BAGIKAN

Sore itu seperti biasa saya sudah duduk manis di warung langganan. Teh hangat dan obrolan khas mahasiswa yang hidupnya dirundung ketidakpastian akibat PHP dari dosen pembimbing skripsi, menemani saya saat itu. Obrolan semi-serius yang tak terindahkan oleh kuping ini. Saya menyimak dengan khidmat kisah sedih salah satu teman, saat menagih janji dari dosen pembimbing untuk memberikan revisi skripsi. Di penghujung cerita, dosen pembimbing yang selama ini dia tunggu di depan ruangan, ternyata keluar lewat jendela. Mohon bersabar, ini perjuangan!

Obrolan konyol itu kemudian terhenti karena salah satu teman memperlihatkan sebuah video. Dalam video itu, terlihat anak-anak kecil dipinggiran jalan raya. Beberapa dari mereka membawa kertas besar bertuliskan om telolet om.  Kami masih menyimak dengan heran. Tetiba anak-anak kecil dalam video tersebut berteriak “om telolet om!” saat bis lewat. Si supir bis membalas teriakan anak-anak itu dengan bunyi klakson yang jika diterjemahkan kurang lebih suaranya telolet-telolet. Lalu anak-anak kecil kegirangan setelah mendengar bunyi klakson itu.

Video yang berdurasi kurang lebih dua menit ini ternyata sedang viral di media sosial. Beberapa artis mancanegara ngetwit kata om telolet om. DJ terkenal membuatkan remix suara bunyi klakson bis jadi lagu EDM. Bahkan kata om telolet om menjadi World Trending Topic di Twitter. Wadefak! Kok ya sebegitunya sama bunyi klakson bis. Apa masa kecil mereka nggak pernah denger begituan.

Kembali pada anak-anak kecil. Saya menyebut mereka Telolet Hunter. Pertanyaan yang melekat saat melihat para Telolet Hunter ini adalah mengapa mereka begitu bahagia mendengar bunyi klakson bis? Saya teringat memori masa kecil. Anak-anak kecil generasi 90-an jika melihat pesawat lewat di atas kepala mereka pasti teriak “Pesawat, minta uang!” atau semacamnya.

Tetapi kami saat itu tidak sebahagia para Telolet Hunter. Kenapa? Karena om-om pilot tidak membalas teriakan kami dan hanya lewat begitu saja di atas jangkauan kami. Beda dengan om-om supir bis yang penuh dengan kepedulian membalas teriakan para Telolet Hunter. Mereka bahagia karena teriakan mereka dibalas oleh kepedulian om-om supir bis yang dimanifestasikan dengan bunyi klakson. Bunyi klakson adalah simbol kepedulian.

Hal ini pula dapat disimak dari kisah teman saya di atas. Lelah menunggu dosen pembimbing yang tak kunjung hadir di sanubari hatinya. Ceileh. Bolak-balik di PHP oleh dosen pembimbingnya merupakan sebuah penderitaan, yang mungkin tidak dialami oleh teman saya saja. Beberapa mahasiswa lainnya mungkin juga pernah merasakan rasa lelah menunggu kepastian dari dosen pembimbingnya. Apalagi dapet dosen pembimbing yang macak sibuk, sesibuk Presiden Korea Utara ngurusin warganya yang lebih suka melihat acara televisi negara tetangganya.

Untuk menunggu revisian skripsi, mungkin bisa berminggu-minggu lamanya. Jadi waktu yang sebenarnya bisa kami manfaatkan untuk mengerjakan revisi skripsi terbuang gegara menunggu dosen pembimbing memberikan revisi skripsi. Mereka lebih peduli pada urusan birokrasi kampus dan proyekan untuk sesuap nasi. Pak Dosen, kami juga diurus dong! Kami butuh lulus segera karena orang tua di rumah sudah menjodohkan kami dengan tetangga sebelah.

Ya mungkin saya berlebihan melihat dosen pembimbing yang macak sibuk ini. Tapi setidaknya berikan kami kepedulian dengan membalas usaha kami. Atau balas kami dengan klakson mobil anda. Ganti bunyi klakson mobil anda dengan klakson bis. Kami di pinggir fakultas akan menunggu mobil anda lewat dan berteriak “om revisi om!”. Telolet telolet