BAGIKAN

Halo Mohammad Sadam Husaen. Bagaimana kabarmu setelah keluar dari ruang ujian atau ruang sidang Fakultas Sastra? Apakah kamu sudah punya bayangan bagaimana suasana sidang skripsimu yang entah kapan itu? Saya tidak bisa menerka kapan kiranya kamu atau teman aktifis yang setipe denganmu akan melaksanakan sidang skripsi, seperti yang sudah saya lakukan Desember tahun lalu. Sekiranya itu adalah rahasia Tuhan yang tidak mungkin bisa dijawab oleh makhluk hina macam kita-kita.

Kemarin, Dam, kamu masuk ke ruang sidang. Bukan sebagai pejuang skripsi, tapi sebagai mahasiswa yang tulisannya merusak gendang telinga pejabat dekanat. Bukan sebagai mahasiswa yang hendak lulus, tapi sebagai orang yang dicap sebagai kritikus bermulut kotor. Tapi hakikatnya, masuknya kamu ke ruang sidang itu bisa jadi persiapanmu nanti ketika kamu harus mempertahankan naskah penelitianmu yang pastinya akan penuh kata-kata kotor sebagaimana tulisan-tulisanmu lainnya.

Hampir tak ada bedanya mungkin ya; kamu sekarang masuk untuk dicecar masalah opinimu di media, mbesok kamu diberondong pertanyaan soal skripsimu. Sekarang kamu masuk sendiri berhadapan dengan pihak dekanat, mbesok kamu sendirian jua menjawab pertanyaan penguji. Sekarang saat-saat yang menentukan nama baik dan labelmu di mata dekanat, mbesok juga kamu bertarung demi label Sarjana Sastra yang menentukan harga dirimu di depan ibu mertua. Percayalah, hari ini adalah hari yang baik mempersiapkan kelulusanmu di tahun “ ya’ ” nanti. Karena di komputer untuk menulis ini tak ada aksara arab, maka saya pakai ” ya’ ” dengan aksara Indonesia untuk menggantikannya.

Begini, Dam. Dari tulisanmu di Siksa Kimcil Kampus kemarin yang berjudul “Wisuda adalah Kesunyian Masing-Masing”, saya masih heran ke kamu. Kok meski sudah tua dan sudah makan asam garam kehidupan kuliah masih saja menganggap pertanyaan “kapan wisuda?” sebagai momok. Maksudku, sudah tua kok sek cengeng ae? Wisuda ya wisuda aja, yang belum wisuda jangan kayak kura-kura yang menangis di tempurungnya. Gak mau datang ke wisuda teman hanya karena takut ditanyai “kapan pake toga?”, ih gak berkelas banget alasannya. Kalau saya sih, tak pernah sekalipun datang ke wisuda teman kecuali saat kebetulan bertemu di lahan parkir Gedung Soetardjo Universitas Jember waktu Tegalboto organisasi yang saya ikuti buka stand foto di sana. Tapi alasan saya gak datang paling ya ketiduran, lupa. Sudah tua, Dam, jangan cengeng.

Tapi di lain pihak, saya setuju bahwa memang wisuda itu penting. Si Mahfud MD yang bilang bahwa mahasiswa sekarang itu hanya peduli soal nilai dan kelulusan itu harus dibinasakan memang. Enak aja ngejek mahasiswa yang ngejar kelulusan, emangnya dia yang bayar kuliah kita apa? Lihat nih ya, sekarang lulus tiga tahun setengah itu sudah jadi trend. Bukan karena banyak mahasiswa yang pinter, tapi karena biaya kuliah yang melambung tinggi karena Uang Kuliah Tunggal (UKT) lah yang menyebabkan mereka terdorong lulus cepat. Belum lagi diusir secara halus oleh pihak fakultas yang mengejar akreditasi. Pak Mahfud MD, harusnya menyasar pada dosen-dosen juga dong, masa’ mahasiswa terus yang disalahkan.

Untuk kamu, Dam, yang angkatan tua dan belum ketemu UKT, biaya kuliah memang masih murah, tapi tetap tak ada alasan untuk menunda kelulusan. Biaya kuliah memang belum menyentuh angka satu juta, tapi harga nasi Bu Wartik hingga Pak Edi tidak menunjukkan tanda-tanda akan turun harga. Lagipula siapapun tahu bahwa menjelang lebaran nanti harga mie instan akan naik dan lupa turun.

Kampusmu, Dam. Kok bisa kamu betah dengan kampusmu? Ketemu dengan dosen supersensi, sudah. Ketemu dengan dosen proyekan, sudah. Ketemu dengan dosen yang bukunya ambil referensi dari wikipedia, sudah. Ketemu dengan dosen yang punya jagrak kanan kiri atau standar ganda, juga sudah. Dosen yang mengabdi masyarakat, kena dihitung jari. Dosen yang bajingan, jumlahnya yang tak terperi. Apa lagi alasanmu di kampus? Jangan pakai alasan membela masyarakat yang lemah. Saya bosan dengan jargon-jargon berbau busuk seperti itu. Menganggap diri sebagai penyelamat dunia, Imam Mahdi, Sang Mesiah, cuih!

Tapi lebih dari pada itu saya setuju kalau minggu-minggu ini dimunculkan tagar #SaveSadam.