. Ya, saya mengenal beberapa wisudawan dari FS UJ, juga beberapa dari fakultas lain. Beberapa kakak tingkat saya, beberapa teman seangkatan dan ada juga yang adik angkatan saya. Sudah jangan tanyakan angkatan kuliah saya. Tolong, jangan! Sebelum melanjutkan, saya ingin mengucapkan selamat pada kawan-kawan yang diwisuda sudah diwisuda. Semoga kalian semua berhasil membahagiakan dan menjadikan bangga orang tua kalian. Tapi jangan lupakan kebahagiaan diri sendiri ya.

Saya tak pernah iri dengan kawan-kawan yang sudah mencapai kesuksesannya. Karena kesuksesan yang mereka dapat dari usaha keras mereka sendiri. Dalam hati kecil, saya merasa ada taman dengan berbagai macam bunga yang mekar ketika melihat kawan-kawan memakai toga dan berfoto bersama keluarga, teman, pacar, mantan, kucing peliharaan, anjing tetangga, suami tetangga yang jadi selingkuhan sampai selingkuhan tetangga. Maaf saya ngelantur. Intinya saya bangga.

Kebanggaan itu saya simpan rapat-rapat, karena kadang kebanggaan bisa menjadi bumerang dan mengakibatkan efek tornado yang sangat besar, hingga meluluh lantakkan planet bumi ini. Bayangkan jika saya datang ke wisuda kawan saya tersebut. Kemudian muncul sebuah bencana alam dalam bentuk pertanyaan: “Kamu kapan nyusul pakai toga?” Bisa membayangkan apa yang terjadi? Kiamat? Bukan, karena hanya video-video youtube yang bisa memprediksikan kehancuran dunia. Yang terbersit di kepala saya adalah sebuah kondisi bumi setelah Ultraman, Super Saiya, Megazord, Kamen Kaider, Anpanman, Mr. Black dan Godzilla bertempur. Bisa membayangkan? Jika tidak, salahkan saja stasiun televisi sekarang yang hanya menayangkan tayangan-tayangan pengejar rating belaka. Fuck the corporation of televishit!

Saya hanya menghindari kondisi seperti itu, bukan lari dari kenyataan. Sumpah ini bukan pledoi. Pertanyaan “Kapan nyusul pakai toga?” kadang bisa merubah psikologi seseorang yang belum lulus. Tapi ada dua kemungkinan perubahan psikologi; semangat menyusul dan menjadi stress. Dan saya adalah seseorang yang gampang stress jika berhadapan dengan pertanyaan tersebut. Lha wong ditanyai kapan nempuh skripsi sama orang rumah via telephon saja, saya sudah mengurung diri selama beberapa hari, dengan laptop dan hardisk 500GB yang setengahnya habis dimakan file film biru.

Saya minta maaf bagi teman-teman saya yang kemarin lusa wisuda dan juga yang sudah diwisuda lebih dulu. Saya minta maaf jika tak pernah datang ke hari wisuda kalian, berfoto dengan kalian, tertawa bersama kalian. Saya hanya tak mau merusak masa bahagia kalian. Saya juga tak pernah berpikir untuk mengundang kalian untuk datang pada hari dimana saya akan diwisuda, hari yang entah kapan itu akan terjadi. Maaf saya tak pernah meghadiri undangan kalian untuk bersenang-senang merayakan kelulusan. Maaf sekali, saya terlalu lemah untuk mengamini kebahagiaan setelah lulus.

Tapi, perjuangan setelah lulus belum berakhir wahai kawan-kawanku yang sudah mendapat gelar sarjana. Perjuangan akan lebih berat, kekejaman negara adalah pintu pertama yang harus dilewati. Negara lebih kejam daripada dosen pembimbing yang menjadikan tumpukan draft skripsi kalian sebagai kanvas menggambar. Negara lebih mengerikan daripada pemandangan mantan yang masih kita sayang sedang berboncengan dengan pacar barunya. Negara lebih suloyo dibandingkan ditinggal selingkuh gebetan. Negara juga lebih kebal terhadap berbagai kritikan dan Negara yang akan menuntut kita untuk memilih menjadi kelas atas atau kelas bawah. Sungguh mengerikan.

Wisuda adalah keniscayaan, tapi hidup tak semudah memindahkann tali toga. Saya tak mau membicarakan lapangan pekerjaan. Lha siapa saya ini mau ngomong dunia kerja, wong skripsi saja masih jauh dari pelupuk mata kok. Saya juga tidak sedang menasehati, saya bukan motivator kawakan yang biasa mengais uang dari kesusahan orang lain. Saya hanya mahasiswa yang selalu membayangkan bahwa kampus adalah replika negara yang mengajarkan bagaimana caranya untuk menghadapi negara yang sebenarnya. Tapi sekarang, negara dan kampus tak ada bedanya sih. Suka menggusur hak rakyatnya tanpa berpikir panjang.

Wisuda adalah sebuah kesenangan yang sementara, seakan kita sedang mastrubasi sambil membayangkan artis bokep idola. Crooottt…!!! Memberikan kenikmatan lewat medium yang dimainkan sendirian. Setelahnya hidup akan dijalani seperti biasa, tetap jomblo dan kemudian mastrubasi lagi. Begitu dan berulang. Tapi wisuda adalah sebuah keharusan, agar bisa keluar dari ruang yang disebut sebagai replika negara menuju negara yang sebenarnya. Menjadi masyarakat seutuhnya.

Wahai kawan-kawanku yang hari ini diwisuda, sekali lagi saya ucapkan selamat untuk kalian semua. Percayalah bahwa kalian sudah berhasil melewati satu tahap untuk menjadi masyarakat yang seutuhnya. Percayalah bahwa kebahagiaan kalian ketika wisuda tak pernah sia-sia. Dan satu lagi, percayalah bawa saya akan menyusul sebagai seorang wisudawan dan menjadi masyarakat seutuhnya. Tapi entah kapan, karena wisuda adalah kesunyian masing-masing.