BAGIKAN

Selalu. Rabu selepas Maghrib, pentas monolog tak luput digelar. Pentas berdurasi seratus menit dimulai pukul 18.30-20.10 di ruang 6 Fakultas Sastra Universitas Jember. PERI MUNGIL. Judul Pentas monolog kali ini.

Sayangnya saya hadir terlambat, saya masuk ruang pentas dan duduk di kursi penonton pukul 18.45. kursi sudah penuh! Menakjubkan!

Aktor perempuan yang menjadi idaman, berdandan lebih cantik dari pentas-pentas sebelumnya. Sepasang pelupuk mata yang teduh mustahil dilupakan. Rambutnya tersisir rapi, basah dan lembut. Sangat tampak lebih muda! Pakaiannya cerah, seperti tak ada yang lebih cerah dari kecerahan yang dimunculkan dari apapun. Bibirnya lembut, sedikit kuyup dan menggairahkan bila ia bercakap-cakap, sesekali dengan desahan tipisnya, ia menyanyi. Ia benar-benar menjadi Peri Mungil.

Barangkali saya tak perlu memberi tahu siapa nama asli aktor yang menampilkan monolog Peri Mungil ini. Bukankah dalam pentas teater itu adalah panggung yang nyata? Hidup inilah yang bukan nyata. Hidup inilah yang sandiwara. Ia adalah Peri Mungil. Titik. Nama asli, nanti saja. Tak perlu!

Peri mungil bercerita tentang masa silam, tampak hanyut dalam kenangannya. Ia adalah salah satu orang yang paling penting. Hanya sedikit orang yang bisa seperti dia: mencintai dan mendalami naskah-naskah kuno, bahasa kuno, peninggalan sejarah dan semacamnya. Fanatik dengan masa silamnya. Tokoh semacamnya hanya hitungan jari satu tangan. Mungkin ia seperti Inggit1). Perempuan yang perlu diletakkan di daftar ingatan. Mungkin.

Suatu ketika di pentas lain: ia berperan sebagai aktor yang angkuh, maunya sendiri. Kebetulan saya juga aktor. Saya memerankan laki-laki ingusan, takut darah, takut berbicara dan selalu menunduk.

Penggalan dialog waktu itu seperti ini:

“Maaf, Bu. Waktu saya crash. Boleh saya ijin? Soalnya ini ‘kan maunya Ibu diganti hari ini. Sedangkan waktu yang sama, saya sudah ada jadwal”

“Tidak. Enak saja. Ya terserah kamu. Kamu mau pilih saya atau dia. Saya toh terserah”

Saya menunduk. Saya menunduk. Saya berperan sebagai laki-laki penakut. Dengan darah saja saya takut.

Di pentas lain, saya menjadi figuran. Ia menjadi aktor yang maunya sendiri (lagi).

“Maaf, Bu. Ini kelas saya. Mengapa Ibu tempati? Mahasiswa saya sudah menunggu. Mohon Ibu pindah, mencari kelas lain.” Ujar salah seorang aktor.

“Enak saja. Saya ini sudah pindah-pindah. Dari tadi saya nyari ruangan. Yang pengertian dong.” Jawabnya

Lalu, datanglah aktor laki-laki berperan sebagai pelayan.

“Bu, ini waktunya kelas X. Ibu harus pindah. Sebenarnya Ibu nggak ada kelas hari ini, Ibu hanya mengganti ‘kan?”

Di babak yang lain, ia menggerutu.

“Enak sekali, dari tadi saya berjuang nyari kok disuruh pindah. Gitu aja melapor ke pelayan. Duuhhhhh….. madul2)

Saya menjadi teringat dengan beberapa pentasnya. Saya akui saya memang pengagumnya. Ia selalu berhasil memerankan tokoh perempuan yang unik, maunya sendiri, keras dan hidup serasa ada di tangannya. Bahasa daerah saya: sekarepe dewe!

Saya kembali memperhatikan ia berperan malam ini. Peri mungil. Ia selalu menjadikan penonton juga ikut bermain. Ia piawai sekali. Kali ini ia berjalan-jalan mengelilingi penonton sambil membawa lembaran kuno bergambar relief. Entah apa. Sambil tersenyum manis, manis sekali! seperti tak ada yang lebih manis.

Lalu, ia menyanyi, hal yang tidak akan pernah lupa dalam pementasannya. Ciri khas keaktorannya.

saiki jamane jaman edan, yen ora edan ora keduman. Sak bejo-bejone wong kang edan. Isih bejo wong kang eling lan waspodo3).

Lalu, ia menjelaskan makna nyanyiannya. Dengan sangat piawai. Ia juga berhasil membuat penonton tergidik. Berhasil membuat penonton terpengaruh. Itu terbukti ketika ia berujar dengan sangat mengena, sambil menulis di papan tulis ia bermonolog:

“Morfologi, huruf-huruf, kalimat nggak penting dibahas. Apa itu linguistik? Apalagi kalau skripsi yang dibahas hanya Siti Nurbaya, dikit-dikit Siti Nurbaya. Novel. Aduuuuuuh. Kalau mau jadi mahasiswa cerdas, yang dibahas itu ya mbok naskah kuno, peninggalan sejarah, kitab-kitab kuno. Itu baru mahasiswa cerdas.”

Penonton, termasuk saya yang semuanya mahasiswa Sastra Indonesia, seperti disulap dengan kepiawaiannya untuk tidak mengaji huruf-huruf, bunyi huruf, kalimat (linguistik) dan tidak mengaji pula novel, karya modern (sastra modern). Aktor yang sangat hebat!

Kalau saya boleh mengutip Ayu Utami pada bukunya Estetika Banal & Spiritualisme Kritis4) : dongeng-dongeng yang ganjil. Jika kita membaca dengan modern, kita akan menemukan Tuhan yang Absurd, pencemburu dan penuh rasa tidak aman. Tapi, aneh sekali, Tuhan macam apa itu? Disambung dengan gagasan seorang kawan bahwa Ayu  ingin merubah pemikiran bahwa Tuhan itu perempuan. Dan yang jelas: tidak berlaku untuk aktor ini, kan?

Ah, aktor ini memang membuat saya terpikat. Karena sangat terpikatnya, saya sampai ingin membencinya. Ingin! Anda penasaran siapa Ia di dunia kita? Di dunia  yang sebenarnya teater ini? Lebih sandiwara dari panggung teater. Saya harap Anda tidak penasaran. Ia hanya Asri Sundari.

 

  • Namanya Inggit Ganarsih. Perempuan hebat di belakang Soekarno. Ia adalah istri kedua Soekarno.
  • madul adalah melaporkan.
  • Syair yang pernah ditulis pujangga di jaman keratin. Syair Ronggowarsito. Artinya: Sekarang masanya kegilaan, Kalau nggak gila nggak dapat bagian, Walaupun kelihatan beruntung orang yang gila itu, Masih lebih beruntung orang yang ingat dan waspada.

Buku Estetika Banal dan Spiritualisme Kritis yang ditulis oleh Erik Prasetya dan Ayu Utami. Dialog fotografi dan sastra.