BAGIKAN

Hujan di Bulan Desember masih setia mengguyur Kota Jember. Terkadang waktu siang panas, juga seringkali lembab karena seringkali matahari diselimuti gumpalan awan. Saya baru menyadari bahwa cuaca lembab disertai hujan pada Bulan November – Desember tersebut, sangat mendukung proses pembusukan hewan yang sudah mati. Jika diamati, iklim yang mendukung pembusukan tersebut telah diperhitungkan oleh Soeharto bersama angkatan darat untuk membantai jutaan manusia Indonesia sejak 1 Oktober 1965. Saya hanya menganggap, pembantaian besar-besaran tersebut sangat tidak manusiawi, sudah tidak terhitung jumlahnya leher manusia digorok lalu di tendang ke sungai, jurang, laut dan lain sebagainya.

Lantas Siapa sebenarnya Soeharto itu? Tidak banyak orang tahu, bahkan wartawanpun sangat sulit bila ingin melakukan wawancara dengan Soeharto. Ia sosok yang sungguh misterius. Gaya bertuturnya pelan, sikapnya kalem, tidak mudah tergesa-gesa dalam mengambil sikap, dan terlihat bijaksana saat melakukan pidato kenegaraan. Berbeda dengan Soekarno yang cenderung berapi-api ketika berhadapan dengan rakyatnya. Jargon-jargon politik begitu lekat di telinga seperti “Ganjang Malaysia”, “Lawan pengaruh negara kapitalisme dan Imperialisme”, “Kita harus menjadi bangsa yang berdikari”, kondisi tersebut memang pas karena Indonesia pada tahun 1950-60 an harus mengambil sikap ketika Irian Barat belum terbebas dari kolonialisme Belanda, dan Inggris ingin membentuk negara federasi Malaysia, dari negara-negara bekas jajahannya.

Bila Soekarno sangat revolusioner dalam menjaga semangat anti Imperialisme, Seoharto tidak demikian. Soeharto tidak lagi melarang pengaruh budaya negara Imperialisme. Pemuda Indonesia yang dianggap menye-menye karena ikut-ikutan berpakaian atau berdandan rambut seperti personil Band The Beatles dari Inggris, tidak lagi dilarang.

Menurut Eriyanto, dalam bukunya Kekuasaan Otoriter, Dari Gerakan Penindasan Menuju Politik Hegemoni , menyebutkan bahwa Soeharto seolah ingin seperti raja-raja Jawa. Bila ingin menguasai sebuah wilayah, ia harus melakukan perang dan meruntuhkan kekuasaan penguasa sebelumnya. Kemenangan mutlak harus dimiliki. Tidak boleh ada satupun warga negara yang berani mengkritisi atau tidak sependapat dengan Soeharto. Untuk itu, Soeharto sangat tidak suka bila pemilihan presiden dilakukan dengan cara voting. Bila ada masyarakat yang tidak memilihnya, berarti kekuasaannya belum dimilikinya secara penuh. Berarti masih ada masyarakat yang tidak bersedia memiliki pemimpin negara macam Soeharto.  Bayangkan saja, selama enam kali diangkat sebagai presiden sejak 1968, ia dipilih melalui Majlis Permusyawaratan Rakyat, bukannya oleh rakyat langsung.  Partai Golkar semacam dinasti kerajaan Soeharto.

Peristiwa berdarah di setiap daerah di Indonesia sejak 1 Oktober 1965 dan mulai mereda pada akhir 1966 tersebut merupakan awal dari antitesa perjalanan pemerintahan demokrasi terpimpin Soekarno. Peristiwa pembantaian di daerah memang baru diketahui setelah reformasi 1998, bersama runtuhnya rezim Soeharto. Karena selama 32 Tahun, media tidak bisa bebas mengkritisi kondisi pemerintah, di bawah kontrol mentri penerangan Harmoko, keponakan Soeharto sendiri. Sehingga, fungsi media dari watc dog menjadi penyambung lidah Soeharto. Informasi yang tersebar luas dan menjadi pemahaman wajib selama orde baru melalui materi pendidikan, media atau upacara formal kenegaraan hanya serangkaian cerita pengkhianata Partai Komunis Indonesia (PKI) terhadap Soekarno atau negara, saat membunuh para Jendral di Lubang Buaya. Mayoritas masyarakat yang sangat menyanjung Soekarno pun menjadi membabi buta turut memusuhi PKI.

Massa PKI di Indonesia, menurut Hermawan Sulistyo dalam buku Palu Arit di Ladang Tebu mencapai angka terbesar di Indonesia. Massa komunis di Indonesia juga mencapai jumlah terbesar setelah Uni Sovyet dan Cina, dilihat dari keberhasilan pemilu 1995. Akan tetapi, bila Massa komunis Uni Sovyet mayoritas buruh dan Cina dengan Petaninya, Soekarno ingin ke duanya. Belum lagi, Soekarno ingin menyatukan semua elemen ideologis Ormas maupun partai melalui gagasannya, Nasionalis, Agamis, Komunis (Nasakom), untuk mengurangi konflik horisontal. Setelah peristiwa, Gerakan 30 September (G 30 S) 1965, kelompok agamis dan nasionalis dimanfaatkan oleh Soeharto bersama angkatan darat agar menjadi musuh komunis. Trotsky dalam bukunya Revolusi Permanen juga menyebutkan bahwa Soekarno terlalu ambisius ingin menyatukan ketiga ideologi besar tersebut di bawah strategi politik demokrasi terpimpin. Pembantaian besar-besaran massa PKI di Indonesia tidak terlepas dari konflik horizontal yang sudah seringkali terjadi pada tahun 1950-an.

Dalam penelitiannya di Jombang dan Kediri, Hermawan Sulistyo menyebutkan bahwa  kelompok agamis seperti Kyai dan Pemuda Ansor sudah seringkali berseteru dengan PKI. Struktur feodalisme peninggalan Kolonial Belanda belum sepenuhnya hilang, sehingga tuan tanah seperti Kyai juga menjadi musuh PKI agar kemilikan tanah bisa dibagi rata. Jargon politik waktu itu adalah “Ganjang Tujuh Setan Desa”, setan desa salah satunya Kyai dan para pemodal. Kondisi tersebut menjadi semacam kerinduan bagi kelompok yang seringkali berseteru, terutama militer yang memposisikan dirinya ‘netral’ di bawah pimpinan Soeharto.

Naiknya Soeharto menjadi presiden atau raja Jawa baru, layaknya raja Mataram yang beragama Siwa di Jawa, Erlangga saat menyerang Kerajaan Sriwijaya. Seperti yang ditulis Parakitri T. Simbolon dalam buku Menjadi Indonesia, Raja Erlangga bisa menguasai Sriwijaya setelah hancur diserang Raja Cola dari India Selatan. Soeharto dan Erlangga sama-sama tidak perlu mengotori tangannya dengan lumuran darah. Keduanya hanya memanfaatkan momentum konflik horisontal yang sedang terjadi. Namun perbedaannya, Soeharto menciptakan mitos kepahlawanannya sendiri, bahwa komunisme di Indonesia sangat berbahaya bagi demokrasi pancasila. Kelompok PKI beserta afiliasinya dituduh tidak beragama, berkhianat kepada Soekarno, dengan tujuan agar kelompok agamis dan nasionalis membabi buta melawan komunisme, lalu menyanjung Soeharto. Mitos terbesar Soeharto yang membuat ia bisa lenggang kangkung selama 32 tahun bisa dilihat dalam film G 30/SPKI dan buku Sejarah Nasional Indonesia yang ditulis sejarawan bayaran Nugrohonotosusanto.

Setelah Soeharto naik di kursi kepresidenan, ia menyebut sebagai pemerintah orde baru. Sebuah periode pemerintahan yang mengkritisi era demokrasi terpimpin Soekarno. Hubungan diplomatis dengan negara Imperialis seperti Amerika kembali dibuka selebar mungkin untuk menanamkan modal. Soeharto disebut sebagai Bapak pembangunan yang tidak lagi sibuk dengan perlawanan anti imperialisme dan melupakan kondisi krisis perekonomian masyarakat seperti era Soekarno. Babak baru dimulai dengan semangat anti komunisme pengkhianat negara.

Dalam edisi khusus Majalah TempoSoeharto’, perilaku Soeharto sebagai Raja Jawa di balik kemasan negara demokrasi pancasila, terlihat dari cerita Husni Wirajaya. Ia merupakan teman memancing, sekaligus jongos Soeharto. Husni Wirajaya harus mencari lokasi tempat memancing yang bagus dan terdapat ikan banyak. Bila, marah Soeharto tidak banyak bicara, ia hanya melenggang pergi bila tidak mendapatkan tangkapan ikan. Semua orang seperti ajudan dan Husni Wijaya menjadi gemetaran. Belum lagi cerita dari Rhamdan KH yang dipilih untuk menulis biografi Soeharto. Rhamdan semacam pujangga kerajaan Mataram sewaktu disuruh menulis Babad Tanah Jawi.

Malam ini, di bulan Desember yang selalu dibasahi hujan, saya kembali teringat dengan kehidupan mewah Soeharto di Cendana, dari hasil pembunuhan massal anggota PKI yang selama ini tidak banyak diketahui. Meski pada kenyataannya tidak semua orang yang dibunuh secara membabi buta tersebut merupakan anggota PKI, apalagi tidak beragama. Ingatan tersebut kembali muncul setelah melihat film dokumenter The Look Of Silence karya Joshua Openheimer. Film tersebut menceritakan sudut pandang dari korban pembunuhan massal. Joshua berhasil menemukan korban yang selamat dari pembantaian. Serta keluarga korban yang trauma akibat pembunuhan terhadap anaknya Almarhum Ramli, dilakukan paling sadis dibandingkan dengan lainnya. Cerita tersebut diambil dari peristiwa beradarah di Sumatra Utara, dengan pola pembunuhan yang tidak berbeda jauh bila dibandingkan di Jawa. Si Algojo seringkali meminum darah korban agar tidak gila dan semakin berani ketika membunuh, dibuang ke sungai, ditanam hidup-hidup setelah disiksa dan lain sebagainya.

Menurut Banedict Anderson dalam Esainya, Medan Murders Most Foul, and With Relish,  membedakan peristiwa pembantaian massal di Jawa dan Sumatra, bisa dilihat dari pelaku atau pihak-pihak yang terlibat. Posisi Angkatan Darat beserta pejabat lokal sudah pasti tidak mau tangannya kotor, ia hanya menyediakan daftar nama siapa yang harus dibunuh. Sedangkan pihak yang melakukan eksekusi merupakan kelompok masyarakat yang sudah seringkali bersitegang. Bila di Sumatra, para preman seperti Anwar Kongo yang melakukan pembantaian karena sebelum peristiwa G 30 S meledak, PKI seringkali melarang pemuda di Sumatra menonton film barat di bioskop, sehingga para preman tidak mendapatkan jatah uang dari pengunjung yang semakin sepi. Seangkan di Jawa, pihak yang melakukan eksekusi mayoritas kelompok pemuda Ansor melalui restu Kyai, seperti yang ditulis Hermawan Sulistyo, studi kasus di Jombang dan Kediri.

Malam ini, saya hanya ingin menanyakan ulang kepada pihak yang tahu peristiwa di daerah selain Jawa, Bali dan Sumatra, karena saya sendiri bukanlah generasi yang hidup di zaman tersebut. Apakah hanya preman dan kelompok Ansor yang menjadi korban provokasi Soeharto? Karena masih ada daerah lain seperti Sulawesi, Ambon, Kalimantan dan kepulauan lain di Indonesia yang masih belum terungkap.