BAGIKAN

Dear Mantan.
Apa kabarmu hari ini ? sudahkah kamu makan dan berias di depan cermin, seperti biasa yang kamu lakukan setelah mandi. Kamu terbiasa menyisir rambut yang jadi kebanggaanmu, lalu kamu mengambil handphone dan selfie, mengagumi kecantikanmu sendiri. Ahh… aku masih inget pernah nyimpen foto itu di Hpku. Kamu centil.
Sudah lama ya kita tidak berbicara. Bertemu pun jarang, sekali bertatap muka pun, seolah kita tidak pernah saling kenal. Tak apalah, aku masih mengingat kita pernah menghabiskan hari untuk bermain dan bermesra. Dan itu sudah lebih dari cukup untuk menjadi kenangan manis.
Kamu tau ? banyak kawan-kawan ku di LPM yang menganggapku jomblo sejati. Tidak merasakan nikmatnya bercinta dengan seorang perempuan. Menciptakan cerita indah disetiap senja datang merayu, atau menghabiskan malam minggu dengan secangkir curhatan.
Ya, tak apalah aku tidak dianggap memiliki kenangan soal mantan. Dan tidak perlu aku tunjukan sebuah bukti untuk menyatakan kevalidan bahwa aku pernah bersamamu. Kenangan bukan tindak kriminal yang melanggar asas kebahagiaan. Dalam hal ini berarti, kenangan akan mantan bukan hal buruk yang harus dibuang jauh-jauh. Meskipun sosok mantan terkadang sangat menyakitkan untuk diingat.
Kawanku Sadam, yang mengklaim dirinya aktivis kenangan, dia yang sering membullyku tidak pernah memiliki sosok sepertimu. Seorang perempuan yang pernah memberikan keberagaman cerita sehari-hari. Memberikan perhatian disuatu waktu sekedar untuk makan, mengerjakan tugas, atau mandi. Cerita terakhir yang aku dengar darinya, pacar atau mungkin sekarang sudah mantannya ( dia tidak mengakui perempuan itu sebagai pacarnya, katanya) jarang memberikan perhatian. Meskipun untuk sekedar ucapan selamat tidur atau hati-hati di jalan. Mungkin aku lebih beruntung darinya.
Ya, tapi bagaimanapun itu adalah cara kita berdua, atau kebanyakan anak muda macam aku dan Sadam atau si Budi sebagai anak persma berpetualang dalam dunia cinta. Selalu gagal menemukan pacar yang awet tahan lama kayak Nyonya Menir yang berdiri sejak 1983 sampai sekarang.
Ngomong-ngomong, apa kamu masih mengingat kenangan kita ?. Semoga iya, kalaupun tidak ya syukurlah. Itu bisa berarti tidak ada hal yang belum selesai. Semua sudah selesai, bagimu mungkin. Kamu juga tidak perlu mengingat kenangan-kenangan buruk yang pernah terjadi, biar kamu tetap nafsu makan, rajin belajar biar lulus cepet dari kuliahmu, terus dapat IP kumlot, dan cita-citamu bisa tercapai, rajin sholat, dan mendoakan kebahagiaan orang tuamu.
Kalaupun kamu masih atau barangkali pernah teringat, ya dimaklumi saja. Kenangan adalah cerita masa lalu yang membentuk kita saat ini. Yang membentukmu menjadi perempuan yang lebih banyak belajar tentang seorang laki-laki, tentang bagaimana sebuah hubungan dapat berlangsung lancar dan aman dengan memperhatikan kondisi psikologisnya dalam berkomunikasi.
Kenangan, ibaratnya seperti pengalaman. Dia adalah guru terbaik yang tidak pernah minta untuk digaji. Dan tidak perlu sertifikat dari aku untuk membuktikan kita pernah memiliki kenangan. Pun demikian sebaliknya denganku.
Dan kenangan itu seperti Ghost Cat di Secret Life of Walter Mitty, ia memang liar kapan saja bisa hadir, entah lagi makan atau buang air besar. Tapi, dibalik itu, ia adalah sebentuk keindahan yang perlu kita nikmati setiap saat dari tempat kita bersantai, dan tidak perlu kita menyimpan dalam selembar foto untuk terus mengingatnya.
Oia, kalau kamu menolak kenangan, jangan giat-giat menolaknya. Kenangan itu otomatis sudah kesimpan sebagai ingatan dalam alam bawah sadar kita. Dia super ego yang sewaktu-waktu datang. Kalau kamu menolaknya, ya kamu semakin sakit. Terima saja kenangan kita, entah yang baik atau yang buruk. Toh itu akan mendewasakanmu.
Aku dengar penelitianmu diterima untuk dimasukan dalam sebuah buku ya ?. Super sekali dirimu. Ini hal keren yang pertama aku dengar tentangmu. Syukurlah.
Aku nulis surat ini, bukan untuk membuktikan bahwa aku pernah punya pacar sepertimu yang sekarang sudah menjadi mantan. Bukan. Ini sebagai catatan, aku mengakui kenangan tentangmu, tentang mantan, tak elok rasanya untuk dibuang jauh. Dan lebih tak elok menganggap kenangan sebagai tersangka perusak laju dalam hidup, penghambat move on. Dan ini hanya pengakuan, bahwa aku sudah move on sejak dalam pikiran beberapa waktu lalu.
Banyak aktivis kenangan diluar sana yang sukses menerbitkan buku, juga berawal dari kenangan dari mantannya.
Akhir kata dariku, jangan lupa minum kopi biar otakmu encer soal kenangan kita.

​Fb : AD Basit Arifianto

Twitt : @BasithArifianto

Bio : Bukan cowok keren, tapi manis kok, suer deh !