BAGIKAN

“Kamu Milea ya? Boleh nggak aku ramal. Nanti kita akan bertemu di kantin,” (Dia Adalah Dilanku 1990)

Siapa bilang bahwa yang bisa meramal hanya Dilan? Ibu rektor Universitas Hasanuddin yang manis itu juga pernah meramal saya dan para mahasiswa (berlagak) polos lainnya. “Di tempat ini, paling cepat tiga tahun mendatang kita akan bertemu lagi. Saat itu klean akan pakai toga,” ucapnya yang disambut riuh tepuk tangan kami para mahasiswa baru. Saat itu, saya diterima di Jurusan Perikanan bersama 54 kawan lainnya.

Ramalan itu terbukti. Delapan dari lima puluh empat kawan saya berhasil wisuda dengan masa studi tiga tahun lima bulan. Hampir sama dengan waktu yang dibutuhkan seorang siswa sekolah menengah untuk lulus. Bahkan, persis dengan rerata vonis terdakwa korupsi di pengadilan Tipikor Jakarta. Sungguh prestasi luar biasa!

Delapan kawan saya melenggang ke podium auditorium. Mereka tersenyum bahagia dan bersalaman dengan rektor yang pernah menyambut kami tiga tahun lalu. Saat kami masih berpakaian hitam putih, berkepala plontos dan berwajah polos.

Betapa bahagianya memakai toga dan mendapat ijazah. Mereka tidak perlu lagi bergelut dengan absen, tugas, praktikum dan laporan. Meskipun dalam pengerjaannya, terkadang dibantu dosen virtual yang serba tahu segalanya. Bahkan pengetahuannya melebihi dosen di kelas kami sehingga tugas aman dan nilai sentosa.

Setelah prosesi wisuda, tak lupa mereka berfoto dengan bucket bunga atau boneka. Ada juga yang memakai selempang bertuliskan nama, lengkap dengan gelarnya. Semua itu sebagai pelengkap senyum bahagia bersama keluarga. Sedang kami yang masih mahasiswa ini hanya tersenyum sambil berkata, “semoga berkah gelarnya.”

Satu bulan kemudian, beberapa dari mereka mulai sibuk kursus bahasa Inggris sambil membidik beasiswa ke luar negeri. Ada pula yang mulai mengurus berkas surat keterangan kelakuan baik (SKKB) ─yang sekarang berubah menjadi surat keterangan catatan kepolisian (SKCK), fotokopi ini itu untuk syarat lamaran kerja di sana sini.

Mereka yang menyandang gelar sarjana perikanan itu harus mengail di kolam orang lain. Melamar sebagai administrator perusahaan kredit atau bagian pemasaran perusahaan sabun. Toh meski akrab dan ahli dalam ilmu budidaya atau pengolahan ikan tidak melarang seorang sarjana perikanan bekerja di bank kan? Sebuah usaha yang gigih. Salut!

Saya paham itu pilihan realistis. Kerja apa saja yang penting kebutuhan perut terjawab dan tidak mengemis lagi pada orang tua. Namun melihat kawan-kawan yang memancing di kolam orang lain, sepintas memunculkan ragam pertanyaan mengganjal. Untuk apa kita belajar ikhtiologi, limnologi dan biologi perikanan? Untuk apa sibuk di laboratorium terus membuat laporan dan asistensi? Juga bagaimana dengan ikan, nelayan dan masyarakat pesisir yang selama ini kita pelajari bersama?

Setelah berpikir sejenak saya memiliki kesimpulan bahwa dua pertanyaan pertama mempunyai satu jawaban: tentu agar bisa sarjana! Hahahaha. Lantas bagaimana dengan pertanyaan terakhir? Saya sendiri tak tahu jawabannya. Saya kira hanya para sarjana cepat saji yang dapat menjawabnya. Bukan kerang ajaib atau kekuatan bulan ala sailormoon.

Ya, sarjana cepat saji. Kiranya istilah itu yang cocok buat klean. Layaknya makanan di gerai franchise, mereka ini bagai burger atau kentang goreng yang bisa dengan cepat disajikan ke pembeli. Sesuai resep ala ibu rektor kampus merah. “IPK dan masa studi yang pendek ditambah prestasi ekstrakulikuler yang baik pula, merupakan perpaduan proses pembelajaran yang optimum untuk membangun kapasitas mahasiswa,” katanya.

Sedang kami, mahasiswa yang sepertinya tidak akan lulus secara kilat, masih membumbui diri dengan rempah dan santan kelapa. Sambil berdoa semoga santan dan rempah itu meresap masuk ke sumsum tulang dan daging kami. Sehingga menjadikan kami rendang yang lezat dilahap. Bukankah bumbu yang meresap ke dalam daging lebih nikmat daripada burger yang dibuat secara kilat?

Mungkin pasar dari dua komoditi ini memang sudah beda. Burger dibuat untuk mereka yang telah modern dan rendang untuk masyarakat tradisional. Bukankah masyarakat modern suka dengan hal-hal yang cepat dan praktis? Sedangkan masyarakat tradisional lebih suka menggunakan tenaga dan kemampuan diri sendiri, kan?

Tujuan tulisan ini bukan sebagai pledoi untuk menunda studi. Sebab biaya kuliah mahal bosquu. Maka, mau tidak mau, tetap resep ala rektorlah yang akan dipilih. Kemarin, 20 Maret 2018, 42,5% dari 1.140 wisudawan Universitas Hasanuddin lulus kurang dari 4 tahun di wisuda periode III tahun 2018 ini.

Jadi pesan saya menyitir adigum yang sudah terkenal; biaya kuliah mahal jendral! Jadi sarjana burger saja, kalau rendang mahal!