BAGIKAN

2 Mei diperingati sebagai hari pendidikan nasional setiap tahunnya. Tanggal ini diambil dari hari kelahiran sang tokoh pendidikan Indonesia, Raden Mas Soewardi Soerjaningrat atau yang lebih dikenal sebagai Ki Hadjar Dewantara. Saya mengenalnya dari gambar yang terpasang rapi di dinding kelas saat masih sekolah dasar. Nama Ki Hadjar Dewantara juga masuk dalam deretan pahlawan nasional di buku Rangkuman Pengetahuan Umum Lengkap, salah satu buku sakti yang wajib dimiliki sebelum ‘mbah Google’ mulai menginvasi.

Bertepatan dengan hari Pendidikan Nasional, mahasiswa melakukan aksi di Universitas Jember (Unej). Mereka menuntut regulasi mekanisme atau prosedur penanganan kekerasan seksual, yang berpihak pada perlindungan dan hak korban. Seandainya Ki Hadjar Dewantara masih hidup, sudah pasti beliau bersusah hati, air matanya berlinang melihat masih ada (lagi) kasus pelecehan seksual di lembaga pendidikan Indonesia.

Jika sebelumnya kita mengenal Agni dari UGM atas kasus pelecehan seksual yang menimpanya, kini muncul nama Ruri –bukan nama sebenarnya- yang merupakan salah satu mahasiswi Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Unej dan mengalami hal serupa. Hanya saja, terduga pelaku pelecehan seksual kali ini yaitu seorang dosen. Tenaga pendidik yang melakukan tindakan tidak mendidik bagi mahasiswanya, sungguh miris. Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Ideas memuatnya dalam dua berita berjudul Universitas Jember Tak Tegas Tangani Kekerasan Seksual dan Belenggu Korban Kekerasan Seksual.

Sekitar 50 mahasiswa berkumpul di depan dekanat FIB. Beberapa mahasiswa melakukan orasi, sebagian membawa spanduk, beberapa ikut menandatangani petisi, dan sebagian lagi mengabadikan moment untuk update story. Masa aksi meniup peluit sebagai simbol seruan atau peringatan terhadap kampus. Ketika peluit ditiupkan, pagi yang awalnya hening berubah menjadi riuh. Hal ini mengundang para jajaran dekanat untuk turun. Namun sayangnya, dekan FIB tidak ada saat itu, ntah sedang bersembunyi atau melarikan diri. Wakil Dekan I pun tidak segera membubuhkan tanda tangan petisi ketika diminta oleh masa aksi, ia berkelit dengan mengatakan harus konfirmasi dulu dengan dekan.

Masa aksi melanjutkan perjalanan menuju ke fakultas-fakultas yang lain untuk menghimpun tanda tangan petisi dan mengumpulkan masa. Dengan raut wajah serius, salah seorang orator berteriak, “..kawan-kawan, mari kita jalan terus sampai kampus Unej Bondowoso!” Kalimat yang ia lontarkan cukup menarik perhatian masa aksi yang lain. Tapi monmaap, itu masnya mau aksi jalan kaki macem acara Ta-Jem apa ya?

Hal yang agak nyleneh terjadi saat tiba di FMIPA, dekan meminta masa aksi untuk mengirimkan Al fatehah pada salah satu stafnya, “Mari kita berdo’a bersama untuk staf saya yang membawa laporan dan saat ini sedang sakit, Al Fatehaaah~”. Seketika masa menundukkan kepala dan mulai mengheningkan cipta. Beberapa yang tidak mendengarkan omongan dekan mendadak bingung dan bertanya-tanya untuk apa ia menundukkan kepala.

Sekitar pukul 11.30 WIB, masa aksi tiba di rektorat. Saat itu masa yang terkumpul sudah mencapai sekitar 150 orang. Mereka yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Peduli Penghapusan Kekerasan Seksual menyodorkan tuntutan ke rekorat. Mereka ingin kasus Ruri ditangani secara berkeadilan, dengan mempertimbangkan hak dan perlindungan terhadap korban. Mereka minta dalam 20 hari, Unej membentuk tim dan membuat rancangan aturan atau regulasi penanganan kasus kekerasan seksual di kampus, dengan melibatkan aliansi. Semua proses dari dua poin tersebut harus Unej kabarkan secara terbuka pada publik.

Sepuluh perwakilan aksi masuk ke dalam rektorat untuk melakukan mediasi dengan pihak rektor. Mediasi berjalan alot dan melebihi waktu yang telah ditentukan sebelumnya. Karena tidak sabar menunggu, masa aksi mencoba masuk dalam rektorat dan aparat keamanan berusaha untuk menghalau. Dan seperti kebanyakan aksi demo pada umumnya, terjadilah aksi saling dorong antara masa dan pihak keamanan.

Di tengah memanasnya aksi saling dorong, salah seorang mahasiswa berbaju biru muda mundur sambil melihat kancing bajunya, lalu ia berteriak “Eh kalau sampai kancing bajuku lepas, ini pelecehan seksual ini!” dan disambut tawa oleh masa aksi yang lain.

Aksi saling dorong tetap berlanjut hingga Mohammad Hasan, Rektor Unej turun dan membawa hasil kesepakatan. Ia menandatangani tuntutan aliansi, namun dengan beberapa revisi. “Pakek ada revisi segala. Ini bukan skripsi pak!” teriak seorang masa aksi.

Kasus Agni ataupun Ruri bukanlah satu-satunya kasus pelecehan seksual yang terjadi di lingkungan kampus. Kasus pelecehan seksual oleh tenaga pendidik juga terjadi di Undip dan UIN Sunan Gunung Djati. Tidak adanya jaminan kasus akan selesai ketika korban melapor, membuat banyak korban enggan untuk melaporkan tindak pelecehan seksual yang dialaminya. Di sisi lain, jika korban tidak berani melapor, maka hal ini akan membuat pelaku terus merasa aman dalam melancarkan aksinya.

Menjadi hal yang sangat disayangkan, iklim pendidikan yang dibentuk oleh kampus seketika lenyap ketika hal semacam itu terjadi. Kampus tidak lagi dapat memberikan rasa aman bagi mahasiswanya dalam menempuh pendidikan. Terlebih, pelaku yang melakukan tindakan amoral tersebut merupakan seorang yang dihormati seperti dosen. Dosen memang memegang posisi yang lebih kuat dibanding mahasiswanya, ia menentukan nilai dan terlibat dalam menentukan kelulusan mahasiswa. Dengan memanfaatkan otoritas yang dimiliki, beberapa dari mereka melakukan tindakan tidak beradab, seperti pelecehan seksual.

Belum lagi dalam sejumlah kasus, pelaku malah mendapat perlindungan dari institusi. Embel-embel menjaga nama baik kampus, pencemaran nama baik dosen, dan tidak adanya saksi yang melihat, kerapkali mereka jadikan praduga tak bersalah. Sebagian dari pelaku memang ada yang mendapat hukuman, namun rata-rata ringan. Sehingga pelaku pelecehan seksual masih bisa bebas melanglang buana. Apa pendidikan semacam itu yang coba mereka contohkan kepada mahasiswanya?

Kita menuntut ilmu di perguruan tinggi pastinya membayar UKT dong, meski dengan beasiswa sekalipun. Jadi sebagai lembaga pendidikan yang menaungi, kampus juga harus menjamin dan bertanggung jawab terhadap keamanan mahasiswanya dalam proses pendidikan tersebut.