BAGIKAN

Liburan sebenarnya adalah sebuah hal yang membosankan. Banyak pekerjaan dan kegiatan yang bakal saya tinggalkan. Bertemu orang tua pun, walaupun kangen, rasanya seperti masuk neraka kerak pertama; masih saja ditanya ‘kapan lulus?’. Pulang ke kampung halaman pun harus membawa mental baja dan pikiran tenang, karena sesampainya di rumah hal tersebut akan menjadi modal untuk menghadapi pertanyaan yang sama dari para tetangga. Semester ini adalah tahun ke 6 saya berada di kampus, belum tergolong lama sih kalau dilihat dari sudut pandang imigran, tapi kalau dari sudut pandang time to study, sepertinya saya sudah harus mengemas barang sedikit demi sedikit.

Bertahan di perantauan pun saya merasakan sebuah kesia-siaan. Para teman pulang ke rumah, kegiatan vakum sejenak, warung kopi mulai sepi, timeline media sosial pun dipenuhi foto liburan. Oh God, aing sedih tidak pernah tahu bagaimana cara menikmati liburan. Perdebatan perihal film Biopic Wiji Thukul di media sosial pun serasa hambar bagi saya. Padahal perdebatan tersebut lumayan berhasil menggeser foto bibieb izieq dari beranda facebook saya. Keseharian pada hari libur semakin membosankan, rasa-rasanya saya ingin sekali ikut pasukan pemuja flat earth, karena hidup saya terasa sangat datar.

Keputusan untuk pulang pun saya ambil. Jikalaupun nanti di rumah banyak sekali tindak represif yang akan saya terima, ‘hanya ada satu kata; lawan!’. Karena pulang ke rumah dengan menyandang status mahasiswa tua adalah sebuah pergerakan yang revolusioner. Para aktivis dari yang kanan, kanan-serong, tengah, tengah-tapi-kiri-kanan-oke, kiri, kiri-putus-putus, kiri-boleh-kanan-oke, sampai yang kiri-mentok pun saya kira pernah mengalami tindak represif dari orang tuanya masing-masing.

Ketika memegang megaphone boleh lah berorasi meledak-ledak, tapi kalau sudah pegang sendok dan piring, lalu ada kedua orang tua di meja makan yang sama, rasanya tidak enak makan. You know lah, apa yang akan terjadi di meja makan itu selanjutnya bagi mahasiswa diatas semester 10.

Selain hal tersebut, saya juga mengalami goncangan mental ketika pulang ke rumah saat liburan. Ketika memberanikan diri keluar untuk nongkrong di warung kopi, saya bertemu teman masa kecil yang dulu sering main bolang-bolang-an bareng. Tapi kali ini dia sudah menggandeng seorang anak kecil dengan baju bergambar bolang. Bajindul, ternyata banyak teman masa kecil saya yang sudah punya anak. Padahal baru beberapa bulan saya dengar kabar kalau banyak teman masa kecil saya yang merantau untuk bekerja. Tapi ini kenapa sudah ada yang bisa bikin bolang, eh anak maksud saya.

Tekanan bertubi-tubi saya terima di rumah. Warung kopi yang biasanya bisa membuat saya santai dengan obrolan ngalor ngidul, juga berubah menjadi liang lahat perasaan. Tak hanya satu teman masa kecil yang saya temui, selang beberapa menit beberapa kawan lain berdatangan. Tentu saja membawa anaknya masing-masing. Saya terjebak pada obrolan bapak-bapak mengenai pekerjaan, keluarga, sampai malam menyenangkan bersama istri masing-masing. Saya hanya bisa mendengarkan, dan liang lahat perasaan pun semakin tergali dalam ketika saya sadar bahwa saya adalah seorang jomblo sekaligus masih mahasiswa semester 12.

Saya pulang dari warung kopi dengan wajah yang tegang, pipi saya basah, saya kira airmata tapi ketika saya usap ada bau tidak sedap. Ternyata saya kena tai burung. Jinguk! Burung pun ikut mengejek saya. Tapi saya tidak boleh meratapi nasib ini. Di depan massa aksi saja bisa menciptakan atmosfer yang membara, masa saya harus menyerah dengan status mahasiswa semester 12 yang masih jomblo.

Saya harap, kawan-kawan yang mengalami liburan layaknya saya bisa bersabar, ini ujian dari Tuhan, ini adalah perjuangan, mohon ditahan emosi, memang mengecewakan, tapi mohon bersabar, semoga liburan ini segera berakhir, semoga segera lulus dan mendapatkan pacar.