BAGIKAN

Sampai detik ini saya masih bertanya-tanya, begini: apakah seorang mahasiswa yang mengukuhkan diri menjadi seorang aktifis dilatarbelakangi ketersiksaannya di kampus? Pertanyaan ini muncul tidak sekadar asal-asalan, melainkan telah melalui meditasi yang cukup khusyuk. Kalau boleh jujur, saya sampai bela-belain tidak lulus tepat waktu demi mencari jawaban atas pertanyaan ini.

Bukan karena suatu kepentingan pertanyaan itu saya sampaikan di sini, bukan… Pertanyaan itu saya sampaikan di sini lantaran saya tidak menemukan ‘tempat suci’ selain Siksakampus.com. Media sosial milik saya –bahkan blog saya– terlalu hina untuk dijadikan sarana mengemukakan pertanyaan itu.

Bagi saya, pertanyaan itu teramat suci. Saking sucinya, saya merasa perlu seorang mursyid (guru atau pembimbing) untuk mencari jawabannya. Karena, tanpa seorang mursyid saya takut tersesat. Ujung-ujungnya saya dicap kafir.

Belum lagi jawaban itu ada di mana, tepatnya. Kalaulah ada di dasar laut, saya tinggal menggunakan jasa seorang nelayan. Sesampainya di tengah lautan, saya tinggal menyelam, selebihnya tinggal menunggu kedatangan pembawa jawaban itu.

Tapi, tanpa didampingi seorang mursyid saya khawatir keimanan saya rapuh. Yang awalnya berniat mencari jawaban beralih mencari mutiara. Dan, yang seharusnya saya mengharapkan sesosok malaikat atau nabi pembawa jawaban datang, malah mengharapkan sosok yang lain seperti bidadari, ratu kidul dan sejenisnya. Parahnya, saya membayangkan Syrena, sosok putri duyung dalam film Pirates of the Caribbean: on Stranger Tides.

Oh, Men… bisa dibayangkan apa yang terjadi. Barangkali kejadiannya tak jauh beda dengan adegan dalam film itu. Saya yang macak religius seperti Philip (diperankan Sam Claflin) mendadak ‘agresif’ ingin ini-itu, banyak sekali.

Tak berhenti sampai di situ. Dengan sisa bekal napas, saya akan menghabiskan waktu bersama Syrena. Kalau pun napas saya habis, saya akan lahir kembali. Di kehidupan kedua, saya akan abadi bersama Syrena bermandikan cahaya cinta.

Duh, saya kok malah kebaperan dengan sosok Syrena. Uft! Fokus! Fokus! Oke… Kembali lagi pada soal pencarian jawaban atas pertanyaan di awal.

Setelah membayangkan jawabannya ada di dasar laut, saya juga membayangkan bahwa jawabannya ada di ujung langit. Saya sempat berpikir, apakah tidak butuh mursyid juga? Menurut saya, sepertinya saya tertap butuh. Lha wong, sejak masih orok kita dihadapkan pertanyaan serupa. Bermula pada sebuah mimpi di kehidupan yang kedua yang akan menjadi lebih indah. Di sana, ada cahaya cinta yang perlahan menyilaukan itulah mimpi di kehidupan kedua.

Yang menjadi pertanyaan kemudian, siapa yang dapat melaksanakannya? Sekarang kita berusaha mewujudkannya. Siapa yang dapat melaksanakan dan mewujudkan mimpi tersebut? Kedua pertanyaan ini, setidaknya hampir sama dengan pertanyaan yang saya sampaikan di awal. Ternyata sama-sama mencari jawabannya di ujung langit.

Tapi ada bedanya. Bedanya, untuk mencari jawaban siapa yang dapat melaksanakan dan mewujudkan mimpi tersebut, ada anjuran kita ke sana dengan seorang anak yang tangkas dan juga pemberani. Tak ada yang dapat melaksanakan dan mewujudkan mimpi tersebut, selain anak tangkas itu. Tugas yang berat dilaksanakan. Dia berjuang agar menjadi lebih baik. Siapa yang dapat melaksanakannya dan berusaha mewujudkannya selain dia? Semua itu demi hidup yang baik. Ya… hanya dia yang mampu melaksanakannya.

Sebentar, sepertinya beberapa paragraf diatas mirip soundtrack dari salah satu film kartun yang sudah dilarang ditayangkan di televisi oleh Komisi Penyiaran Indonesia. Oke, lupakan!

Saya jadi pesimis disandingkan dengan anak itu. Saya mah, apa atuh? Hanya seorang mahasiswa yang bela-belain tidak lulus tepat waktu, gara-garanya hanya terus-menerus mencari jawaban atas alasan mahasiswa memilih menjadi seorang aktifis. Saya tak mempunyai kekuatan untuk mencari jawaban yang saya bayangkan ada di ujung langit itu.

Tapi, saya punya cara lain untuk mencari jawaban itu. Konteksnya pun berbeda dengan apa yang saya bayangkan. Meski demikian, perumpamaannya tak jauh beda. Misalnya, jawaban yang ada di ujung langit itu, saya umpamakan ada di kantor akademik. Sang mursyid dan anak yang tangkas itu saya umpamakan sebagai dosen atau kakak-kakak senior. Namun, pada akhirnya sekembali dari langit, istilah lain kantor akademik saya menjadi lebih baik.

Ceritanya bermula saat saya menemui Pembantu Ketua III (PK III) Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Jember sekitar tiga tahun silam. Seiring dengan beralihnya STAIN Jember menjadi Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember, PK III istilah jabatannya makin terhormat menjadi Wakil Rektor III (Warek III) Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama.

Waktu itu, saya menemuinya di kantornya untuk mengajukan dana penerbitan majalah sekitar Rp 25 juta untuk kepentingan organisasi saya. Dana itu rencananya akan saya gunakan untuk mencetak majalah sekitar 1.500 eksemplar dan disebarkan kepada mahasiswa baru secara gratis, selebihnya disebarkan ke Lembaga Pers Mahasiswa yang lain di seluruh perguruan tinggi di Indonesia.

Namun, saya tak mendapatkan dana sebesar itu. Saya hanya diberi Rp 10 juta. Pak Warek III berpesan agar dana ini digunakan menerbitkan seadanya, tidak perlu disebarkan ke seluruh mahasiswa, cukup beberapa organisasi saja. Dia sempat berseloroh begini: “Jangankan memberikan dana Rp 25 juta, mengajukan dana Rp 250 juta buat *#HDB*bdw8# (sengaja disensor karena Pak Warek III menyebutkan salah satu organisasi kemahasiswaan) ke pusat saja diterimanya cuma Rp 125 juta.”

Selanjutnya, dia juga memberi alasan kenapa hanya dapat memberi dana Rp 10. Dia beralasan, takut didemo oleh organisasi yang lain. “Kalau saya ngasih kamu sepuluh juta, mau kamu didemo sama organisasi yang lain?” lanjutnya.

Saya tak menyangka bakal mendapat perkataan seperti itu. Bisa dibayangkan, gimana perasaan saya waktu itu. Sakit… sakitnya tuh di sini… di pantat… Transparansi anggaran ditiadakan. Keadilan ditumbangkan. Keprofesionalitasan dikesampingkan. Kami dianaktirikan!

Saya menyadari, waktu itu saya masih baru bermanuver dari mahasiswa menjadi mahasiswa-aktifis. Diancam dengan demo-demo begitu, ya jelas saya keder. Bulu kuduk saya merinding. Saya sempat memikirkan yang tidak-tidak. Sesuatu yang tidak diinginkan bakal terjadi.

Akhirnya, saya memilih mengalah, menerima pemberian Sang Warek dengan legawa. Barangkali dia terbahak-bahak melihat saya seperti seekor kerbau yang ditusuk hidungnya. Ancaman demo yang saya pahami sebagai bentukan adu domba atau pesanan membuat saya tidak berontak. Waktu itu, saya akui dia berhasil membungkam saya.

Setelah kejadian itu, kurang lebih tiga tahun lamanya saya menyendiri. Menyendiri tidak sekadar berdiam diri di rumah, kost atau kontrakan teman, sekretariat organisasi atau di masjid, melainkan di mana-mana sambil menghimpun ‘gerakan bawah tanah’. Sejak itulah saya bertekad untuk mengkritik kebijakan kampus yang tidak berpihak kepada mahasiswa.

Yang ada di pikiran saya, revolusi harus terus digaungkan, meski tidak sebanter Revolusi 1998. Pokoknya, Revolusi Sampai Mati! Apakah dengan semangat ini, saya telah menemukan jawaban atas pertanyaan yang saya sampaikan di awal? Seorang mahasiswa memilih menjadi seorang aktifis karena semangat revolusinya yang mengebu-gebu. Setidaknya, begitu…