BAGIKAN

Babun Suharto sosok yan g pintar untuk menggandeng media sebagai corong pengeras suaranya. Dia telah berhasil menggandeng media lokal macam “Je-Er-Je” sebagai media Humasy dari Stain Jember yang kebetulan beberapa Minggu lalu berubah menjadi IAIN Jember. Tak hanya satu kali muncul di koran. Berulang kali kabar tentang kegiatan mahasiswa, sekadar berita perubahan status, program-program yang akan bergulir mengalir deras lewat media lokal ini. Pantas saja dia mendapat julukan orang yang piawai dalam hal lobi-lobi kebijakan dengan siapapun tak terkecuali tukang becak.

Ini berawal beberapa tahun lalu. Banyak kisah yang saya dapatkan dari berbagai macam profesi: dosen, karyawan, OB, pedagang, kumpulan tukang becak, guru sekolah, mahasiswa biasa, mahasiswa luar biasa —yang terbiasa bermain politik di dalam kampus. Mereka kagum dengan tingkah laku seorang Babun yang waktu itu hanya orang biasa. Perjalanan hidupnya menurut kebanyakan orang tidak semulus sekarang yang cukup membubuhkan tanda tangan sebagai rektor IAIN Jember.

Kepintaran itu ia dapat dari menyadari pola hubungan timbal balik yang menguntungkan. Dia mengatakan bahwa kesuksesannya karena banyak kali melakukan silaturahim ke beberapa rumah temannya. Dari situ dia mendapat pelajaran, semakin dia rajin bermain ke rumah-rumah temannya. maka keuntungan dia dapat dengan jumlah yang cukup besar.

Menurut saya. Babun adalah sosok yang pandai dalam memahami kondisi. Dia mampu menafsirkan zaman yang menuntut kemajemukan dalam suatu kelas sosial. Kelas yang menuntut sama antara tukang becak dengan seorang profesor. Antara penjual aneka macam makanan yang disajikan dengan digoreng dengan chef terkenal. Antara kriminal yang dilakukan oleh masyarakat biasa dengan luar biasa; berduit, berpangkat; berbuntut kekuasaan.

Saya khusnudzon bahwa Babun hafal apa yang diungkapkan Stuart Ewen, seorang kritikus budaya Inggris. Dia mengungkapkan bahwa di dalam masyarakat konsumer-posmodern, ada tiga arena di mana gaya berperan: Pertama, gaya sebagai wahana bagi pendefinisian diri; kedua, gaya merupakan wahana pula untuk memahami masyarakat; ketiga, gaya sebagai satu elemen pembentuk kesadaran yang total dan dahsyat tentang dunia[i].

Ada beberapa yang akan saya cantumkan beberapa contoh betapa Babun adalah sosok yang sangat pandai dan layak mendapat penghargaan. Pada arena pertama, misalnya. Dia mampu membaptiskan diri melalui media lokal sekaligus humasnya. Dalam sebuah berita harian muncul gambar Babun dengan judul berita, “Menag RI Lantik Prof Babun”, dan “Prof Babun Resmi Rektor IAIN Jember”. Dia muncul di media lokal dengan pangsa pasarnya semua kalangan. Tak terkecuali tukang becak dan penjual gorengan tersebut. Sangat pintar dan sadar bukan? Dia adalah seorang Profesor, Rektor IAIN Jember. Sungguh tokoh yang dielu-elukan oleh banyak orang dalam dunia yang penuh sandiwara ini (menurut Nike Ardila dalam lagunya Panggung Sandiwara).

Lebih konyol dan gila saat media lokal itu memuat berita dengan judul, “Liburan, Mahasiswa IAIN Nyantri”, “Ma nfaatkan Media Jaring Mahasiswa”, “Ribuan Siswa Kunjungi Stan IAIN Jember”. Dari judul itu mana yang mempunyai nilai pendidikan? Nilai edukasi apakah yang dapat dipetik dari berita tentang IAIN Jember itu. Selain hanya sebuah kegairahan ladang citra kekuatan supernya IAIN Jember?

Mungkin kita dapat renungkan kembali. Betapa kerja sama antara media lokal dengan pihak IAIN Jember hanya sebuah usaha untuk menarik kita kedalam dunianya yang paling tinggi di status sosial? Kita tidak pernah benar-benar disuguhkan kenyataan mahasiswa yang mengisi liburannya dengan kegiatan nyantri. Melainkan hanya mencoba menguatkan satu citra dalam satu berita ke berita lainnya. Antara nyantri dengan ribuan siswa yang mengunjungi stan IAIN Jember. Bukankah itu hanya motif yang sama untuk memosisikan IAIN Jember ke tempat tertinggi?

Sudah saatnya kita tidak percaya dengan Humasy kampus dalam hal memberikan kita kesadaran. Jika kita ingin terlena dalam arena kenyamanan tanpa kegelisahan. Maka media humasy kampus adalah pilihannya. Juga waktu kita sebagai generasi bangsa untuk memilah dan memilih pemberitaan dari media umum. Karena tidak kesemuannya bertujuan untuk mengentaskan kita dari zaman jahiliyah menuju zaman yang terang benderang.

[i] Yasraf Amir Piliang, Hipersemiotika: Tafsir Cultural Studies atas Matinya Makna, Jalasutra, Bandung, 2003

BAGIKAN
Artikel sebelumyaDoraemon
Artikel berikutnyaPeri Mungil
Terkucilkan akan memantu menemukan jati diri yang masih belum kentara. Dan itu sebuah pilihan saya