BERBAGI

Status mahasiswa kini makin banyak yang minat. Lihat saja setiap kali ada penerimaan mahasiswa baru, per tahunnya pasti bertambah. Itu fakta yang sungguh menyejukkan bagi para pengamat pendidikan di negeri ini. Juga begitu menyejukkan bagi kakak-kakak aktivis yang betah lama-lama di kampus. Macam Gus Syarif yang terliat makin ketje semenjak jambangnya makin panjang. Guweh ngefans berat sama blio.

Dari fakta itu, ruang-ruang perkuliahan bakal makin rame oleh dedek-dedek emesh baru. Mereka yang sudah khatam soal bagaimana cara memutihkan wajah, mengecilkan perut, dan membesarkan angan-angannya, bakal mudah sekali terlihat di kampus. Tak heran, kakak-kakak aktivis bakal makin betah, dan pastinya tak hiraukan SP-SP yang tak punya kekuatan hukum syar’i itu.

Saya pun kalau tak terlanjur lulus bakal berlama-lama di sana, habitat akademik dengan habitus yang makin religius itu. Siapa coba yang mau meninggalkan tempat di mana etika, moral hingga intelektual tercatat dengan rapi. Dengan pemuda-pemuda yang semakin manut dan nunut. Saya membayangkan negeri ini sepuluh tahun ke depan bakal benar-benar jadi negeri khilafah yang syar’iah.

Jujur saya tidak benar-benar tahu apa yang terjadi di dalam sana sekarang. Tapi dengan fakta seperti tadi, tentunya semakin banyak orang yang bakal mengamalkan tri dharma perguruan tinggi yang fenomenal itu. Pendidikan semakin maju, penelitian semakin tepat ke dalam sendi-sendi kehidupan masyarakat, dan tentunya pengabdian kepada masyarakat bakal semakin masif. Ah ini sebuah logika matematika sederhana yang juga mudah dikuasai sama anak-anak SD sekalipun.

Tapi beberapa hari lalu Gus Syarif tiba-tiba mention. “Nulis di Siksa Kampus dong kak,” katanya. Saya mikir berat kala itu. Kampus sudah menjadi bagian dari kenangan terindah. Ada kenangan manis dan juga pahit. Dengan menulis di Siksa Kampus, saya berarti harus membongkar lagi kenangan-kenangan itu. Duh, ini berat Gus Syarif. Sungguh berat. Tapi mau gimana lagi, Gus Syarif yang langsung turun tangan. Masa saya gak menghormati seorang Don Juan kampus ini. Bakal terkutuk saya.

Kenangan-kenangan pahit dan manis segera menjejal lagi ke kesadaran saya. Ada gitar dari mantan muncul, nasi goreng, bakso, dan berbagai makanan berubah jadi rasa mantan. Ahhhh, sampai keringat pun bau mantan. Duuuhhhhkaahhhh, saya harus kuat untuk menyelesaikan tulisan ini. Kuatkan saya ya Allah.

Baiklah, saya pikir Siksa Kampus bakal berhenti. Setelah perjuangannya memberikan ruang buat kakak-kakak yang selalu resah dan gelisah tentang hidup ini berhasil. Siskam jadi obat menyalurkan kegelisahan itu, kemudian mereka bakal rela melepas kemahasiswaannya. Ternyata saya salah. Siksa Kampus masih terus eksis dengan punggawa yang masih sama. Warbiyasah!

Ini tandanya kampus tidak seperti logika matematika yang saya bangun itu. Masih saja kakak-kakak aktivis betah menggurat keresahannya lewat Siksa Kampus. Pasti ada algoritma lain yang terformulasi dalam dinamika pendidikan di dalam kampus. Tapi itu bukan ranah saya memformulasikannya. Saya hanya akan bercerita tentang pos akademik, masa di mana kagak ada dedek-dedek emesh yang mudah dilihat dan dimodusi kawan.

Bayangkan saja, saat dulu kalian berkarya di kampus banyak yang memberikan apresiasi. Terutama dedek-dedek emesh berani teriak dan bertepuk tangan. Bahkan tidak sedikit yang mau berdiskusi panjang lebar sampai larut malam di warung kopi nan nyaman. Apalagi dengan tambahan sedikit tegukan yang bergiliran. Ah itu surga, kawan.

Di sini, kalian akan bertemu dengan orang-orang tua yang menuntutmu cepat dapat bayaran. Apalagi kalau dirimu masih tak punya pasangan. Tidak cukup dengan satu dua pertanyaan. Berhari-hari hidupmu pasti akan bertambah suram. Apalagi tiba-tiba kamu dapat kabar mantanmu sudah bertunangan (ini yang paling menyakitkan). Orang sekitar pun ikut-ikutan. Keluarga semoderat apapun, bakal ketularan karena menerima banyak omongan. Kecuali jika kamu sudah ada pekerjaan, punya rumah, dan istri idaman. Oooo Tuhaaaan!!!

Tapi saya tidak ingin menyalahkan keadaan. Banyak orang berpikir seperti itu karena berbagai alasan. Seperti halnya kenapa Gus Syarif tidak segera lulus dari kampus. Media yang makin masif dan mengajarkan konsumtif, iya. Pendidikan yang tidak berpihak pada kemanusiaan, juga. Aparat pemerintah yang masih saja korup, selalu. Perusahaan pengisap kekayaan sumber daya manusia dan sumber daya alam, tak tersentuh. Belum lagi konspirasi yang menjerat Gus Syarif. Mana bisa kita lawan itu dengan hanya mengeluh dan selalu mengenang mantan.

Memilih untuk lulus kuliah dan menjaga idealisme setelah itu seperti halnya menjomblo. Akan banyak sekali kecaman, nyinyiran, hingga umpatan. Namun, semua itu adalah proses yang harus dilewati. Saya yakin orang-orang macam junjungan kita, Gus Syarif akan terus melawan. Seperti mas Widji Thukul dengan gelora perlawanannya itu, “Kita akan selalu ada dan berlipat ganda.” Toh tidak ada yang lebih manis dari pesan maaf mantan saat lebaran, atau lebih pahit dari tidak terbalasnya kata maaf kita.

Tapi selalu ada pengecualian untuk tetap menjaga status mahasiswa. Habitus akademik membentuk kelas sosial baru, tak mau dibilang borjuis dan enggan disebut proletar. Karena mereka pernah dua kali meruntuhkan rezim yang berkuasa. Semoga untuk selanjutnya bukan karena politik pesanan. Apalagi ikut arus konspirasi khilafah syar’iah yang sebenarnya tunduk pada syahwat orang-orang tak berakal.