BAGIKAN

Dulu sewaktu baru jadi mahasiswa, adikku yang masih bayi itu belum juga bisa jalan dan bicara. Tahun depan dia sudah jadi siswa sekolah dasar dengan seragam putih merah. Jadi ndak usah repot-repot nebak angkatan akademikku tahun berapa. Bahkan sekarang, KKN pun masih juga sejauh jodoh, sedangkan teman-teman seangkatanku sudah sibuk unggah gambar senyam-senyum simpul di linimasa karena dapat gelar sarjana. Jadi sekali lagi, ndak usah coba-coba nebak angkatan akademikku tahun berapa.

Bukan apa-apa, kok saya ndak tega saja kalau senyum bahagia kawan-kawan saya kelak harus sirna. Dihapus pahitnya kenyataan tirani pasar. Karena jangankan menghadapi kenyataan tirani pasar. Membaca pidato mbak Dewi Setya di situs tetangga saja, sudah lebih dari penuh untuk membuat saya bergidik ngeri membayangkan pahitnya melepas seluruh hak istimewa tentang menjadi mahasiswa (itu loh, soal jurnal gratis, seminar murah, dan semua yang serba murah buat paket mahasiswa).

Melepas status mahasiswa cepat-cepat itu rasanya kayak melepas orang yang bukan kekasih tapi kamu cintai dan cuma pengen sahabatan. Kira-kira serupa makanan favorit di depan meja yang gagal kamu santap, karena pantangan hipertensi atau diabetes. nyambung nda yah?

Jangankan tirani, adu mulut dengan penguji di sidang skripsi saja kok yah kelihatannya sudah lebih seram dari film yang mengundang Valaq Quinn The KokPucing sebagai guest star (itu, yang acara setan masak-masak bukan?), kadang-kadang kakak-kakak aktipis pun bisa ciut. Ini tirani loh, mahkluk kasat nan laten yang lebih seram dari momen kekasih minta putus.

Bila memang Rumah sakit Jiwa adalah tempat yang baik untuk menampung orang-orang kota yang susah bahagia. Yah, kampus memang tempat paling mutakhir melindungi generasi muda kekinian dari kenyataan. Supaya mereka tetap percaya kalau Negara itu serupa dosen pembimbing yang tidak pernah ingkar janji soal waktu ketemuan. Dan korporasi dari yang trans hingga multinasional adalah malaikat tanpa sayap yang dikirim Tuhan ke dunia untuk membasmi alien jahat bernama kemiskinan (itu malaikat apa Ultraman yah?).

Sayangnya saya bukan kawan-kawan saya yang demikan beruntung itu. Saya adalah spesies mahasiswa dari genus paling pesimis. Yang kadang sok tegar nan bisa menghadapi kenyataan, lalu mengecek data rilisan BPS soal jumlah pengangguran yang sarjana. Hanya demi memastikan bahwa pilihan tinggal di kampus selarut mungkin adalah pilihan yang senyata-nyatanya paling aman, hanya demi pembenaran kalau-kalau kelak didaulat sebagai kampiun mahasiswa tersepuh. Atau kadang bila iseng, saya akan mengecek sudah koefisenkah upah minimum dengan indeks kemahalan wilayah dan komponen hidup layak (KHL)?. Baru belakangan saya sadari, kalau saya penuh dengan perhitungan untuk ukuran mahasiswa yang nyaris tidak pernah absen mengulang mata kuliah statistik di tiap semesternya.

Yah, ndak perlu tahu kesimpulan seperti apa yang saya dapatkan dari keisengan saya yang kadang kumat. Silahkan cari tahu sendiri, karena saya tak ingin gelisah sendirian. Yang paling dekat barangkali adalah penghakiman penguji di sidang skripsi, saya prediksi bahkan belum sebagian dari penghakiman yang bakal diterima setelah sarjana.

Karena dalam penggambaran yang ditampakkan industri televisi, Koran-koran, dunia maya, kok dunia kerja kayak dunia pasar, semua soal permintaan-penawaran, semua soal jualan. Kalau yang sedang laku kentut, jual kentut. Setinggi apapun pendidikanmu kalau nda bisa kentut, jangan harap laris di tirani pasar. Masalah lainnya adalah kamu hidup di tengah masyarakat yang akan selalu punya waktu luang untuk menyinyiri kehidupan orang, kira-kira seperti saya sekarang.

Bila kamu sarjana psikologi, tapi mentok bekerja jadi petani karena mendaku ingin jadi diri sendiri, atau alasan ideologis karena semakin kurang generasi masa kini yang bercita-cita jadi petani. Siap-siaplah jadi bahan gunjingan dalam obrolan arisan, pengajian, hingga kumpul kerabat. Kamu pikir desakan dari kampung untuk lekas sarjana dan pulang hanya dari orang tua? Tanpa keterlibatan kerabat atau tetangga? Ketahuilah konspirasi macam ini adalah jenis paling lumrah, untuk memaksa pulang para generasi muda yang terlalu betah mengabdi di kampung orang.
Kok yah memikirkan semua ini, malah membuat saya jadi kangen mengulang mata kuliah statistik dasar. Tentu saja untuk alasan pendalaman, bukan alasan tinggal di kampus berlama-lama.