BAGIKAN

Suatu sore yang random, saya bertandang ke warung kopi. Niat hati menggarap tugas kuliah. Kopi ada di meja, wifi lancar. Buka leptop dan siap mengetik.

Sekonyong-konyong, orang di meja lain berteriak dengan penuh semangat.

First blood, Cuk!”

Suara perempuan dari gawainya tak kalah nyaring, “You have slain an enemy!

Dancok! Asu! Asu! Asu!” kawan semejanya membalas teriakan dengan berbagai sumpah serapah.

Mereka berbicara tanpa saling tatap mata. Jarak mereka tak sampai satu meter satu sama lain. Namun teriakan mereka mampu menandingi suara musik dari TOA masjid milik pedagang gethuk keliling yang fenomenal di Jember.

Meja yang saya perhatikan itu, tak lebih dari himpunan teriakan. Saya pecah fokus. Sulit konsentrasi karena berisik. Tak bawa earphone pula. Tanpa pikir panjang, begitu kopi habis, saya segera pergi dari tempat bising itu.

Suatu sore yang lain, saya pergi ke warung kopi berbeda. Kini dengan niat mengobrol atau sekedar bersenda gurau dengan kawan sejawat. Namun, suara perempuan itu terdengar lagi. “Welcome to Mobile Legend!” Niat mengobrol gagal. Semua main Mobile Legend. Lalu teriak-teriak macam bekantan rebutan pohon mangrove.

Saya benci sekali kalau sudah begitu. Kejadian mirip ini tak hanya dua tiga kali terjadi. Di setiap warung kopi, selalu ada kelompok bekantan itu. Entah bagaimana, Mobile Legend menjadi racun yang berkembang biak secara masif dan terorganisir. Ia menggerogoti paket data. Menyita tiap detik yang kita punya. Mendistraksi banyak pembicaraan. Menghambat orang lain mengerjakan tugas kuliah. Membuat kita lulus lebih lama. Terlebih, menjauhkan kamu dari saya.

Bila hal ini terus kita biarkan, tak ada lagi ruang-ruang dialogis yang terjalin. Tak ada lagi proses dialektik. Bayangkan, Marx ndepis di kamar mandi sambil menangis tersedu melihat kelakuan kita. Ini semua karena Mobile Legend.

Ketika tak sempat bicara tatap muka. Ujung-ujungnya kita mengobrol via chat media sosial. Rapat via chat. Konsolidasi via chat. Pacaran via chat. Lama-lama kenthu juga bisa via chat. Padahal komunikasi macam begini rentan bias. Apalagi untuk orang seperti saya, yang terlanjur dicap ‘galak’ oleh beberapa orang. Kirim pesan kalau tak pakai emot senyum, dikira marah. Tanya baik-baik kalau tak pakai emot joget, dikira nyuruh-nyuruh. Sapa teman kalau tak pakai emot monyet, dikira ajak kelahi. Sekalinya saya kasih emot cium, dibilang ganjen.

Parah lagi kalau chat kita tidak dapat balasan. Padahal doi sedang online dan pesan sudah terbaca. Tetapi tetap tak digubris. Padahal chat itu cukup penting. Awas saja kalau ternyata tidak balas chat karena main Mobile Legend. Saya kasih emot tai.

Kini komentar tanpa nama kian marak. Kemarin, timeline saya penuh dengan promosi akun secreto.site. Saya lihat, ini menambah panjang budaya nyinyir kita. Di mana kita bisa berkomentar, tanpa dibebani tanggung jawab pada setiap kata yang kita utarakan. Gak beda jauh dengan menyindir orang di Twitter tapi tak berani mention. Atau bilang kangen mantan di Twitter padahal doi gak punya akun Twitter. Sebenarnya, ini pola komunikasi kita, atau saya yang salah pergaulan?

Melalui tulisan ini, saya ingin menghimpun solidaritas. Mari gaungkan gerakan uninstall Mobile Legend. Taruh handphone. Tatap mata saya. Lalu kita bicara.