BAGIKAN

Memilih kampus ibarat memilih pasangan. Bagaimana tidak, nyatanya, kita diliputi kebingunan saat mentukan pilihan. Entah menuruti kemauan sendiri atau anjuran orang lain, terutama orangtua. Unjung-ujungnya kita terjebak dalam dua pilihan. Dilema.

Satu kampus tertentu telah ditentukan menjadi pilihan untuk melajutkan pendidikan, misalnya. Pertimbangan demi pertimbangan dalam memilih kampus pun mulai mengiang-ngiang dalam benak. Biasanya tak luput dari pembahasan seputar pamornya menjadi kampus favorit, tingkat kualitasnya tidak terbelakang, atau lulusan yang dihasilkan siap bersaing dengan kampus lain.

Selain itu, kampus tidak memiliki catatan hitam. Dalam artian tidak memiliki permasalahan dengan pemerintah. Seperti kasus akhir-akhir ini yang menimpa beberapa kampus, yakni pembuatan ijazah palsu. Hanya karena masalah ini, kampus yang semula menjadi primadona berubah menjadi fatamorgana.

Tidak berhenti sampai di situ, setelah satu kampus berhasil dipilih, kita akan mencari kampus lain sebagai pilihan kedua dan seterusnya. Alih-alih sebagai persiapan ketika nantinya tidak diterima di kampus pilihan pertama. Nah, di sinilah kita mulai membanding-bandingkan kelebihan dan kekurangan antara kampus yang satu dengan kampus yang lain.

Kalau cara memilihnya seperti itu, maka tak jauh berbeda dengan memilih pasangan. Semisal hati kita sudah menjatuhkan pilihan terhadap seorang gadis. Kriterianya pun saklek, amat sesuai dengan tipe kita. Cantik, bohai, montok, putih dan mulus. Ketika berpapasan dengan wanita lain yang kriterianya lebih sempurna dari gadis tadi, selera kita masih saja dibuat ngiler. Bisa dibayangkan kan ketika bertemu dengan dedek-dedek gemes?

Kita tak henti-henti membanding-bandingkan. Cara banding-membandingkannya pun beragam. Tapi yang pasti tidak lepas dari 3B, yakni bibit, bebet, dan bobot. Sekufu dan tidak sekufu, seagama dan tidak seagama, sealiran dan tidak sealiran, atau seideologi dan tidak seideologi pun menjadi sebuah pertimbangan.

Sungguh, rumit, ya, memilih pasangan? Ya, memang rumit: serumit memilih kampus. Tapi seberapa rumitnya, kita paling tidak harus menentukan sikap. Sikap sebagai seorang ksatria, yakni komitmen.

Namun, sebelum berkomitmen, seyogyanya diawali dengan niat. Karena, niat merupakan satu-satunya penentu sikap dalam etos kerja. Ia turut andil menjadi penentu berhasil-tidaknya suatu pekerjaan. Bukankah kita sering mendengar sebuah petuah: sesungguhnya setiap pekerjaan disertai dengan niat? Maka dari itu, yuk tata niat sebelum memilih kampus, tentunya dalam memilih pasangan juga.[]