BAGIKAN

Kemarin, Komisi Pemilihan Umum (KPU) menyelenggarakan Pemilu serentak untuk masyarakat Indonesia. Berdasarkan Undang-undang Pemilu nomor 7 tahun 2017, yang bisa menjadi pemilih adalah warga negara Indonesia yang sudah berumur 17 tahun atau lebih, sudah kawin atau sudah pernah kawin. Jadi bagi kalian para jomblo 20 tahun terakhir, sudah bisa mencoblos di Tempat Pemungutan Suara (TPS) setempat. Kangen buat laporan penelitian, bagian pembuka sudah penuh dengan angka. Hikz~

Bagi saya, Pemilu kali ini sangat berbeda. Ketika hari H pemilihan presiden 2014 lalu, saya habiskan waktu di warung kopi Buleck, tempat ngopi langganan bersama teman-teman. Dari pagi hingga malam. Euforia anak muda yang kumpul sama qaqa keren cum aktipis mah selalu bikin betah. Apalagi status pengangguran masih saya pegang erat dan teguh. Bisa ngopi dengan mereka sudah bahagya meski dompet trada pemasukan.

Lain padang lain ilalang. Lain tahun lain Cawapres. Capresnya tetep aja Jokowi vs Prabowo. Dua Capres yang belakangan saya tahu dari film Sexy Killers, karya terakhir dari Ekspedisi Indonesia Biru Watchdoc, sebagai orang yang hanya peduli terhadap penguasa, bukan rakyat. Lewat tambang batu bara, ratusan rakyat jadi korban; hasil tangkapan ikan oleh nelayan turun drastis akibat terumbu karang hancur, meninggal tenggelam di bekas galian tambang, mengidap gangguan saluran pernapasan hingga kanker dan berujung kematian.

Sebelum menonton film itu, saya membaca tulisan Bang Bilven. Judulnya menarik, Golput: Siapapun yang Menang, Rakyat Tetap Kalah. Isinya tentang data dan fakta bahwa dua Capres itu mempunyai rekam jejak buruk terhadap rakyat. Mulai agraria hingga pelanggaran HAM.

Dua karya ini yang membuat saya abstain pada pemilu tahun ini. Jika kalian tanya saya ke mana saat orang-orang berduyun-duyun ke TPS? Saya jawab: sedang ada di Bali.

Kenapa Bali? Saya punya kenangan keluarga di Bedugul. Bersama paman dan sepupu, saya memetik stroberi dari kebun petani. Atau Tabanan, kenangan berbagi arak oleh satpam penjaga ruko. Kebetulan saat itu sedang perjalanan kongres organisasi dengan tujuan Mataram. Ada tragedi. Saat melalui Gilimanuk-Padang Bai, bus oper dan kami dimintai uang tambahan. Kami memutuskan berhenti sejenak, sambil koordinasi dengan teman yang ada di Bali. Selama menunggu hasil koordinasi, sebagain dari kami mendapat bagian arak dari satpam. Ujungnya mudah ditebak. Tepar di dalam bus jurusan Tabanan-Padang Bai.

Saya memutuskan untuk menjumputi titik-titik kenangan itu. Selama perjalanan, saya tiba di salah satu TPS di Tabanan. Ada penampakan yang jamak kita ketahui tapi menganggap hal itu tidak ada: pedagang. Sempol tahu, bakso, cilok, es degan, dan aneka gorengan. Mereka ada di lokasi TPS, tapi anggapan yang muncul mereka orang di luar TPS.  Saya menghampiri salah satu pedagang kaki lima.

“Tidak coblos, Bu?”

“Sudah, Mas. Tadi pagi. Kalau Mas-nya?”

“Tidak, Bu,” sambil meringis

“Wah Mas-nya golput!”

Lain halnya dengan pedagang bakso dan es degan. Mereka memutuskan untuk tidak menjadi pemilih karena penghasilan kurang sebanding dengan kebutuhan sehari-hari. Alih-alih berharap memilih pemimpin yang bisa mensejahterakan rakyat, usaha yang ia jalani tujuh tahun terakhir hanya stagnan bahkan sempat terancam gulung tikar akibat tidak stabilnya kebutuhan pokok.

Secara terpisah, saya bertemu dengan pedagang kerupuk. Ia bercerita bahwa harga kerupuk mentah dan plastik untuk bungkusnya, mengalami kenaikan terus menerus tiap waktu. Risikonya, laba yang diambil sangat kecil. “Kalau jual lebih mahal, isi (kerupuk)nya dikurangi, konsumen gak mau beli”.

Pedagang kerap tak dianggap. Ia seperti tercerabut dari keberadaannya. Bahwa berlangsung kampanye, pedagang ya pedagang. Meskipun mereka berada di tengah-tengah kerumunan kampanye. Saat berada di konser dangdut, pedagang bukan lah penonton. Bahkan jika kalian ingat tragedi bom Sarinah, Sate Jamal yang sempat viral ya sebatas Sate Jamal. Para pedagang tidak dianggap sebagai bagian dari suatu momentum. Bahkan saat minta tolong pedagang permen gulali membentuk hati untuk dikasihkan doi, ingatnya ya momen romantis. Bukan susahnya proses membuat permen gulali berbentuk hati.

Lalu kita tertawa membaca meme Sate Jamal yang viral, pedagang asongan, atau tukang tambal ban di tragedi bom Surabaya. Sambil sesekali nyinyir bahwa pedagang bentuk budaya kita yang tidak peduli terhadap sekitar.

Budaya kita? Memang mudah memberikan klaim tak berdasar. Seperti gampangnya doi mengakhiri hubungan hanya karena beda pandangan soal mana lebih dulu ayam atau telur. Jadi, anggaplah pedagang bagian dari suatu momen. Ia manusia. Ia mempunyai hak sama untuk mendapat informasi dan terlibat aktif atas suatu momen. Bagaimana mereka peduli terhadap insiden bom jika setiap hari tercerabut dari sosayeti. Ia rakyat. Yang siapapun menang, rakyat tetap kalah.