BAGIKAN

Saya, Penulis [14] berasal dari Sumatera Selatan. Secara geografis desa tempat tinggal saya jauh dari laut dan kota besar. Jika berbicara habitat ikan, lebih kepada jenis-jenis ikan rawa seperti gabus, sepat siam, sepat, betok, sluang, lais, belut, dan masih banyak yang lain. Selain namanya yang banyak, perbedaan penyebutan nama ikan malah menjadi beban dalam kamus (menghafal nama ikan tidak menjamin itu berguna). Misal ada satu ikan dengan tiga nama, yaitu gabus, kutuk, dan ruan. Mungkin di daerah lain ada tambahan nama lagi untuk jenis ikan ini. Tapi cuy, yang lebih penting dari memancing bukan mengetahui nama ikan itu, tetapi mendapatkannya dan tahu ikan itu enak dimakan.

Selain rawa, lingkungan tempat tinggal saya dikelilingi oleh perkebunan sawit dan karet. Kalau dipikir-pikir, maraknya perkebunan sawit dan karet membuat spot memancing jadi semakin jauh dari pemukiman. Sebab, rawa-rawa di dekat pemukiman dikeringkan untuk dialihfungsikan menjadi perkebunan ‘produktif’. Apa-apaan ini? Mentang-mentang mereka menganggap memancing adalah hal non-produktif, lantas mendiskreditkan kegiatan para pemancing. “Gak iso wes, gak trimo aku!”

Musuh para pemancing di rawa bukan hanya ular, nyamuk, lintah atau biawak, tapi juga perusahaan perkebunan. Saya menahan diri untuk tidak datang ke kantor PT Perkebunan Nusantara VII atau PT Hindoli lantas mengumpat, menghardik, mengeluarkan caci maki amoral sampai abnormal pada pihak perkebunan: sebagai bentuk solidaritas mewakili perasaan para pemancing. Banyak teman-teman saya yang hobi memancing, tetapi dia juga bekerja di perkebunan itu. Ini membuat saya tambah bingung: mereka yang ingin saya bela ternyata bagian dari musuh saya. Jadi ada baiknya berhenti di sini saja khusus untuk masalah yang satu ini.

Universe pemancingan amat rumit bagi saya. Meskipun saya hidup di daerah yang dianugerahi begitu banyak spot memancing, tetapi skill saya itu-itu saja (tidak mengalami peningkatan malah cenderung menurun). Jika tidak diajak teman, ya kemungkinan kecil, bahkan tidak mungkin saya berangkat. Hal seperti ini disebut teman saya sebagai ‘hasrat memancing yang rendah’.

Pengalaman memancing saya yang teramat sangat sedikit sekali itu, tidak sekalipun mengurangi kesukaan saya pada dunia pancing-memancing. Terlebih saat mendengarkan para pemancing bercerita tentang dunia memancing dan hiruk-pikuk di dalamnya. Bagi saya itu suatu keasyikan tersendiri.

Proyek penelitian ini bersifat subjektif. Jika pembaca tidak percaya mengenai empirisme tulisan ini, silakan buktikan sendiri. Penelitian saya fokuskan pada dua hal: skill dan keberuntungan.

Suatu sore (karena bercerita bisa diawali dengan menyebutkan waktu) beberapa orang teman merencanakan memancing ke sebuah tempat, yang konon banyak sekali ikan-ikan berukuran besar. Tempat itu jauh dari pemukiman, jarang terjamah oleh para pemancing. Aksesnya ekstrim. Mohon dipahami lagi ya, para pembaca, daerah ini bukan semacam genangan air yang besar melainkan sebuah rawa. Manusia harus waspada terhadap serangan makhluk alam liar seperti lintah, ular, biawak, buaya, binatang rawa purba, dedemit, bahkan orang-orang perkebunan. Pernah ada kabar pemancing yang hilang dimakan buaya. Kemungkinan buruk semacam ini harus diantisipasi dengan merencakan perbekalan dan persiapan matang. Minimal kalau tak mendapatkan ikan, setidaknya pulang nyawa masih menempel di badan.

Teman-teman saya berangkat menggunakan Jeep pengangkut sawit untuk melewati jalanan terjal dan berlumpur di kala hujan mengguyur. Kendaraan ini muat mengangkut 3-4 orang. Butuh waktu setidaknya satu hari satu malam untuk memancing. Akan terasa nanggung jika hanya sebentar memancing di tempat semacam ini.

Jumlah peralatan memancing seperti kail, senar, dan joran harus lebih banyak dari biasanya. Kata teman saya “semakin banyak perlengkapan, semakin banyak kemungkinan hasil ikan yang dibawa pulang.” Logis juga sih. Apa bukti kesuksesan memancing jika bukan jumlah ikan melimpah yang di bawa ke rumah?

Perbekalan kurang sedikit tidak apa-apa, asal tidak melupakan alat masak. Toh jikalau mendapat ikan bisa langsung dimasak. Bukankah enak memasak ikan segar, lalu memakannya di alam terbuka seraya melihat langit ditaburi bintang dan angin malam berhembus menyentuh telinga? Indie banget tauk, njing!

Walaupun tidak terlibat secara langsung sebagai pelaku, tetapi saya melibatkan diri sebagai pendengar yang amat sangat baik. Anda jangan tidak percaya lho ya. Kalau tidak percaya, saya siap membuktikannya. Datangkan kepada saya pemacing seprofesional apapun, sehebat apapun dia, sebanyak apapun pengalamannya, akan saya dengarkan secara seksama saat dia bercerita. Camkan itu, njing!!!

Saya lebih baik kembali bercerita saja, karena kalau nafsu ini dituruti saya bisa saja mengajak baku hantam pembaca. Teman saya yang lain punya cerita yang berbeda dengan cerita sebelumnya. Ia tidak bergantung pada skill.

Hal ini bermula saat teman saya dan beberapa temannya mendapatkan pekerjaan terbas atau mbabat , atau dalam bahasa awam pembaca di sini, bisa dimaknai: membuka lahan baru untuk perkebunan di wilayah yang masih belukar. Di tempat terbas itu ada belik (aliran air di tengah lahan) yang digunakan mandi oleh teman saya. Dengan campur tangan keberuntungan, dia menemukan ikan yang sangat banyak. Keesokan harinya ia dan temannya membawa peralatan memancing ala kadarnya. Hanya berupa senar dan kail. Jorannya pun cuma menggunakan ranting pepohonan yang berserakan. Tiap menceburkan umpan, ikan-ikan langsung menyambarnya. Sesekali teman saya mencoba menceburkan kail tanpa umpan cacing, menggantinya dengan dedaunan, dan anehnya ikan-ikan di situ masih menyambarnya dengan ganas. Hmmm. Betapa beruntungnya teman saya menemukan habitat ikan-ikan tolol.

Teman saya berasumsi bahwa otak ikan di tempat itu belum berevolusi sehingga tidak paham bahwa ada sebuah makhluk terkutuk bernama manusia—pemakan segala. Beda dengan ikan-ikan di spot yang sering dijamah manusia. Mereka seperti memiliki kecerdasan untuk menipu balik para pemancing. Teman saya sering dibuat frustasi oleh golongan ikan-ikan cerdas semacam ini. Dia bahkan sempat berfikir bahwa ikan-ikan ini memiliki lembaga kursus, bahkan agen rahasia yang senantiasa mengintai perkembangan ilmu pengetahuan manusia.

Peristiwa-peristiwa tersebut membuat saya menarik beberapa benang merah. Berdasarkan penelitian tersebut, gambaran tentang dunia memancing ikan selalu diisi oleh dialektika antara skill dan keberuntungan. Dua hal itu seperti medan magnet yang saling berseberangan, namun juga berfungsi untuk saling melengkapi. Skill tanpa keberuntungan hanyalah utopis. Keberuntungan tanpa skill, sama halnya memaksa orang yang baru kita kenal untuk mencintai kita dan bahkan mengajak menikah —menihilkan usaha.

Sebenarnya ada 14 penulis dalam proyek ini. Saya harus tetap mempertahankan status Penulis [14] sesuai kesepakatan, tolong dimaklumi, dan jangan protes. Namun, masih ada hal yang mengganjal di hati dan benak saya sebagai Penulis [14]. Saya heran kenapa saya mau menulis semua ini? Sedangkan yang mengajak saya adalah Penulis [7] dan dia menghilang begitu saja saat saya hampir menyelesaikan tulisan ini.

Para pembaca harap maklum, penelitian ini sebenarnya memiliki kesinambungan dari Penulis [1] sampai Penulis [14]. Menghilangnya Penulis [2] sampai Penulis [13], membuat hasil penelitian saya berjarak jauh dengan Penulis [1]. Sebenarnya saya curiga dengan Penulis [1] yang sok modern itu. Sebab saya terakhir kali melihat Penulis [7] ngopi bersama dia. Dalam proses penelitian ini, ada beberapa konflik yang sempat terjadi antara Penulis [7] dengan Penulis [11]. Kecurigaan saya adalah bahwa Penulis [1] memanfaatkan konflik itu untuk menghilangkan mereka berdua, dengan begitu dia akan lebih leluasa memonopoli proyek tulisan ini. Satu kata yang musti saya ucapkan untuk Penulis [1]: KIMAK!