BAGIKAN

Oke, Sebelumnya beta toss dengan nona Intan. Salam sayang e dari kitorang orang pulau Halmahera, Endonesia Timur. Apa kabar kamu orang samua yang lagi baca siksakampus nih? semoga kabar bae-bae seja e.

Oh iyo, selamat menunaikan ibadah puasa Ramadan. Biasanya sa ditemani teh panas, seperti selera mba Intan to. Walau sa punya kaos pecinta kopi Indonesia (PKI), saya juga dengan jujur mengaku lebih senang minum teh panas. Asseeeekkk!!!

Ya, jadi kali ini menulis tanpa menyeruput dan menahan godaan aroma pisang goreng dari tetangga, karena keadaan lagi ‘datang bulan’, maksudnya datang bulan puasa, jadi sa harus menahan hawa nafsu maupun godaan-godaan lainnya.

Sebetulnya tulisan ini sa mo kirim ke situs sebelah, untuk sedikit menambahkan dan meluruskan tulisan berjudul ‘Sisi Lain Orang (Indonesia) Timur yang Jarang Diekspos‘ disana. Tapi ah setelah sa pikir-pikir, mending sa muat di siksakampus saja lah. Cocok buat sa yang masih menghuni kampus dan terus tersiksa dengan rasa gelisah.

Disana, penulis kaka Muksin Kota so bilang stigmatisasi publik terhadap orang Indonesia timur tidak pernah akan selesai. Setelah dicap sebagai tukang bikin masalah di kampung orang, deng perlakuan diskriminatif yang ternyata memunculkan asumsi negatif, bahwa semua orang timur yang berkulit gelap, berambut keriting, dan bertampang keras adalah jahat. Atau yang sering kaka Arie Keriting bilang ‘kulit hitam, rambut keriting, mata manyala’. Ah, itu betul sudah.

Tapi sebenarnya beta mau tambahkan sih, sisi lain orang timur yang jarang diekspos adalah tidak semua kulit hitam, rambut keriting, dan bertampang jahat. Sebagai contoh, seperti saya ini. Tidak jahat, romantis, rambut botak lurus, mata menyala, tapi keluar masuk penjara. Eh, tapi bukan penjahat ee.

Nah, torang di timur itu, dia pe putih-putih ‘susu cap nona’ me ada, yang bisa saingan dengan nona-nona di Jawa sana. Kalo kalian tidak percaya, ayo baronda ke Manado sana, la cuci mata jo eh. Pe Mar e, sio nyanda yang mo lawang kwa dape cewe-cewe punya paha.

Mudeng deng sa pu dialek toh? Kalo tidak, silahkan tanya.

Oke, selanjutnya sa mo cerita soal infrastruktur di Indonesia timur. Banyak berita bilang e kitorang di timur ini infrastruktur paling tertinggal sudah. Tapi, sebenarnya saya mau meluruskan, malahan kitorang disini lebih maju sekali. Berikut beta kase data dan faktanya.

Bayangkan saja, kitorang punya orang pemerintah daerah di Indonesia timur disini itu, bah! Jenius semua, terlalu pintar dan pemikiran mereka itu majuuuuu sekali. Dan itu direalisasikan. Sebagai contoh, di sa pe tetangga kampung di Halmahera sana, dusun yang penduduknya Cuma 16 kepala keluarga, pemerentah sudah bangun bangunan pasar. Hebat toh? Maju toh? AKhirnya jadi suanggi (hantu) punya tempat kongkow.

Masalah infrastruktur lagi, tower komunikasi? Tidak perlu diragukan, setiap kecamatan di pedalaman sana tersedia. Tapi, sio ado mama sayang e, jangankan jaringan 3G, sinyalnya pun aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhh, jadi besi tua semua. Sakit senangnya tuh disini kaka ee. Tapi sudahlah, menolak lupakan.

Kembali soal stereotype terhadap orang timur. Sesungguhnya kitorang ini tidak seperti apa yang digembor-gemborkan, bahwa orang timur ini tukang bikin masalah, bertampang keras adalah jahat, ketinggalan, dan lain sebagainya.

Kitorang orang timur ini sio baku sayang e, hidup damai berdampingan penuh cinta biar beda agama, ras deng suku, dan saling baku bantu kalau susah. Sebab, itu kitorang punya falsafah hidup yang diturunkan oleh leluhur-leluhur.

Jadi, begitu saja. Sekali-sekali main kesini e biar tau lebih banyak.
Oh ya, terakhir beta mau basuara lagi nih. Sesungguhnya Indonesia ini, milik kita orang timur. Serius ini kaka. Dan itu keluar dari mulut kamu orang sejak dulu. Kamu orang pasti mengakuinya.
Jangan mengelak.

Tidak percaya? Coba nanyikan sepenggal lirik lagu nasional ‘Indonesia Pusaka’. Sambil nyanyi yah !
Indooneeeesia… Tanah Aiiiir Beeeetaaa .
Pusakaaa Abadi nan Jaya

Betul toh? Indonesia Tanah Air Beta. Bukan tanah air abang, mas, akang, daeng atau bli. Tapi Indonesia Tanah Air Beta kaka ee. Tapi alangkah baiknya kita ganti saja liriknya ya, Indonesia tanah air kita bersama, dari Merauke sampai Sabang. Sepakat? hehehehe

Salam sayang dari Timur.