BAGIKAN

Keluarga saya sepakat menjadikan ‘sosok’ hantu sebagai salah satu ikon untuk menakuti anak kecil. Boom! Cara itu masif, terstruktur dan sistematis. Dijamin paling ampuh. Contohnya, jangan keluar magrib karena Wewe Gombel berkeliaran di luar siap nyulik anak kecil. Jangan pulang malam karena nanti akan diikuti Pocong. Jangan jadi hidung belang karena nanti didatangi Kuntilanak dan lainnya yang termodifikasi sesuai kearifan lokal yang dianut masing-masing keluarga dan daerah.

Saat sudah besar dan cukup pengetahuan untuk berpikir logis, saya sadar kalau itu semua terkonstruksi sedemikian rupa oleh orang tua secara turun-temurun. Alih-alih kembali ke jalan berpikir rasional, ikon hantu yang irasional terus direproduksi. Secara tidak sadar, saya juga ikut-ikutan menakuti anak kecil di keluarga saya biar manut. Seperti saat keponakan saya yang berumur 7 tahun maksa pengen ke warung jam 6 sore, jalanan sudah gelap. Saya bilang pada dia bahwa kami tidak bisa ke warung karena jam segitu banyak Pocong di luar. Dan berhasil!

Semuanya bukan tanpa sebab. Ikon hantu dengan sengaja dihadirkan sebagai karakter jahat oleh para orang tua. Padahal kalau mau jujur, hantu atau hal yang metafisik itu banyak jenisnya. Ada Jin baik seperti pada tayangan teve Jin dan Jun. Atau tuyul lucu di Tuyul dan Mbak Yul dan lainnya. Seharusnya anak kecil yang lahir pada tahun 90an bisa menjawab ke orang tuanya, saat berada di luar kita aman karena banyak tuyul lucu dan baik hati.

Tapi emang dasar manusia ngehek! Tidak mau kalau hantu itu dinarasikan sebagai makhluk metafisik yang baik hati. Zaman Orde Baru, tayangan hantu-hantuan macam Jin dan Jun malah digugat oleh publik, karena menampilkan sosok astral & supranatural yang baik hati. Dari gugatan itu diketahui kalau publik menganggap narasi hantu baik dan lemah lembut membuat generasi bangsa jauh dari ‘agama’. Double ngehek ye kan!!!!!!

Menanggapi hal itu, Badan Film Nasional melalui Kode Etik Badan Sensor Film pada 1980 mengimbau, bahwa setiap tayangan yang ada hantu-hantunya wajib menyertakan sosok relijius sebagai pahlawan. Ini ngejawab pertanyaan di kepala saya sejak kecil kenapa ya hantu suka kalah sama Kiyai-Kiyai!!!!!!! Alih-alih cari tahu sebab-musabab itu hantu gentayangan, kita lebih banyak berpikir cepat dan singkat kalau dunia ini hanya urusan narasi baik-buruk, setan-kiyai, valak-pendeta, jin-ustadz. Siapa yang tahu kalau setan-setan ini juga punya gugatan sama Tuhan dan manusia? Tapi tidak pernah didengar karena otak kitas udah berada pada narasi normatif kalau setan itu jahat semua!

Kali ini saya akan menyoroti gugatan Kuntilanak. Hantu perempuan yang terkenal sejak Suzzanna Martha Frederika van Osch main peran jadi Kuntilanak di film Sundel Bolong (1981); mati tidak wajar dalam keadaan hamil karena diperkosa. Ia tidak mendapat kesempatan untuk bicara ketika hidup bahkan untuk membela diri. Gentayangan menjadi cara untuk membalaskan dendamnya. Siapa yang tidak dendam ketika ia disalahkan atas kerugian (perkosaan) yang dia derita?

Perempuan yang menjadi korban perkosaan acapkali dikorbankan kembali oleh masyarakat sekitar. Hal ini juga menjadi alasan mengapa banyak korban tidak mau bercerita apalagi melapor. Bahkan ada banyak masyarakat yang mengasosiakan korban adalah penggoda atau tidak menolak atau mencoba teriak minta tolong ketika diperkosaan. Ya Marimar gimana mau melapor?! Belum lagi ketika lapor ke polisi atau datang ke psikolog. Bukan malah bantu tapi yang ada makin eneg. Itu bapak-ibu profesional banyak yang perspektifnya tidak pro korban.

Si Manis Jembatan Ancol! Salah satu teman Kuntilanak juga sama-sama gentayangan ingin membalaskan dendamnya kepada orang yang memaksa menikahinya ketika ia hidup; dengan cara menghantui! Ketika ia hidup—Siti Ariah—menolak ajakan diperistri saudagar kaya. Karena penolakan itu ia dibunuh dan dibuang di sekitar Jembatan Ancol.

Dendam-dendam korban—termasuk Kuntilanak—sudah seharusnya kita dengarkan. Tidak ada kata terlambat. Selalu ada jalan untuk bantu korban.

Referensi:
Hereen, Katinka van. Contemporary Indonesian Film: Spirits of Reform and Ghosts from the Past. BRILL: 2012. ISBN: 978-90-04-25347-6 (cek online di https://brill.com/view/title/23362)