BAGIKAN

Untuk kawanku persmawati progressif, Ruhaeni Intan

Pertama-tama saya ingin sampaikan, bahwa Kak Intan, persmawati yang cantik ini betul-betul membawa atmosfer baru dalam kancah dunia perpersmaan yang selama ini didominasi bujang-bujang lapuk. Model-model seperti kak Syarip, kak Toyyib, Kak Somad, dan dedengkot-dedengkot lain. Mereka itu sudah waktunya undur diri sambil mulai cari cara bawa pulang gelar sarjana. Khususon untuk kak Kholid, karena banyak fansnya, maka ia boleh dipertahankan.

Karena kerennya Kak Intan yang progressif ini, yang sanggup membawa angin segar bagi kawan-kawan persma, saya sering iseng liat-liat profil medsosnya sambil berdecak menyebut-nyebut keagungan sang maha pencipta. Tentu saja tulisan-tulisan Kak Intan juga tak luput dari upaya kepo saya. Namanya juga persma, maka harus dilihat tulisannya. Dan, Subhanallah.. Subhanallah ya rabb..

Sampai kemarin ketika kak Syarip membagikan tautan tulisan Kak Intan di Siksakampus.com, tangan saya sampai bergetar ketika hendak membuka tautan tersebut. Bagaimana tidak, judulnya saja Jika Saya Menolak Berdemo. Wadaw, keras sekali. Sampai ketika laman tersebut terbuka, saya mendapatkan prolog legowo di tulisan Kak Intan, siap dikritik sepedas apapun.

Maka dengan demikian, saya memutuskan untuk membalas tulisan Kak Intan. Pertama karena saya ingin say hi sama Kak Intan lewat tulisan, saya nervous kalau harus say hi langsung saking kerennya mbak ini. kedua karena saya memang merasa perlu menggaris bawahi beberapa hal.

Kak Intan yang imut dan baik hatinya, remuk hati saya saat tau kakak menolak tawaran untuk berdemo karena tidak benar-benar tahu isu yang didemonstrasikan. Bukan karena Kak Intan menolak ikut demo dan ‘wedi wedake luntur’, tapi karena penolakan tersebut didasari atas ketidaktahuan atas isu yang dikawal dengan aksi demonstrasi.

Kalau Kak Intan tidak tahu, kenapa tidak mencari tahu? Bukannya sudah naluri persma untuk kepo? Tak seharusnya kita mendiamkan ketidaktahuan. Saya rasa akan jauh lebih bijak jika Kak Intan menolak tawaran berdemo tersebut dengan tegas karena kakak tidak sepakat dengan isu yang dibawa. Disertai rentetan omelan kenapa kakak tidak sepakat. Selain untuk terlihat lebih kece, hal ini juga mengantisipasi rasa menyesal yang datang di kemudian hari, karena baru tahu kalau isu yang diangkat sangat patut diperjuangkan.

Kalau suatu hari Kak Intan memutuskan perlu turun ke jalan, untuk urusan bedak kak, bawa saja dalam tas. Toh saya rasa kak intan membawa bedak setiap hari. Sesekali wedakan lagi di tengah longmarch atau mendengarkan orasi. Ora opo-opo.

Kalau Kak Intan dan Kak Adlun yang udah tos, merasa ngapain sih demo? Kan bisa bikin gerakan sosial yang lain? Perpustakaan terbuka misalnya? Ngajarin anak-anak nggak mampu misalnya? Atau ngadain nobar? Ya, saya sih sejauh ini sepakat asal kegiatan-kegiatan tersebut bukan menjadi subtitusi atas kegiatan demonstrasi. Kalau kakak-kakak menganggap gerakan tersebut dapat mensubtitusi demonstrasi, ini jelas sebuah kesemrawutan berpikir. Saya ndak tega pakai kata ‘cacat pikir’ karena Kak Intan dan Kak Adlun terlalu kece untuk kata itu.

Nah, kenapa demo tidak bisa disubtitusikan dengan kegiatan tersebut?

Pertama, usaha yang dimaksudkan Kak Intan dan Kak Adlun hanya mampu memberikan pencerdasan. Paling pol banter notok jedok, membentuk kesadaran. Oke. Pertanyaan saya kemudian, kalau sudah cerdas mau ngapain? Membibitkan kecerdasan ke orang lain biar makin banyak yang cerdas?

Hmmm.. mbak, mas, kenaken pemerentah! Pendidikan dan pengetahuan itu tanggung jawab negara lho. Dijamin konstitusi. Sampean kok legowo temen ngewangi pemerentah sing wis sampean bayar soko pajak. Tiap liter pertamax yang masuk ke Alphard mereka itu kita yang bayar, in the name of state. Kalau kegiatan yang kalian bangun ini bisa membangun suatu gerakan pencerdasan massal tanpa campur tangan pemerintah. Saya sih sarankan negara dibubarkan aja.

Ya tapi kan, kalau kesadaran masyarakat sudah terbentuk, akan ada saatnya generasi ini yang memimpin negara kita?

Ya Gusti, itu masih berapa tahun lagi? Nunggu hutan kita habis dibabat demi sawit? Nunggu setiap istri pejabat dapet arisan tas Luis Vuitton yang sampe ratusan juta itu? nunggu Indonesia terjual habis ke Amerika?

Kedua, ada problem-problem khusus yang saya rasa tidak bisa diselesaikan dengan pola gerakan lain selain turun ke jalan. Kak Intan, di Malang ada kasus 77 Buruh di PHK tanpa pesangon. Saya mau tahu, gerakan apa yang bisa kalian susun untuk memperjuangkan hak saudara-saudara kita ini? Bikin filmnya? Atau bikin perpustakaan untuk meningkatkan literasi buruh? Lha ya keburu anak-anak mereka dikeluarkan dari sekolah karena nggak bisa bayar! Atau kasus reklamasi misalnya, kawan-kawan ForBali yang concern di kasus reklamasi Teluk Benoa rutin mengadakan demo tiap bulan. Kenapa demo? Bukannya sudah ada film Kala Benoa buatan Dandhy Laksono yang tersohor itu?

Kak, pada kasus-kasus tertentu harus adanya kehadiran pemerintah untuk menjembatani konflik antara masyarakat sipil dan pemodal. Kasus-kasus seperti yang saya sebutkan tadi jelas nggak bisa selesai tanpa kehadiran pemerintah sebagai penengah. Kalau pemerintah tidak pro rakyat, ya kita berhak marah. Dan demo adalah akumulasi kemarahan kami, sebagai upaya kami mendorong suatu kebijakan yang berkeadilan sosial sebagaimana tertera di pacasila.

Kalau saya lebih memandang demonstrasi dan berbagai macam gerakan sosial yang Kak Intan contohkan sebagai elemen-elemen yang komplenter dibandingkan subtitusional. Tergantung bagaimana manajemen isu agar dapat diterima masyarakat. Kesadaran masyarakat harus diupayakan, sebagaimana kesadaran pemerintah perlu dipermalukan. Karena kita bicara pada suatu sistem yang makro: Negara. Dan nggak bisa dong mbak cantik, kalau Cuma masyarakatnya aja yang diberi pencerdasan tapi pemerintahnya nggak diberi kritikan. Nanti bertepuk sebelah tangan, sakit lho.

Kak Intan coba deh sekali-sekali ikut berunjuk rasa. Bukan buat sok-sokan revolusioner, tapi tinjau dulu kondisi lapangan. Apakah benar unjuk rasa itu sebagaimana yang dituduhkan Kak Intan sebagai muara atas sekian macam bentuk pergerakan yang tak kunjung membawa perubahan. Rasanya saya juga tak perlu mencantumkan demonstrasi apa saja yang mampu membawa perubahan sosial, banyak di mesin pencari buatan Amerika itu. Andai kakak mau baca dan tidak membiarkan ketidaktahuan bersarang dalam jiwamu yang unyu-unyu.

Terakhir pesan saya, banyak orator ganteng di tengah-tengah demo!! Meskipun sambil panas-panasan, tapi kalau mereka sudah pegang megaphone dan orasi… duh semriwing. Saya sampe rela jadi megaphonenya. Saya nggak tega aja kalau Kak Intan sampai nggak dapat pengalaman melihat mahluk-mahluk ciptaan Tuhan yang maha indah itu.

Eh, apakah saya sudah jadi sosok sok heroik seperti yang dibilang Kak Intan dan Kak Adlun? Aduh, maafkan. Jauh didalam lubuk hatiku, kalian tetap panutanque kok. Saya boleh ikut tos?