BAGIKAN

Entah, kita mengartikan pemanggilan Sadam oleh pihak brokrasi kampusnya, Fakultas Sastra Universitas Jember (FS UJ), sebagai kutukan atau sebagai malapetaka yang hanya terjadi pada waktu tertentu saja. Masalahnya bermula dari tulisannya yang berjudul Kegagapan Pembangunan Fakultas Sastra Universitas Jember. Ibarat membangunkan singa yang tengah tertidur lelap, sontak tulisan itu membangunkan pula pihak birokrasi FS UJ. Akhirnya, Sadam “diseret” ke ruang ujian pada hari Selasa (26/4) kemarin.

Apakah ini sebuah kutukan? Bahwa, tulisan yang mengandung sebuah kritikan acapkali membahayakan si penulisnya. Bukankah tidak sedikit, hanya gegara sebuah tulisan ada yang diintimidasi, dikriminalisasi, difitnah, dikebiri, dipenjara, bahkan dihilangkan nyawanya. Pramoedya Ananta Toer merupakan salah satu sosok yang dalam hidupnya acapkali mendapatkan perlakuan itu, hanya saja nyawanya tak dihilangkan oleh tangan-tangan lalim.

Dan, apakah kasus Sadam merupakan sebuah malapetaka? Dalam hemat saya, hal itu bisa jadi sebuah malapetaka, dalam arti lain sebuah musibah atau cobaan. Tentunya, di balik musibah atau cobaan itu ada hikmah, yang membuatnya harus memetik pelajaran atas perbuatan yang telah dilakukannya.

Sebagai malapetaka, barangkali sudah saatnya Sadam mendapatkannya. Kita tahu, selama ini dia seolah menikmati masa-masa menjadi mahasiswa. Begitupun ketika dia mewarnai kesehariannya sebagai mahasiswanya dengan aktifitas organisatoris sekaligus menjadi jurnalis kampus atau pers mahasiswa. Dihadapkan pada kasus itu, ia disudutkan dalam dua pilihan, yakni antara menghentikan aktifitas organisatoris sekaligus kejurnalistikannya di organisasinya atau memutus ketiganya, tentunya dengan syarat merampungkan masa studinya.

Mau tidak mau, suka atau tidak suka, Sadam harus memilih. Sadam harus menentukan sikap. Ini bertujuan agar kejantanannya tidak dipertanyakan. Saya pikir, tulisannya Agustira Rahman Ilhami, Untuk Sadam Yang Baru Saja Masuk Ruang Sidang, dapat dijadikan bahan refleksi diri agar lebih menjadi pribadi yang unggul, bergairah, berwibawa, dan berkharismatik.

Banyak sekali pelajaran yang perlu dipetik dari tulisan itu. Namun, yang paling membuat saya tergerak untuk melengkapinya atau menambahkan secercah pencerahan, yakni kerasannya Sadam di kampus dan alasannya kerasan karena memiliki misi membela masyarakat lemah, serta menyelamatkan kampusnya dari pejabat birokrasi kampus yang korup.

Barangkali, Agus merupakan segelintir mahasiswa. Tepatnya pensiunan mahasiswa, mengingat dia tak lama diwisuda, yang mempertanyakan kerasannya Sadam di kampusnya. Padahal, sebagaimana yang diungkapkan Agus, di kampus Sadam jumlah dosen yang bajingan tak terperi; yang mengabdi kepada masyarakat masih bisa dihitung dengan jari. Tentunya, selalu saja Sadam ketemu dengan dosen supersensi dan proyekan. Di samping itu, Sadam selalu ketemu dengan dosen yang bukunya ngambil referensi dari wikipedia, atau dosen yang punya jagrak kanan-kiri atau standar ganda.

“Apa lagi alasanmu di kampus?” kata Agus. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana ekspresi muka Sadam saat mendengar pertanyaan itu. Yang jelas, setelah mendengarkan dengan seksama dan meresapi pertanyaan itu, saya jadi bermuhasabah diri. Karena, sampai detik ini saya masih belum hengkang dari kampus saya. Kapan saya merampungkan tugas akhir kuliah saya dan diwisuda, masih menjadi rahasia Tuhan yang kata Agus, tidak mungkin bisa dijawab oleh makhluk hina macam kita-kita.

Sadam dan barisan mahasiswa yang senasib dengannya tentu memiliki alasan yang beragam. Misal mahasiswa jebolan pesantren, tak menutup kemungkinan pola pikirnya terbentuk menjadi konservatif. Dalam hal ini, dia akan mengamalkan ilmunya yang telah didapat selama nyantri. Mahasiswa semacam ini memilih tidak lulus tepat waktu, karena nabi junjungannya mengajarkan bahwa menuntut ilmu dimulai sejak dalam kandungan hingga liang lahat; menuntut ilmu tak terbatas ruang dan waktu. Belum lagi ditambah pemahamannya terhadap kitab Ta’lim al-Muta’allim yang memberikan enam syarat untuk para pencari ilmu, salah satunya yakni thûl zamân (waktu panjang).

Saya mengacungkan jempol kepada mahasiswa yang mimilih betah di kampus, termasuk kepada Sadam apabila memiliki alasan demikian. Karena, dalam waktu yang lama itu hati dan pikiran serta mental dan intelijensia akan ditempa. Tak munutup kemungkinan, dalam kurun waktu yang lama itu, kita dibentuk menjadi pribadi yang memiliki jiwa sosial yang besar, sehingga lebih mementingkan pengabdian kepada masyarakat ketimbang kepada yang lainnya, kepada birokrat kampus, misalnya, atau kepada pacar. Tentunya, pola pikir semacam ini akan dirawatnya hingga lulus dari kampus; ia lebih mementingkan pengabdian kepada masyarakat, terutama masyarakat kelas bawah, ketimbang pemerintahan apalagi pemerintahannya bejat dan korup.

Itulah yang perlu kita rawat. Saya berharap Sadam turut merawatnya. Sadam harus menghindari niat “buruk” dalam menuntut ilmu . Tak elok rasanya, berkuliah atau menuntut ilmu dengan berbekal ambisi lulus tepat waktu atau lebih cepat dengan nilai tinggi, yang tujuannya agar mudah mendapatkan pekerjaan yang diidam-idamkan.

Sekali lagi, Sadam tak boleh merawat niat seperti itu. Karena, niat semacam itu merupakan jebakan batmen, yang akan membuatnya terjebak dalam dua kemungkinan. Pertama menjadi mahasiswa yang tidak kritis atau tumpul pikiran, mencari muka di depan dosen dan birokrat kampus, dan ujung-ujungnya menjadi “penjilat pantat” dosen dan birokrat kampus. Kedua, ketika kembali ke khittah atau kembali ke masyarakat dikhawatirkan akan menjadi “anak pembangunan”, yang mendukung segala pembangunan yang dilakukan pemerintahan, ironinya tak mau tahu apakah pembangunan itu merugikan atau menyengsarakan rakyat.

Demikian secercah pencerahan yang saya niatkan untuk melengkapi tulisannya Agus. Besar harapan saya, Sadam menjadikan secercah pencerahan itu sebagai bahan refleksi diri. Sempatkan diri untuk merenungi “perbuatan-perbuatan” yang telah dilakakukan. Dalam kasus yang menimpa Sadam, kita tak boleh saling menyalahkan atau menyalahkan siapa saja. Pihak Dekanat, tak lain adalah guru-guru Sadam. Sebaliknya, Sadam adalah sebagai murid. Sebagai guru dan murid seyogyanya mengindahkan pepatah: “Guru kencing berdiri, murid kencing berlari.” Dan, teruntuk Sadam, belajarlah kencing dengan posisi duduk ketika gurumu kencing dengan posisi jongkok.