BAGIKAN

Semula ide poliamor ini membuatku agak sinting. Sebagai lazimnya pasangan monogami, aku, atas restu dari norma yang berlaku di masyarakat tentu mempunyai kekuasaan untuk memperingatkan kekasihku agar ia tidak memeluk, mengelus-elus, mengusap-usap, atau mencium perempuan lain.

Lha kok mencium, mung weruh deknen wasap-wasapan dengan mantannya saja rasanya ya tuhan, clekit-clekit. Padahal bisa saja wasap itu tidak lebih dari sekedar haha-hehe biasa.

Semua yang aku sebutkan di atas adalah batasan-batasan dalam hubungan monogami yang bisa jadi, sangat abu-abu. Norma yang berlaku di masyarakat kadung menjelaskan bahwa kesetiaan adalah hal mutlak yang diagungkan dalam sebuah hubungan. Laki-laki yang kepergok selingkuh dicap sebagai bajingan, asu, tai kuda, lemah lempung. Sementara perempuan yang kedapatan selingkuh dilabeli pelacur, perek, lonte, kotor. Padahal, my love, sejauh mana sih perilaku di luar hubunganmu dengan pasanganmu, bisa disebut sebagai perselingkuhan?

Kau tahu, my love, perilaku cinta-cintaan yang direstui oleh masyarakat kapitalis neoliberal tembelek ini telah mendorong seseorang berubah menjadi monster yang syeram. Bukankah menyeramkan jika pesan-pesan yang masuk ke dalam telepon pintarmu dicek? Atau hubunganmu dengan mantan kekasihmu dipantau secara berkala? Belum lagi kalau dia melarang kamu untuk berteman dengan si ini atau dengan si itu. Ini masih belum cukup menyeramkan sampai akhirnya terjadi adu mulut (mmm heh bukan french kiss) yang menyebabkan perang dunia. Masih mending sih kalau adu mulut, lha lek adu caption nang instagram?

Lagi-lagi, semua usaha di atas dilakukan hanya untuk memastikan bahwa kamu tidak akan jatuh cinta dengan orang lain.

Aku, seperti yang sudah aku sampaikan di awal tulisan, barangkali bisa memperingatkan kekasihku agar tidak tidur dengan gadis lain. Tapi jika ternyata diam-diam dia menyimpan sebuntel rasa sayang pada perempuan lain, aku bisa apa?

Kisah cinta yang pelique ini, my love, ditambah dengan puisi-puisi Aan Mansyur telah membantuku membuat caption yang baik, bahwa: kau tidak bisa melarang seseorang untuk jatuh cinta dengan orang lain, bahkan sekalipun orang itu adalah kekasihmu sendiri.

Lalu apa hubungan semua omong kosong remeh temeh itu dengan judul tulisan ini, Mbak?

Kiranya ini bisa jadi pemanasan, sampai di sini dulu pembahasan poliamor part 1. Kalau kepanjangan, aktivis kekiri-kirian idealis macam kak M. Syariffudin bisa muntah-muntah. Kan kasihan :(.

My love, kamu sehat-sehat terus ya. Sampai jumpa di Menjadi Mahasiswa Poliamor Part 2.