BAGIKAN

Sesungguhnya, saya agak kecewa mendapatkan balasan tulisan dari mamas yang katanya adalah salah satu wartawan senior di salah satu koran fenomenal di Jawa Timur. Karena mamas adalah wartawan, tentu saya berharap ada analisa yang lebih keji lagi dan terang-terangan. Agar di balik kesinisan saya ini, saya bisa lebih belajar dan sadar diri, bahwa apa yang saya tuliskan tidak sepenuhnya benar. Atau bisa juga sepenuhnya salah. Tapi, ya sudah lah. Saya mendapatkan balasan surat yang bahkan (sejujurnya) saya tidak tahu apa maksudnya.

Rasanya semacam: Udah lama LDR-an, sekali-kali dikirimi surat cinta, isinya “Kita Putus Aja”. Itu kayak kelakuan Rangga saat mengirimi surat terakhir untuk Cinta.  Saya yang berasa dikirimi surat cinta, tentu bengong dan bingung. Walau tidak resah dan gelisah hingga beratus-ratus purnama. Namun kemudian saya jadi belajar, bagaimanapun harapan tidak boleh lebih besar ketimbang kemungkinan. Karena kenyataan lebih sering di luar ekspektasi. Begitu kan? Lalu, saya terima dan saya paksakan untuk menikmati. Sekuat-kuatnya memahami mas.

Satu-satunya alasan saya mengirimi mamas Dian sepucuk surat merah jam(b)u ini adalah, karena saya lagi nggak ada kerjaan. Ya anggap saja, saya lagi guyon. Sama seperti ketika saya menuliskan balasan saya kepada dik yang harusnya memang tidak lagi saya bahas, tapi dengan terpaksa harus kembali saya sebut Nurul.

Sungguh, saya guyon. Itu loh saya tulis waktu lagi terbaring lemah tak berdaya. Hitung-hitung menghibur diri, karena tidak lagi bisa ngopi. Dan sepertinya, dik Nurul siap sekali jadi tumbalnya. Mungkin dia hanya lupa memperhitungkan, sejauh mana tulisannya bisa mempengaruhi khalayak jika ditinjau dari eksistensinya di Kampus. Sehingga, saat dik Nurul memberanikan diri mengirimkannya ke situs paling hits ini, tentu hasilnya jauh sekali dari prediksi. Lawong untuk ngomongin gerakan akar rumput saja, dia mesti banding-bandingin kelakuan dan nyinyirin mbak-mbak, dedek-dedek gemes yang jumlahnya lebih banyak ketimbang aktivis kampus kok. Terus efeknya apa? Setelah satu minggu berlalu, sudah berapa orang yang ia sadarkan lewat ‘konteks pop’ yang mamas Dian maksud?

Mamas Dian, dik Nurul loh sedang nyinyirin mbak-mbak dan dedek-dedek gemes. Terus mamas nuduh dik Nurul juga adalah salah satu dedek gemes yang tulisannya bisa langsung membuat kakak-kakak aktivis benar-benar langsung jatuh hati?

Sebenarnya kita ini lagi bahas dedek gemes yang mana sih? Apa dik Nurul lagi ngomongin dirinya sendiri? Tu kan, dik Nurul lagi yang kena.

Soal penggunaan kata ‘wanita’ ndak perlu lagi saya bahas ya, lawong mamas Dian sudah detil banget. Sampe saya bingung mamas Dian sebenarnya sedang mempertanyakan yang mana? Lawong itu di jawab sendiri dan dijelasin sendiri. Tapi paling tidak, kalimat saya yang secuil itu, bisa membantu mamas Dian untuk mencari tahu lebih banyak soal Orba dan GERWANI, kan? Berarti kalimat yang secuil itu, cukup dimengerti untuk sebuah tulisan. Mamas Dian sangat memahami apa yang saya maksud. Terimakasih ya.

Oh iya, soal kata Orba yang adalah produk Orba tentu saya setuju. Dulu Orba melahirkan kata “Orba” untuk menunjukkan betapa hebatnya mereka. Sekarang, kita menggunakan kata Orba untuk menunjukkan betapa bajingannya mereka. Begitu, kan? Harusnya memang begitu. Semacam pemanfaatan peluang sebagai perlawanan. Tapi jika itu kita berlakukan sama pada kata wanita, tentu ia jadi berbeda mamas. Malah bisa jadi, sebaliknya.

Bagaimana mungkin, dik Nurul yang merupakan salah satu aktivis pers kampus dan juga perempuan tidak mengerti menggunakannya. Kalau mamas membanding-bandingkannya dengan GERWANI, coba cek lagi. Sangat tidak relevan jika kata wanita kita gunakan dalam konteks gerakan perempuan hari ini, apa lagi ini menyangkut sejumlah perlawanan perempuan yang disebut-sebut dik Nurul. Dan sangat tidak adil, jika kita deretkan dengan mbak-mbak dan dedek-dedek gemes yang sedang kita recoki. Mamas Dian loh sudah menjawabnya dengan “Kata wanita menjadi hegemoni dari pemerintahan Orba, agar para wanita itu selalu nurut”.

Bagi saya, GERWANI menggunakan kata wanita, sebagai bentuk perlawanan dan politis juga loh mas. Makanya GERWANI diberangus. Karena ternyata mereka bukan ‘wanita’ seperti yang diharapkan Orba. Mereka ndak penurut, ndak manut. Mereka MELAWAN, mas. Dengan gerakan yang sudah mamas Dian sampaikan itu. Sebelumnya, jangan lupa bahwa pada bulan Desember 1928, dilaksanakan Kongres Perempuan Indonesia I, bukan kongres wanita indonesia I. Namun, gerakan perempuan yang ikut menyumbangkan pemikiran, waktu dan tenaganya merebut kemerdekaan itu, digiring Orba masuk kandang. Masuk kamar, agar tidak berisik merecoki rezim. Kemudian oleh Orba, kita dipaksa merayakan dengan rutin sebagai hari ibu dan memeriahkannya dengan lomba memasak, lomba merias, lomba bersih-bersih dan urusan-urusan domestik lainnya. Konyolnya, itu masih terjadi hingga hari ini. Kemudian kampus sebagai ruang pembebasan pengetahuan turut merayakan dengan cara demikian loh mas.

Apakah aktivis pers kampus juga ikut merayakan? Dasyat sekali kan. Ah, sudahlah. Seharusnya, saya ndak perlu panjang lebar membahas ini. Saya capek cari refrensi, mamas dan dik Nurul bingung sendiri. Walau sebenarnya saya tahu, bahwa kalian jauh lebih mengerti.

Kepada dik Nurul yang adalah aktivis pers kampus dan mamas Dian yang katanya adalah wartawan dan juga mantan aktivis pers kampus:

Apakah sebenarnya kita yang terlalu naif untuk men-judge orang-orang di luar sana, katakanlah mbak-mbak dan dedek-dedek gemes itu, sebagai orang yang tidak mengerti apa-apa soal aktivitas kemanusiaan yang sering kita diskusikan di warung kopi? Apakah sebenarnya, kita yang terlalu asyik ngobrol sesama aktivis, yang nggak mau tahu apa sebenarnya yang mereka kerjakan? Apakah sebenarnya, kita yang terlalu sempit menerjemahkan kata perlawanan, hanya dalam bentuk diskusi, berdebat, membaca buku-buku kiri, nongkrong di sekretariat dan warung kopi, ikut ya, pers mahasiswa.

Karena sejatinya menulis adalah bentuk perlawanan. Tapi apakah hanya sebatas itu? Atau jangan-jangan kita yang terlalu tidak peduli dan tidak mau tahu, apa sebenarnya yang dilakukan mbak-mbak dan dedek-dedek gemes itu setelah keluar dari kelas perkuliahan, karena sudah under estimate duluan. Apakah perlawanan terhadap negara yang semrawut ini, harus diseragamkan juga?

Bukankah akhir dari pluralisme sebenarnya adalah penerimaan kita terhadap apapun yang orang lain pilih sebagai bentuk perlawanan.

Mengapa kita jadi seegois ini. Padahal seharusnya kita mesti bersatu untuk mencapai kemerdekaan yang hakiki. Melawan rezim tidak bisa hanya sekelompok orang saja. Coba hitung, berapa banyak aktivis kampus yang seideologi dengan ‘kita’? Persentasenya tentu jauh dari yang diharapkan. Jika hari ini, aktivis mahasiswa masih saja egois menerjemahkan perlawanannya, jangan berharap banyak pada mereka. Toh, yang sudah-sudah juga seperti itu.

Atas nama kemanusiaan, kita nyinyirin manusia yang tidak ‘seideologi’ dengan kita. Atas nama hak kita rebut hak orang lain. Lalu atas nama ‘nama baik’, kita rusak nama baik kita sendiri dengan sangat brutal merusak aset negara. Atas nama wanita-wanita yang menggugat, kita gugat wanita-wanita lain dan konyolnya, kita golongkan ke dalam golongan mbak-mbak dan dedek-dedek gemes itu.

Lalu, kita jadi lupa siapa kawan, siapa lawan. Karena terlalu asyik menuduh. Terlalu asyik men-judge. Terlalu sinis melihat aktivitas orang lain. Terlalu sibuk membanggakan diri dan organisasi dengan prestasi yang diraih senior-senior pendahulu. Lalu membiarkan diri kita sendiri terjebak dalam romantisme sejarah perlawanan yang dilakukan mereka. Sampai lupa, kalau sebenarnya kita toh juga belum melakukan apa-apa.

Lalu, yang paling fatal adalah, kita terlalu seru berdiskusi, hingga lupa ini sudah semester berapa? Uang kuliah loh mesti di bayar pakek duit. Gak bisa pakek debat.

Akhir dari tulisan ini, inget loh ya saya cuma becanda.