BAGIKAN

“Apakah anda ikut memperingati hari buruh sedunia atau may day?” Saya jawab, iya. Tahun ini menjadi kali pertama saya benar-benar memaknai hari sakral bagi para pekerja tersebut. Pasalnya, saya sudah hampir setahun lulus dan memasuki dunia lain yang diberi nama dunia kerja. Saya berasumsi bahwa dunia kerja itu sebuah tantangan yang menyenangkan. Bulan pertama saya lalui dengan gembira di tempat kerja, bulan ke dua aman, bulan ketiga masih semangat, bulan keempat mulai berpikir kok gini ya? Mulai bulan ke lima sampai sekarang, acara ‘sambat’ seperti drama sinetron yang tak kunjung tamat. Hiks

Bagi saya tak ada hal yang lebih menyakinkan sebelum mengalaminya sendiri. Begitu juga susahnya menjadi seorang pekerja. Saya kembali teringat ucapan salah satu senior di Unit Kegiatan Kampus (UKM) yang dulu pernah saya ikuti semasa kuliah. Kurang lebih dia berkata seperti ini “Mending kamu ditempa di sini (UKM), dunia luar lebih kejam!”. Saat itu saya pikir dia sedang membual, wong dia mengatakan itu dengan wajah angkuhnya gitu, ya mana saya dengarkan ucapannya. Tapi sekarang, saya merasakan sendiri. Ibarat posisi, pekerja itu ada di tengah. Dari atas mendapatkan tekanan dari atasan, dari bawah dapat desakan dari para konsumen. Sesak nggak tuh?.

Nah, karena saya sudah merasakan sendiri bagaimana rasanya menjadi seorang pekerja, saya tidak ingin dong momen may day ini terlewati begitu saja. Pagi ini saya berada di depan gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jember. Untuk demo kah? Bukanlah. Saya sadar diri, dengan postur tubuh yang mungil, kalau ikut demo malah dikira anak kecil atau lebih parahnya kena injek. Hehe. Libertarian Art Space mengadakan aksi seni untuk solidaritas hari buruh sedunia. Saya bantu-bantu dikitlah buat jaga stan food not bombs  yang mereka adakan. Selama menjaga stan ini, saya sempat berbincang-bincang dengan para pengunjung stan yang sedang menikmati makanan gratis.

Sudah nonton Dilan 1991? Saya sempat berbincang dengan supir angkotnya, tapi bercanda hehe. Namanya Suyitno, seorang bapak supir angkot yang sudah berumur 59 tahun. Dia menjadi supir angkot sudah sejak tahun 1997. Selama 22 tahun, dia bekerja mulai pagi hingga malam dan tak mengenal hari libur. Selama itu pula dia tidak merasakan kehidupan yang sejahtera.

Gimana bisa sejahtera, penghasilannya tiap hari tak tentu, tapi uang setoran sewa angkot harus tetap ada,” ucapnya sambil menyendok nasi pecelnya.

Beberapa menit setelah bapak supir angkot itu pergi, datang seorang ibu dengan jalan kaki. Ibu itu memandang stan kami dengan penasaran. Salah seorang teman langsung menawari untuk mampir dan mengambil makanan yang ada. Ibu itu dengan ragu mendekat dan bertanya apakah makanan ini benar-benar gratis. Kami meyakinkan kalau dia bisa makan dengan gratis. Meski dengan gugup, ibu itu mengambil nasi dan lauk pauk.

Namanya Arsiah, perempuan berusia 60 tahun. Arsiah tidak bekerja karena ia harus merawat anaknya yang memiliki penyakit ayan, sehingga tidak bisa ditinggal sendiri. Suaminya sudah meninggal, sehingga tulang punggung keluarga ada apa anak perempuannya yang berusia 30 tahun. Anak perempuannya bekerja di sebuah toko. Dia menceritakan anaknya yang harus bekerja setiap hari, bahkan saat tanggal merah sekalipun. Jam kerjanya mulai dari pukul 06.00 sampai sore. Jika lembur, bisa sampai pukul 21.00. Meski demikian, kebutuhan keluarganya belum terpenuhi. Arsiah dan anak perempuannya harus mencari pekerjaan sampingan lainnya untuk menutup kebutuhan sehari-hari.

Arsiah berlalu, datanglah Sucipto. Namanya tampak lelaki, tapi dia seorang perempuan. Dia menjual sayur di depan gedung Pegadaian yang tak jauh dari gedung DPRD Jember. Para mahasiswa pemburu sayur sepertinya kenal dengan sosoknya. Jualan saat hari masih pagi dan akan pulang sampai dagangannya habis. Bagi Sucipto, berjualan juga bukan hal mudah terutama saat harga kebutuhan pokok naik menjelang ramadhan. Hal ini mempengaruhi penghasilannya yang digunakan untuk kehidupan sehari-hari.

“Mau ngeluh ya sama siapa, gini terus hidupnya,” ucapnya lirih.

Matahari semakin terik, peluh mulai bercucuran. Para pengisi acara aksi masih bergelora memberikan penampilan terbaiknya. Tak sedikit pula para pengendara yang lewat, menolehkan kepalanya penasaran ke arah berlangsungnya aksi seni. Bahwa para buruh atau pekerja harus mendapatkan kesejahteraan dalam hidup mereka menjadi fokus dalam aksi seni.

Di tempat berbeda, terjadi kekerasan oleh Polisi terhadap dua pekerja media di peringatan May Day Bandung. Meski rezim begitu represi, teruslah semangat para pekerja untuk melawan!