BAGIKAN

Kita boleh bilang kalau olah raga paling populer di dunia saat ini adalah sepak bola. Ia disukai oleh hampir tiga perempat manusia di muka bumi. Ia menjadi olah raga yang punya kompetisi sendiri di tingkat dunia—World Cup Football—yang animo keramaiannya jauh lebih tinggi ketimbang kejuaraan olimpiade. Ia menjadi alasan mengapa banyak orang rela berjejalan di tribun stadion sambil berteriak-teriak dan berbagi bau keringat.

Meski demikian, sepopuler-populernya sepak bola, ia tak akan pernah bisa mencapai derajat yang sama dengan olah raga memanah. Olah raga ini tak perlu 22 orang pemain, tak perlu wasit dan hakim garis, tak perlu lapangan yang luas, tak perlu waktu bermain sampai 90 menit, dan tak perlu bertruk-truk supporter untuk sekadar membuktikan keunggulannya dibanding sepak bola. Lantas apa? Memanah adalah olahraga yang dianjurkan nabi Muhammad SAW, sedang sepak bola tidak.

“Sudah badan sehat, dapat pahala pula.”

Begitu alasan akhiakhi dan ukhtiukhti yang dalam beberapa minggu terakhir sering terlihat berlatih memanah di belakang masjid kampus. Yang mengesankan, jumlah akhi dan ukhti ini terus bertambah. Sepertinya tak menutup kemungkinan akan kemunculan gerakan “Kampus Memanah”, mengikuti gerakan-gerakan yang sudah muncul sebelumnya seperti “Kampus Bersholawat” dan “Kampus Mengaji”. Subhanallah, tak sabar saya ingin segera berpartisipasi.

Selain di kampus saya, olahraga ini ternyata juga sudah hits di kalangan aktivis dakwah kampus seantero negeri. Coba saja Anda cari foto-foto di Instagram dengan tagar #memanahitusunah atau #marimembumisunahkanmemanah. Mulai dari ukhti-ukhti bercadar hingga akhi-akhi berkuda memanggul busur bakal menghiasi feed pencarian Anda.

Bahkan, tak hanya di kampus-kampus olahraga ini jadi idola. Beberapa waktu lalu, sempat viral sebuah video seorang ustaz sekaliber nasional yang berlatih memanah di dalam masjid. Sungguh, antusiasme warganet atas olahraga anjuran rasul ini memang luar biasa: Banyak yang memuji, tapi lebih banyak lagi yang menghujat.

Aneh memang. Padahal, si ustadz kan punya pedoman yang jelas. Di Quran terdapat surat Al-Anfal: 60 yang isinya seruan agar orang-orang menggunakan segala kekuatan yang dimiliki untuk menghadapi musuh. Bahkan, ada hadis yang menegaskan makna surat itu dengan menjelaskan konteks atas makna kata “kekuatan” yang dimaksud.

“Ketahuilah bahwa sesungguhnya yang dimaksud dengan kekuatan itu adalah memanah.” Rasul mengulangi kalimat ini sebanyak tiga kali untuk menafsirkan Al-Anfal: 60.

Masih ada lagi hadist lain yang juga berisi tentang keutamaan memanah. Seperti yang diriwayatkan Uqbah bin Amir terkait anak panah yang bisa mengantarkan pemanahnya masuk surga dan hadis yang diriwayatkan Ibnu Majah yang isinya kerugian bagi pemanah yang tidak memanfaatkan kemampuannya.

Perkara latihan memanah itu patut atau tidak dilakukan di dalam masjid, tentu lain soal. Sudah sepantasnya si ustadz sendiri yang menjelaskan. Yang pasti, dari Quran dan hadis yang saya sebut di atas, tidak bisa tidak kita menerima bahwa memanah ini punya dasar yang jelas.

Namun demikian, benarkah memanah punya kekuatan sedahsyat itu? Maksud saya, benarkah dengan rajin memanah, ada jaminan kalau pundi-pundi amal kita akan terus bertambah? Atas dasar apa dan konteks seperti apa rasul menganjurkan olah raga ini?

Kita bisa melacak kalau di zaman rasul, panah adalah satu dari sekian senjata paling ampuh untuk berperang. Maka pantas kalau rasul kesal ketika mengetahui seseorang yang bisa memanah, namun tak mau memanfaatkan kemampuannya. Sedang sekarang, di zaman yang setiap harinya dijejali dengan postingan hoax, mulai dari Erdogan yang katanya menemani Habib Rizieq ngopi-ngopi di tempat persembunyiannya, salju turun di Jakarta, hingga Gadjah Mada yang diproklamirkan muslim, tentu umat rasul tak butuh sekadar busur dan panah.

Rasul pasti akan kesal jika tahu umatnya yang kekinian bisa membaca segala macam artikel yang ada di internet, tapi malah share-share tulisan dari situs-situs yang tak tepercaya. Lebih-lebih, saat ini hampir semua hal dibikin menarik dan populis dengan balutan agama. Pilkada coba dimenangkan dengan permainan sentimen agama, kasus korupsi hendak disangkutkan dengan kriminalisasi ulama, dan banyak tindakan-tindakan kriminal serta amoral yang didasari iming-iming surga.

Dengan berpedoman bahwa menjalankan agama secara tekstual dan kaku adalah sebuah kesesatan, tentu umat rasul butuh mewacanakan ulang kesunahan olah raga memanah. Lagi pula, terlepas dari itu, memang siapa yang benar-benar bisa dikategorikan “musuh yang patut dipanah” saat ini?

Sophocles, seorang penulis drama Yunani Kuno pernah menulis, “Tidak ada musuh yang lebih buruk daripada nasihat buruk.” Dan kau tahu, kawan, ketika nasihat-nasihat buruk selalu muncul di beranda sosial mediamu setiap hari, tak perlu lagi bersusah-payah menentukan siapa musuh kita sebenarnya. Dengan memerangi atau setidaknya menghindarkan diri dari percaya pada hoax, sangat mungkin menjadi satu tawaran sunah rasul yang baru. Sunah rasul yang kontekstual.

Cuman, kalau motif Anda berlatih memanah didasari kepercayaan bahwa olahraga ini efektif digunakan untuk melawan negara-negara kapitalis yang sudah siap dengan senjata canggih bikinan Kalashnikov Concern dan UAC-nya Rusia atau General Dynamics-nya Amerika atau Krauss-Maffei-nya Jerman atau malah Pindad-nya Indonesia, mungkin batok kepala Anda sudah korsleting oleh imaji super hero ala Green Arrow bikinan DC Comics. Atau kalau tidak, mungkin ada benih-benih kepercayaan di otak Anda kalau-kalau Arjuna dalam lakon Pandawa hobi jemparingan karena mengikuti sunah nabi.