BAGIKAN

Mendengar ceramah dari Al-mukarrom Ustadz Bintang di Musholla Al-SiksaKampus beberapa hari lalu tentang tingkah laku dosennya yang ‘gak nggenah’, membuat saya semakin sadar. Bahwa, menjadi mahasiswa sama saja mewakafkan diri sebagai objek percobaan penelitian sains. Seperti tikus yang harus rela menjadi bulan-bulanan peneliti. Gegara struktur gen-nya mirip dengan manusia. Astaghfirullah!

Lha wong gimana lagi, dosen-dosen Al-mukarrom Ustadz Bintang aja seenaknya sendiri mengganti dan menentukan jadwal kuliah. Belum lagi naskah prosposal skripsi kawan-kawan Ustadz Bintang dicorat-coret sak enak’e dewe. Padahal kan Ustadz Bintang lagi sibuk-sibuknya membela hak-hak rakjat kecil yang dtindas. Kok ya semena-mena menghalangi tujuan yang haqiqi itu.

Belum lagi kalau si dosen sedang sibuk-sibuknya memperkaya diri menyelesaikan program pengabdian masyarakat, mau gak mau ya mahasiswa lah yang harus mengalah. Kuliah pengganti dilakukan untuk menutup pertemuan yang gagal digelar. Apalagi kuliahnya pada hari sabtu-minggu kek di Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Jember. Hadueh!

Soal kehadiran yang dipermasalahkan Al-mukarrom Ustadz Bintang juga bukan omongan yang ngawur. Tak jarang saya juga mengalami kejadian seperti itu di kampus. Untuk itulah pepatah “Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya” tampaknya pas untuk kasus ini. Jangan harap mahasiswa memiliki kompetensi yang baik, kalau dosennya aja sering telat, bolos, dan ‘titip absen’.

Namun sebagai jamaah Nahdiyin, saya kurang sepakat dengan gaya ceramah yang dilakukan Al-mukarrom Ustadz Bintang. Modelnya kek habib dari ormas efpeih aja. Berapi-api. Padahal kalau dirangkai dengan bahasa yang halus, kan enak toh. Apalagi ini Bulan Ramdhan, bulan penuh rahmat dan ampunan. Semua manusia gak luput dari salah kan Tadz? hehe~

Karena saya masih merasa diperlakukan tidak mahasiswa-i oleh para dosen, maka untuk itu saya lantas menghadiri kultum Gus Syarif dari IAIN Jember. Apalagi, tema yang diangkat Gus Syarif sangat cocok dengan permasalahan yang saya alami saat ini. Yak benar, Krispi! Eh, maksud saya skripsi.

Dengan bahasa yang santun, namun menusuk djiwa, Gus Syarif menerangkan tuntutan lulus cepat dari para dosen tanpa memperhatikan kualitas naskah skripsi, adalah sebwa kebobrokan intelektual. Menurut Gus Syarif, logisnya seperti ini, “Mahasiswa Jurusan Hukum Islam akan teriak kencang ‘Bela Ulama’ di sosial media, tapi kelabakan saat mengurusi proses perceraian tetangga di Pengadilan Agama”. Gile lu Ndro!

Hal itu pula yang terjadi di kampus saya. Dimana semua teman saya berbondong-bondong untuk segera menyelesaikan proposal skripsinya pada Matakuliah Kepenulisan Ilmiah (MKI). Dahulu sebelum negara api menyerang, matakuliah ini hanya dijadikan pembelajaran mahasiswa untuk mengerjakan naskah skripsi. Namun, tidak menutup kemungkinan, apabila naskah itu layak dipresentasikan pada seminar proposal (sempro), mahasiswa berhak mengambil satu step menuju gerbang wisuda.

Kelas yang dulu ramai dengan mahasiswa, kini mulai sepi. Teman-teman saya tampak lebih memilih mengerjakan proposal skripsi masing-masing. Mungkin ini hanya penilaian sepihak dari saya. Karena pada dasarnya, saya-lah yang jarang nongol di kelas. Wakwaw!

Yang paling membuat jengkel –sedikit legowo, banyak gak terimo– ketika melihat salah satu kontjo kentel saya di-ACC proposalnya hanya dalam satu kali revisi. Mengerjakannya hanya dalam waktu seminggu. Lebih parahnya lagi, mengerjakan skripsi tidak ada bedanya dengan membuat laporan praktikum. Ngeri bukan?

Gak ngeri gimana cobak. Dengan bersungguh-sungguh teman saya ini lebih memilih menyendiri di kosnya mengerjakan skripsi. Ketika saya ajak ngopi ke angkringan. Saat saya mecoba melihat hasil pekerjaannya –keesokan harinya– ada yang mengganjal dalam hati saya. Tulisan proposalnya banyak yang copy-paste dari jurnal-jurnal penelitian. Dan yang lebih sensasional, proposal itu di-ACC untuk maju ke sempro. Ngehek!

Ketika teman-teman saya sedang sibuk mengurusi ruang sempro, saya hanya bisa bersembunyi di balik tembok sekret. Berharap tidak ada yang menanyakan nasib naskah proposal skripsi saya. Mengenaskan sekali! Yang lebih ngenes ketika Si Cinta -satu fakultas namun beda jurusan– mengata-ngatai saya, “Koncomu lho podo ngerjakno proposal pek, wes sempro. Kamu kapan? Katanya mau ngehalalin aku secepatnya?” Hmm talah!

Saat sempro pun teman-teman saya tak ubahnya seperti menjadi seorang komika di acara Stand Up Comedy. Lucu! Sempro yang biasanya dikondisikan sebagai acara sakral dengan syarat keformalitasannya, tak ada bedanya dengan presentasi tugas makalah. Dosen-dosen saya pun sebenarnya sadar akan keadaan ini. Tapi ya mau gimana lagi. “Ini kan cuma formalitas MKI”. Kntl!

Tapi dalam kasus ini saya  tidak akan menyalahkan teman-teman saya yang berlari untuk segera menyelesaikan skripsi. Hal yang paling disayangkan ketika keputusan si dosen untuk menandatangani proposal tanpa memikirkan kualitas dari naskah yang disodorkan. Hanya dengan dalil, “Ini latihan, pasti ada perbaikan”. Dan yang paling memuakkan, ketika si mahasiswa tidak sempro pada MKI, alamat dapat nilai C! Ih Ngeri bener dah yak!

Barangkali, ini memang sudah nasib menjadi mahasiswa. Harapan untuk menjadi “abdi masyarakat” sesuai dengan tujuan Tri Dharma Perguruan Tinggi seakan hanya menjadi angan-angan. Dan harapan untuk membuat taraf hidup masyarakat Indonesia lebih maju bakal jadi mimpi di siang bolong. Ingin menjadi intelektual yang berbakti kepada bangsa dan negara, eh malah jadi budak pendidikan. Utopis!

Jadi, selama ngopi masih belum difatwa haram. Terima saja-lah nasib ini Tadz, Gus. Wehehehe…..