BAGIKAN

Oleh: M. Syarifuddin

Berbagai definisi muncul tentang mantan. Tentang bayang-bayang ilusi, penyakit flu, sampai penyomotan hadits —entah sohih atau maudu’. Meski sebenarnya tak perlu didefinisikan seorang mantan. Saya tidak paham dengan teori atau apapun. Saya hanya mencoba menulis dengan hati nurani yang dalam sedalam-dalamnya.

Bagaimana mendefinisikan sesuatu yang tidak dapat ditentukan perbedaannya. Semisal antara langit dan bumi masih dapat didefinisikan dengan perbedaannya. Mantan? Apakah lawannya calon mantan? Pacar? Bagaimana dengan mereka yang belum pacaran. Mereka butuh calon pacar, lalu pacar, baru klimaks menjadi mantan. Kan kasihan hidupnya. Sia-sia sekali habis waktu untuk menyabet predikat mantan.

Saya percaya dengan saling keterkaitan antara satu dengan lainnya mutlak ada. Semisal saya dengan ibu. Tak mungkin ada sosok saya yang keren tanpa ibu susah payah membuka lebar ke dua kakinya sambil bilang, “nak, kamu dulu yang lewat”. Atau lebih lanjut, ulah mantan yang sebabkan perih yang sering kalian eluhkan —para lelaki rapuh. Apa hubungannya? Pernahkah kalian —para lelaki rapuh— bertanya kondisi mereka? Jangan-jangan mereka sedang bercanda gurau dengan pacarnya yang baru (bukan maksud menyinggung yang (mungkin) merasa ditipu karena LDR).

Kalian —para lelaki rapuh— sudah gagal paham dengan hal ini. Hubungan anak dengan ibu wajar. Mantanmu dengan kamu? Tidak ada hubungan. Anggap saja saling tukar kado —tentunya dengan jarak yang puluhan kilometer, adalah tahap awal sebagai pegawai kantor pos. karena kalian dituntut untuk paham atas penulisan alamat tujuan, pengirim, berikut nomor telpon yang dapat dihubungi.

Coba saja kalian pahami. Mantan tidak berdiri sendiri sebagai orang yang pernah ngisi perasaan kalian. Dia ngisi hati kalian itu atas perasaan. Sekadar memindah tulisan yang ada di dinding sekret, “tidak ada sesuatu di luar teks. Segalanya adalah teks,” Nietszche.

Bayangkan teks adalah mantan kalian. Betapa hidupmu penuh dengan mantan? Seharusnya tak perlu menyesal karena itu adalah bagian dari kehidupan. Bahkan di satu sisi menjadi sesuatu yang dapat dibanggakan. “Dulu bapak pernah pacaran dengan anak Banjarmasin, kota Seribu Sungai itu lo,” cerita pada anak-anak.

Penyebab kalian rapuh mungkin kerena mantan mencintai kalian karena terpengaruh beberapa sebab. Kegantengan (jika ada), sekadar penambah track record untuk CV mantan, atau hanya ingin nulis buku yang bisa best seller dengan kisahnya sendiri. berpacaran selama empat tahun berakhir di kantor pos dengan air mata yang kalian tumpahkan untuk mantan.

Mantan adalah mantan. “Mari berjejaring dan saling menguatkan”* dari barisan para mantan.

*) tulisan di dinding sekret