BAGIKAN

Semenjak film 5 cm rilis di bioskop beberapa waktu lalu, Malang semakin jadi rujukan banyak orang. Kali ini bukan tentang baksonya yang masyhur itu, tapi banyak orang yang rela antri daftar via online demi mencicipi keindahan semeru.

Suasana itu bisa dilihat kala akhir pekan di Stasiun Malang Kota Baru. Puluhan orang turun dari kereta sambil bawa tas carrier-nya. Mereka mengaku pecinta alam yang gemas lihat Pevita Pearce duduk manis di tepian Ranu Kumbolo pada film 5 cm.

Malang bukan hanya Semeru, tapi punya kawasan menarik seperti Jalan Soekarno Hatta (Soehat). Saya mungkin bisa jadi saksi dimana jalanan itu dulunya sepi, sekarang jadi macetnya minta ampun semenjak banyak gerai kuliner dibangun. Kawasan itu menjadi tempat paling populer di Malang menyusul kawasan Rajajowas (Sawojajar), Rombengan Malam (Roma), dan Dinoyo.

Ribuan orang pernah membuat janji di Soehat, untuk sekedar kopi darat atau bercanda ria. Kawasan itu memang memiliki sisi romatisme yang tinggi dibandingkan kawasan lainnya. Seperti saya misalnya, suatu kali saya pernah dihubungi oleh seorang teman perempuan hanya untuk sekedar menghabiskan malam di atas jembatan Soehat. Sebut saja namanya Retno. Malam itu dia bercerita, bahwa sore harinya baru saja diputus pacarnya di bundaran Universitas Brawijaya. Kabarnya, pacarnya yang tak seberapa tampan itu sekarang pacaran sama sahabatnya sendiri.

Kami menghabiskan malam hingga shubuh, hanya ditemani bapak tua penjual tahu petis yang jualan disitu. Suara pengamen yang sumbang mengantarkan kami berdua dalam cerita hangat masa lalu. Pertanyaannya yang saya terima waktu itu masih sama. “Opo’o areke tuego megat ayas? Luoro lop ayas! Mbokne ancuk!.” (Kenapa dia tega mutusin saya? Sakit Sekali saya! Ibunya Payah!)

Malang, Bahasa Walikan, dan Kegilaan Aremania

“Ayas kudu yaopo saiki sam? Mending dicekel silup timbang loro ati ngene iki,” lanjut Retno dalam SMS-nya pagi itu. (Saya harus gimana sekarang mas? Lebih baik ditangkap polisi daripada sakit hati begini).

“Wes ta sing penting kuliah umak lancar, aktivitas umak di Pers Mahasiswa gak ketam. Engko ngipok bareng ayas yo. Oyi! Tangames!,” balas saya. (Sudahlah yang penting kuliah kamu lancar, aktivitas kamu di Pers Mahasiswa tidak mati. Nanti ngopi bareng saya ya. Iya! Semangat!).

Begini cara kami bercakap setiap hari. Bahasa walikan menjadi bahasa khas kera (arek) Malang dimanapun itu. Logatnya-pun berbeda dengan Surabaya atau wilayah tetangga dekat Malang itu sendiri. Logat arek Malang sedikit nakal namun santun. Jika mengakhiri suatu pertanyaan pasti dibubuhi embel-embel ah? Wes nakam ah? (Sudah makan kah?).

Seperti pada sejarahnya bahasa ini menjadi bahasa isyarat arek Malang ketika melawan penjajah. Bahasa ini cukup bisa jadi alternatif untuk mengelabuhi musuh waktu itu. Namun saat ini, bahasa ini juga bisa dipakai untuk ngrasani (membicarakan) mahasiswa baru dari luar kota yang sok angkuh. Ini juga sebagai simbol pengenalan bahwa kami punya bahasa yang berbeda. Namun tidak semua kata bisa dibolak-balik, hanya beberapa saja seperti; Ngalam-Malang, Silup-polisi, ayas-saya, umak-kamu, ayahab ilakes– bahaya sekali, ewul lop-lapar pol, ngopi-ngipok, tidak-kadit, dan rudit-tidur.

Kalau ngomongin Malang, pasti tak pernah lepas dari Arema. Arema bukan hanya nama klub besar sepak bola Malang, tapi lebih dari itu Arema sudah menjadi semacam agama baru bagi arek Malang. “Arema yo arek Malang sam,” kata seorang kawan ketika ditanya apa itu Arema.

Tagline yang mereka buat sepertinya memang pantas. “Tidak kemana-mana Arema dimana-mana”. Dimanapun itu dan apapun itu Arema sudah menjadi semacam merk yang membuat candu banyak orang. Di Malang, kamu bakal menemukan bakso dengan merk Arema, tambal ban, warung kopi, bengkel motor, sego pecel, hingga permak jeans berlabel Arema. Mereka bukan satu kongsi dagang, tapi ini bisa saya katakan sebagai suatu bentuk kegilaan. Kegilaan yang sudah memasuki sendi-sendi perekonomian di Malang. Coba saja, atmosfir yang kamu rasakan jika pertama kali masuk Malang yaitu angkotnya yang semua berwarna biru. Persis dengan atribut kebanggan Arema.

Sudah terlalu sering banyak orang menyebut bahwa suporter Arema yakni Aremania selalu kompak dan gahar di Stadion Kanjuruhan. Di luar itu arek Malang yang tidak terlalu fanatik dengan bola juga lebih gahar lagi. Sepertinya hanya ada di Malang para jihadis ISIS berhasil di pukul mundur oleh komikus kawakan mas Aji Prasetyo dan kawan-kawan. Mereka, para jemaah ISIS yang akan menggelar baiat akbar harus batal karena kekompakan warganya untuk melawan.

Belum lagi soal historis, Malang punya segudang cerita tentang Topeng Malangan hingga pernah jadi barometer musik rock Indonesia. Sejak jaman dahulu arek-arek Malang memiliki sepahaman yang sama tentang musik, yaitu rock. Inilah yang membuat mereka terlihat lebih nakal. Sebut saja Silvia Sartjhe, Abadi Soesman, Totok Tewel, Ian Antono, dan Mickey Jaguar pernah menghiasi belantika musik rock tanah air. Semua band musik rock nasional kalau belum pernah main di Malang pada era 1970-an belum pantas disebut band rock.

Mungkin hanya Malang yang memiliki kampus satu komplek macam perumahan. Kamu bakal bisa jalan kaki dari UM ke Brawijaya, begitu juga ke UIN. Tak hanya itu kamu cukup bersepeda saja perlahan jika ingin mengunjungi kampus lainnya mengikuti trayek angkot AL, angkot favorit mahasiswa. Selain itu kamu bakal menemukan dengan mudah warung kopi yang hanya dihuni mahasiswa semester atas. Konsep semua warung di Malang hampir sama, yaitu setengah ruko dengan menu andalan kopi gres.

Selamat ulang tahun, sebentar lagi Kota Malang usianya sudah mencapai 101 tahun. Di kota ini, di setiap sudutnya ada banyak sekali kenangan saya bareng mantan. Di ujung Jalan Ijen adalah tempat kumpul favorit saya dan teman-teman ketika tanggal muda mulai datang. Belum lagi bundaran tugu Balai Kota menjadi tempat pilihan saya menyendiri sambil makan kripik tempe ketika skripsi tak juga kelar. Seperti halnya Retno, mungkin di Malang adalah tempat dimana ribuan mahasiswa pernah mengalami betapa sakitnya ditikung sahabat sendiri.

Malang lagi dan lagi adalah sebuah kebersamaan bahwa kota ini menyimpan sejuta kenangan. Meskipun orangnya sedikit nakal tapi santun dan berbudaya. Watak religiusnya tersimpan dibalik sifatnya yang nakal. Tidak perlu sungkan mampir di kota ini, meskipun motor kamu bernopol L. []

BAGIKAN
Artikel sebelumyaCerita dan Saran untuk PD II FSUJ
Artikel berikutnyaDoraemon
Sedikit ke kiri