BAGIKAN

Kuliah sebenarnya adalah salah satu hal yang mendukung kepribadian saya. Hanya saja, perspektif kuliah saya tentu berbeda dengan masyarakat pada umumnya. Bagi saya, persoalan kuliah adalah bagaimana mampu mendapatkan pengetahuan baru, dan setelahnya diaplikasikan sebagaimana Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Bagi saya dan beberapa rekan sejenis, kuliah di kelas adalah hal yang membosankan. Untuk hal ini, banyak hal yang mendukung kebosanan kami (saya dan rekan sejenis). Sebagai contoh, dosen yang mengajar sering terlambat (meski kami juga sering), tak masuk tanpa kabar (membuat mahasiswa membuang-buang waktu saja), dosen kolot yang tak mau didebat (ingat, dosen bukan dewa, dan mahasiswa bukan kerbau), serta bermacam alasan yang membuat saya tak terangsang untuk berada di kelas, kecuali cewek yang biasa duduk di depan kelas.

Tidak hanya itu, persoalan waktu dan kegiatan lain pun menjadi hambatan terbentuknya hubungan yang harmonis antara kami dan kelas. Misal, pada saat perkuliahan di pagi hari telah berlangsung, banyak mahasiswa diantara kami masih terlelap. Sedang, saat kuliah tengah hari dimulai, banyak teman-teman yang mengajak hadir pada diskusi ataupun turun ke jalan menuntut perubahan.

Pada urusan ini, kami lebih senang meninggalkan kuliah ketimbang meninggakan aksi. Tak ada yang bisa menghentikan tekad bulat untuk ikut aksi turun jalan, walaupun itu pacar sekalipun. Lagipula, bukankah banyak juga dosen yang memilih pekerjaan sampingannya ketimbang mengajar mahasiswa di kelas. Jadi bukankah apa yang kami lakukan merupakan bagian dari perlawanan terhadap kesewenang-wenangan dosen?

Meski begitu, kami sadar, jika segala alasan kami diatas akan runtuh tatkala orang tua menanyakan, “nak, kapan kamu lulus?”. Ketika pertanyaan itu mulai dilancarkan secara terstruktur, sistematis, dan massif, maka tak ayal kami pun harus melengganggkan kaki menuju kelas, mengikuti perkuliahan kembali.

Perjalanan baru dalam hidup kami pun dimulai. Kembali mengikuti perkuliahan bersama beberapa bocah bandel dan dedek-dedek unyu di semester satu menjadi permasalahan sendiri bagi kami.

Ingat, bagi kami perkuliahan di kelas tidaklah merangsang. Lihat saja bagaimana para bocah tengik (baca: mahasiswa baru) dengan sok bertutur intelek di kelas hingga membuat waktu perkuliahan melewati batasnya. Belum lagi para dedek-dedek unyu yang sepanjang kelas berkicau tentang fesyen dan artis-artis korea. Benar-benar hal yang mengganggu.

Belum lagi kebiasaan kalong yang telah kami jalani bertahun-tahun membuat keterlambatan menjadi hambatan datang ke kelas. Sialnya, ketika kami berapologia dengan menyalahkan matahari yang selalu gagal membangunkan kami, dosen malah meminta kami keluar kelas.

Untungnya, wajah orang tua selalu mengangkat moral kami dalam melanjutkan perjuangan ini. Demi wisuda, kami berani menelan caci-maki dosen dan kebisingan adik kelas. Dan semua itu terbantu pula dengan kehadiran buku-buku yang menemani saat kebosanan menghampiri. Terima kasih kalian para penulis yang bukunya layak untuk dibaca.

Menghentikan kontak dengan beberapa teman yang akan segera lulus juga menjadi langkah untuk melanjutkan kuliah. Karena, mendengar kabar teman yang akan lulus adalah kesedihan sendiri yang bisa membuat mood ke kampus hilang.

Jika kalian, sebagai teman, mau memberi kami semangat, lakukanlah dengan mentraktir kami barang secangkir kopi yang enak. Itu saja sudah cukup, tak perlu berbagai macam ocehan motivasi, cukup secangkir kopi.