BAGIKAN

Ngeri rasanya, ketika saya harus pindah dari kosan ke kosan, menghindar dari hingar-bingar kampus yang serba kompleks untuk mencari ketenangan hidup. Ini membuat saya merasa ada yang berubah dalam diri saya. Bahkan, kehidupan yang saya lalui pun semakin tak jelas dan tak semesra masa SMA, yang banyak diwarnai drama percintaan seperti halnya di FTV.

Saya bukanlah seorang yang anti kemapanan seperti anak punk atau anak jalanan yang sedang mencari kebebasan atau menuntut kebebasan. Saya juga bukan seorang aktivis organisasi kemahasiswaan yang militan, yang mampu mengendalikan suhu kampus saat memanas. Tapi, saya hanyalah seorang mahasiswa yang harus berbakti kepada Tuhan Yang Maha Esa, orang tua dan dosen. Kemudian, menuruti kemauan mereka sehingga lulus dan mendapat gelar sarjana dengan nilai yang diimpikan. Cum laude.

Seorang teman pernah menceramahi saya. Ekspresinya seperti saat dosen saya mengisi perkuliahan. Saya dapat membaca ke mana arah ceramahnya. Sepertinya dia merasa simpati melihat saya tidak inten berorganisasi, baik di intra kampus maupun ekstra.

Menurutnya, kalau saya cuma mau kuliah tok mending berhenti saja. Berkuliah tanpa ikut organisasi seperti seorang musafir yang kehausan di padang pasir. Sama halnya dengan mahasiswa yang kuliah niatnya cuma biar dapat pekerjaan yang diimpi-impikan setelah lulus. Syukur kalau tercapai, kalau tidak? Untung bisa lulus, kalau tidak? Nasib kan tidak ada yang tahu… Begitulah ceramahnya.

Setelah diceramahin habis-habisan, saya jadi bersedih. Saya lari ke kamar mandi. Beberapa menit setelah itu, saya berlari ke kamar dengan isak tangis yang meleleh-leleh. Malam harinya, teman saya datang. Saya duduk berduan di kamar. Teman saya itu pun menghibur saya. Dia juga sempat memberi saya saran. Katanya, tidak apa-apa saya tidak aktif di organisasi intra dan ekstra kampus, tapi kalau bisa saya aktif di organisasi mahasiswa daerah.

Saya yang masih dalam keadaan berkabung perlahan menemukan semangat hidup. Tapi saya masih bertanya-tanya tentang organisasi mahasiswa daerah yang dimaksud teman saya itu. Apa itu organisasi mahasiswa daerah? Dari hari ke hari, aktifitas saya tidak lepas dari mencari tahu tentang arti organisasi mahasiswa daerah.

Menurut pemahaman saya dari berbagai sumber, organisasi mahasiswa daerah atau yang biasa disebut Organda adalah organisasi kedaerahan yang anggota terdiri dari mahasiswa dari daerah yang sama. Organda ini tentunya akan melahirkan putra-putra daerah yang diharapkan membanggakan orang tua, guru, dan bahkan pemerintahan.

Di era yang serba berkemajuan dan kekinian ini, Organda semakin nampak eksistensinya dalam dunia perkampusan. Ini membuat saya berdecak kagum sekaligus merasa ngeri. Selain perkumpulan ini terdiri dari mahasiswa yang mempunyai latar belakang daerah sama, mereka mempunyai visi dan misi yang sama dan sepikir, yaitu memperkenalkan serta mengharumkan nama daerahnya. Seperti, memperkenalkan kekayaan budaya dan pariwisata daerah.

Di samping itu, Organda juga memiliki daya peran strategis dalam hal pembangunan daerah. Sayangnya, hal ini tak nampak lagi dalam kenyataan. Kesempatan membangun derahnya semakin hilang dengan lalu-lalangnya kesibukan bercengkrama dengan teman sebaya di warung kopi, untuk merencanakan liburan yang akan datang. Dari sini saya berkesimpulan, Organda semakin menjauh dari tujuannya. Alasannya karena tadi itu, hanya bersifat promosi budaya dan pariwisata daerah doang. Lebih parah lagi untuk mencari kenalan. Hal ini sah-sah saja, apabila tujuannya untuk melestarikan budaya, pariwisata, bahkan memperbaiki keturunan.

Kurangnya wacana kedaerahan hanya membuat para kader Organda kebingungan mencari jati diri. Seperti halnya saya. Ketika masuk dalam lingkaran tersebut ada rasa yang aneh dalam diri saya. Kebingungan saya masih terpelihara sampai saat ini, terutama terkait tujuan atau visi dan misi. Bahkan kegiatan-kegiatan di dalamnya dirasa tak memberikan efek penting dalam kehidupan bermasyarakat daerah tertentu, terlebih kehidupan berbangsa dan bernegara.

Semakin jauhnya haluan Organda ini membuat saya angkat kaki dari aktivitas dan segala kerunyamannya. Organisasi mahasiswa daerah yang sebenarnya bersifat agung dan beradab ini juga semakin lama semakin tak tahu arah dan tujuan. Layaknya sayap pemerintah yang menyuarakan pembangunan, namun diciderai dengan kepentingan-kepentingan tertentu. Hal ini banyak terjadi ketika Organda digunakan sebagai alat untuk mencari suara dalam mencapai cita-cita kekuasaan dalam pemerintahan, entah di tingkat kampus maupun daerah.

Tidak berhenti sampai di situ, Organda saat ini juga banyak digunakan sebagai corong kebijakan pemerintahan yang belum pasti mensejahterakan masyarakatnya. Bahkan ketika menyikapi kebijakan pemerintah yang tidak sesuai dengan cita-cita masyarakat. Perkumpulan mahasiswa ini sangat jarang membahasnya dalam diskusi antar anggota atau saat sekedar ngopi di trotoar pinggiran jalan.

Itulah alasan kenapa saya memilih menghindar dari hingar-bingar kampus. Saat ini saya lebih suka mencari kesibukan berdiskusi dari kosan satu ke kosan lain, baca buku, main game, main kucing, nonton tipi, mengaji, bersembahyang, berdzikir, berpikir dan beramal sholeh kepada sesama ciptaan Tuhan Yang Maha Kasih. Sesekali nongkrong bersama teman-teman di warung kopi yang harganya masih merakyat.[]