BAGIKAN

Sebelumnya thanks Dofu-dofu, Matur nuwun, xiexie, syukron, gracias, merci, thank you so much sudah klik siksakampus.com.

Saya adalah salah satu mahasiswa Fakultas Keguruan di salah satu perguruan di Maluku Utara. Sebagai mahasiswa tingkat akhir yang insyaAllah akan wisuda pada September ini (doakan yah), skripsi adalah hal yang membuat saya tidak bisa tidur dan saat saya memeriksakan tensi darah, ternyata tinggal 90/50 mmHg. Saya jadi merasa seperti Bella di Twilight movie.

Stop lebainya, lanjut.

Di saat menulis tulisan ini, saya baru selesai mentranskip hasil wawancara pada skripsi saya. Judul skripsi saya adalah Investigating Issues in Writing Thesis faced by The Students of English Education Study Program at Khairun University. Hehehe… Maklum saya orang Inggris. Karena penelitian saya adalah tentang menemukan masalah-masalah yang dihadapi oleh mahasiswa dalam menulis skripsi, khususnya dalam bahasa Inggris. Saya memang menemukan masalahnya. Apa masalahnya? Mau tahu? Mau tau aja, apa mau tau banget?

Oke serius yah.

Mahasiswa jurusan Bahasa Inggris seperti saya menyebut skripsi dengan sebutan THESIS (True Happiness Ended Since It Started) dan oleh sebab itu sebenarnya saya ingin membahas suka duka skripsi. Tapi toh semua mahasiswa pasti akan merasakan suka duka skripsi. Jadi saya pikir hal itu tidak perlu saya bahas disini.

Dalam penelitian itu, saya ingin membahas tentang… Eh, maksudnya dalam tulisan ini saya akan membahas tentang sebuah fenomena yang saya sebut Fenomena Referensi. Baiklah, saya akan membocorkan data mentah saya berdasarkan hasil wawancara 20 responden saya. Ternyata dari 20 responden yang saya wawancarai, semua menjawab bahwa masalah yang mereka hadapi saat menyusun skripsi adalah kekurangan referensi. Ke dua puluh responden tersebut mengakui bahwa mereka susah dalam mencari buku, baik berbahasa Indonesia maupun berbahasa Inggris yang akan digunakan sebagai referensi dalam skripsi mereka.

Padahal, beberapa responden telah mencari dari perpustakaan prodi, perpus daerah, toko buku terdekat bahkan google pun telah mereka eksploitasi demi mendapatkan buku-buku yang bersangkutan dengan penelitian Pendidikan Bahasa Inggris dan Sastra Inggris. Alhasil mereka tetap saja kekurangan referensi. Sebagian responden bahkan merasa tidak puas karena google selalu meminta bayaran saat mereka akan mendownload e-book. Mana kartu kredit? Mana? Boro-boro kartu kredit, uang kos aja sering menunggak.

Satu dari dua responden juga mengatakan bahwa “mungkin karena daerah ini masih tertinggal”. Tertinggal? Saya kira tidak. buktinya saya bisa beli baju di Planet Surf kok. Tapi karena saya juga menyusun skripsi, maka saya tahu betul bahwa responden saya tidak berbohong alias data saya valid. Beruntung sekali saya punya teman baik hati yang pernah jalan-jalan ke Semarang dan membawakan saya buku Wibisono tentang Skripsi dan Disertasi.

Buku seperti itu tidak akan bisa didapatkan di daerah saya, Toko buku terbesar pun lebih banyak menjual tulisan fiksi. Oh iya, saya hanya punya tiga buku untuk referensi skripsi saya dan 10 electronic book, serta jurnal yang untung-untung saya dapatkan gratis dari hasil download di google. Maaf sedikit curhat,siapa tahu ada yang prihatin dan mau berdonasi.

Pertanyaan yang kemudian ada di benak saya adalah, selain saya dan 20 responden tersebut, apakah kalian juga mengalami fenomena referensi ini? Atau apakah fenomena ini hanya terjadi di timur Indonesia? Pertanyaan ini khususnya saya ajukan kepada mahasiswa lain di luar provinsi saya. Lebih terkhusus lagi buat mahasiswa di barat Indonesia. Mari bantu menjawab!

Salam dari Timur.