BAGIKAN

Tulisan ini merupakan proyek yang dikerjakan oleh 14 penulis. Masing-masing penulis punya tematik tersendiri tentang ‘memancing ikan’. Penelitian ini kami awali dengan bertanya ke beberapa orang secara random mengenai “apa itu memancing ikan?”

Setiap orang yang kami tanyai memiliki penjelasan yang bervariatif. Variasi-variasi tersebut yang semakin mengafirmasi hipotesa kami sebelumnya bahwa ‘memancing ikan’ menyimpan sebuah diskursus pengetahuan tertentu seperti budaya, adat, mitos, modernisme, dan bahkan sesuatu di luar jangkauan ilmu pengetahuan. Berangkat dari hipotesa tersebut kami berusaha mengembangkan banyak ide dan tematik tentang memancing ikan.

“Sesuatu yang cukup langka di tengah peradaban modern ini adalah ‘waktu luang’, institusi pendidikan adalah salah satu pilar utama modernisme. Maka, tidak bisa dipungkiri jika kehidupan mahasiswa di lingkungan kampus akan banyak mengalami dialektika dengan sistem waktu yang ketat (kuliah, tugas, praktikum, dan beberapa ‘retorika’ lain). Kemungkinan besar terindikasi krisis ‘waktu luang’ di sana. Tapi itu yang terjadi secara umum, pada kenyataannya juga banyak mereka-mereka—aku juga—yang tidak terlalu risau dengan sistem waktu ketat yang diberikan kampus. Mereka-mereka itu biasanya aktif di ekstrakulikuler, komunitas, solo, atau bahkan tak teridefinisi. Bagiku mereka ini luar biasa. Harapan bangsa. Bukan kaleng-kaleng. Mereka mampu keluar dari kekangan sistem yang sudah mapan,” ujar Pepe San Ge.

Saya di sini sebagai Penulis [1]. Sebetulnya saya sama sekali tidak setuju dengan omong kosong di atas. Tapi berhubung memancing ikan juga butuh ‘waktu luang’ dan kebetulan dia adalah teman saya, maka dengan berat hati saya menggunakan omongan orang mabuk di atas sebagai intro segmen ini. Terlepas entah sama apa tidak definisi ‘waktu luang’ yang dimaksud Pepe dengan penelitian saya. Bodo amat!

Saya berasal dari Bojonegoro, sebentuk kota agraris yang kini mulai berhamburan investor mengeksploitasi minyak bumi. Entah berhubungan atau tidak, sejak saat itu, Bojonegoro menjadi kota yang panas. Mudah-mudahan tak ada. Udara yang panas itu kadang membuat saya malas untuk berangkat mancing. Kecuali jika ada temannya.
Spot mancing liar di sana adalah spot-spot ikan air tawar seperti bengawan, sungai, kalen, waduk, dan semacamnya. Spot-spot tersebut memiliki rank sesuai habitat dan jenis ikan. Entah siapa yang membuat kualifikasi tersebut, nyatanya itu terjadi: pemancing yang mendapat ikan patin di bengawan akan dianggap lebih ‘hebat’ dari pemancing yang mendapat ikan gabus di kalenan, meski si ikan gabus ukurannya lebih besar.

Setelah saya merenungkan banyak hal dan ingatan, saya menemukan kesimpulan—yang bersifat mungkin, bahwa prespektif rank tersebut muncul ketika orang-orang di sini, termasuk saya, mengenal istilah baru yang ditempelkan pada kegiatan memancing: sport. Sebab dulu, seingat saya, mancing ya mancing, cari ikan, lalu dimakan. Opo seh kok ngomong spart-sport?

Televisilah yang memberitahu pertama kali bahwa memancing adalah sport. Semua jenis sport di televisi cenderung mengarah pada praktik-praktik seperti olimpiade, lomba, dan prestis. Sesuatu yang hanya punya satu tujuan: piala. Gambaran itulah yang melahirkan prototipe juara-pecundang, kalah-menang, sebuah prespektif yang mengandaikan sport sebagai struktur hierarki, bukan lagi (meng)olahraga. Saya baru sadar sekarang kalau sport sama sekali berbeda dengan olahraga. Saya terkecoh. Diamput!

Tapi sebetulnya bukan masalah rank yang ingin saya bahas. Itu terlalu rumit. Terlalu “intelektuil” bagi saya. Yang ingin saya bahas sebetulnya adalah perbandingan antara kebiasaan memancing orang daratan tengah (ODT), dengan orang pesisir. Kebiasaan tersebut bersifat kecenderungan atau kalau bahasa kerennya kuantitatif.

Para ODT memiliki kebiasaan memancing yang “menetap”. Ketika kami memancing di suatu tempat kami akan selalu memancing di situ-situ saja, tak beranjak ke mana-mana sampai dapat ikan. Pernah saya mancing di waduk dan sudah merasa frustasi karena tak kunjung mendapat ikan. Kemudian saya mengajak teman saya pindah ke tempat lain, tetapi beliau malah berkata “Iwak iku nglangi, Le” artinya “Ikan itu berenang, Nak”. Maksudnya, kemanapun kamu pindah belum tentu tempat baru itu ada ikannya. Bisa saja ketika kamu pindah ikannnya juga sedang dalam perjalanan menuju tempatmu yang sebelumnya. Rumit dan penuh resiko. Akhirnya—karena saya bukan tipe orang yang suka ruwet, saya harus menahan rasa frustasi sambil tetap bertahan. Setelah berjam-jam tak menghasilkan apapun: umpan tetap utuh dan tak tersentuh oleh ikan.

Ketika saya kuliah di Jember, saya ditakdirkan bertemu dengan seorang teman berinisial IRAL, yang kebetulan juga suka memancing. Di Jember, spot memancing yang asing di mata saya sebagai ODT yaitu laut. Sebelumnya, bagi saya laut lebih bermakna sebagai ‘tempat rekreasi’.

Suatu hari saya memancing ikan di laut bersama IRAL. Ia sering sekali mengajak berpindah tempat. Bahkan, belum sampai satu jam ia sudah mengajak pindah ke sini lah, ke situlah. Membuat saya gusar. Mengingkari prinsip saya bahwa “Iwak iku nglangi”. Keteguhan saya sebagai pemancing mengalami cobaan. Tapi saya sadar, bahwa saya masih noob ketika memancing di laut, jadi saya manut saja dengan IRAL.
Singkat cerita, saya sudah sering mancing bersama IRAL di laut dan sudah bisa sedikit toleran dengan kebiasaan memancing yang “berpindah-pindah” itu. Nah, pada kesempatan lain saya memancing di laut bersama IRAL dan teman-temannya, momen intuitif saya sebagai pemancing keluar. Insting saya mengatakan “jangan berpindah, di sini ada ikan besar”. Tapi sekitar tiga detik kemudian, IRAL dan teman-temannya mengajak pindah, tentu hal itu membuat saya kesal dan dengan spontan berkata “Ikan itu berenang, Mas.”

Tidak sampai dua detik seseorang —entah siapa saya lupa namanya, menimpali “Iya berenang, tapi laut itu luas, Mas!” Perkataan orang tak dikenal itu sontak membuka cakrawala pemikiran saya “Iya juga ya?” Dari situ saya mendapat ilmu baru.

Prinsip-prinsip memancing saya sebagai ODT tidak berlaku di laut. Bahkan intuisi saya yang selama ini —menurut saya sendiri, cukup akurat harus saya tanggalkan. Saya kemudian meminta maaf pada diri saya sendiri karena merasa sok tau. Padahal saya sendiri baru mengenal laut. Ada beberapa hal yang musti saya koreksi dalam diri. Tapi anehnya entah mengapa, meskipun setelah semua itu, saya tetap merasa gusar ketika IRAL mengajak berpindah-pindah tempat memancing.

Pengalaman itu kemudian menjadi sebuah renungan bagi saya. Apa yang membuat kebiasaan memancing ikan ODT dan orang pesisir berbeda? Apakah ada hubungannya dengan televisi? Budaya? Atau lingkungan? Saya kemudian mencoba menerka-nerka apa sebabnya. Kurang lebih begini hasilnya: mata pencaharian. Wilayah ODT dibangun dari siklus agrarian yang membuat cara pandang ODT terhadap ikan sebagai sumber pangan alternatif saja. Ikan di mata ODT tak sepenting di mata orang pesisir yang menjadikan ikan sebagai sumber mata pencaharian utama. Itulah yang mungkin menyababkan kebiasaan memancing “berpindah”. Artinya, kemanapun ikan berenang, ia harus dikejar, karena ikan itulah sumber pangan utama.

Berlebihan nggak sih? Terserahlah. Toh jika pembaca merasa analisa saya berlebihan dan ingin protes, itu artinya kalian tak tau diri. Masak sudah dikasih lebih masih mau protes? Harus sadar dirilah, ya? Tolong. Jika pembaca malah merasa bingung, saya sarankan untuk lanjut membaca hasil penelitian dari Penulis (14) saja. Dia orang yang cukup udik, mungkin kalian bisa lebih akrab dengan bahasa primitif yang dia gunakan.

Terlepas dari itu semua, televisi kah, patin kah, wader kah, darat kah, laut kah, luar angkasa kah; seberapa kayanya dirimu, sekuat apa tubuhmu, secantik siapa pacarmu, kau tidak akan pernah bisa memancing ikan kalau tak punya ‘waktu luang’. Haha. Dari sini, akhirnya saya sedikit setuju dengan pernyataan Pepe San Ge, meskipun wajahnya berminyak.